Kemboja Kelopak Empat (Cerpen)

10 Nov
Kemboja Kelopak Empat
Oleh: Surya Prasetya

dimuat di Femina 25 April 2015

IMG_20150424_233034 (1)

Pada kemboja kelopak genap, ada rahasia yang tak terucap, ada doa yang terus dipanjat, ada harapan yang digenggam erat.
Jadi seperti ini rasanya dirajah. Membiarkan jarum menari-nari di kulit dan sesekali mengoyak daging. Lima menit pertama terasa perih dan panas. Menit-menit berikutnya tetap saja perih dan panas. Sudah lama aku ingin menato tulisan ini di dada kiriku. Membuatnya tercetak abadi, dekat dengan jantungku.
Sudah siap? Begitu tanya Wandy sambil tersenyum lebar, seniman tato di Jogja yang selama tiga bulan ini selalu kusambangi studionya. Butuh tiga bulan untuk membuatnya menjadi seperti teman akrab hingga bisa kupercayakan kulitku dijadikan kanvasnya. Bukannya aku ragu dengan desain tato yang kuinginkan, aku mantap, semantap hati ini memilih penghuninya. Aku hanya perlu merasa nyaman agar eksekusinya lancar dan hasilnya memuaskan.
“Sudah siap?” kali ini Wandy kembali mengulangi. Area bakal tato di dada kiri membuatku harus membuka kemejaku. Dadaku sudah dibersihkan dengan alkohol. Aku mengangguk. Aku sudah tak punya pilihan lain lagi. Kutarik napas panjang kemudian memejam. Nyaring bunyi mesin tato terngiang di telingaku. Kemudian kurasakan jarum itu berputar mengebor kulit dadaku. Aku hanya bisa mengumpat dalam hati. Ingin memaki tapi tidak bisa. Ingin memukul dan menendang tapi tak mungkin kulakukan.
Ini adalah salah satu dari daftar apa yang harus aku lakukan sebelum mati. Satu jam perjalananku dari Hongkong sampai ke Macau dengan menggunakan kapal ferry Turbo Jet. Tujuanku adalah bangunan tertinggi di Macau, Macau Tower. Jantungku berdetak kencang ketika lift mulai naik. Semakin tinggi semakin kencang degupnya. Hingga akhirnya aku berdiri di lantai ke-61, puncak tertinggi. Debar di dada itu kemudian berubah menjadi cemas dan ketakutan ketika kemudian tali-tali pengaman itu terpasang di tubuhku. Terlambat untuk kembali. Aku harus melangkah ke depan. Berat. Kedua kakiku membatu. Badanku terasa dingin. Napasku memburu seolah baru berlari sprint. Yang kulihat hanya titik-titik kecil jauh di bawah sana yang kemudian kabur. Konsentrasiku buyar. Kurentangkan kedua tangan. Aku tak punya pilihan lain.
AAAKKK..
Aku berteriak sekencang-kencangnya, seperti teriakan terakhir yang tersisa. Aku menjatuhkan diri. Tak sampai lima detik tubuhku sudah sampai di bawah. Tubuhku terpental-pental. Kemudian menggantung lemas pada seutas tali besar itu. Aku masih hidup. Aku baru saja melompat dari bungee jumping setinggi 233 meter, tertinggi kedua di dunia. Dan aku belum mati.
Ujian ketinggian ternyata tidaklah seberapa dibanding ujian pertama. Tadinya kupikir asal punya alat-alat menyelam semuanya akan beres. Tinggal pakai kemudian menceburkan diri di laut. Tak perlu keahlian berenang karena yang dibutuhkan adalah tenggelam. Tapi ternyata tidak semudah yang dibayangkan.
Butuh waktu berbulan-bullan hingga akhirnya aku mendapatkan lisensi menyelam. Entah sudah berapa kali aku hampir mati tenggelam di kolam sedalam 7 meter karena tak mampu mengatasi kepanikan saat latihan.
Desember selalu seperti ini. Hujan deras hampir sepanjang hari. Desember gede-gedene sumber, begitu katamu dulu. Tak heran hujan selalu lebat di bulan kedua belas ini. Namun kali ini bunyi derasnya hujan tak mampu mengalahkan bisingnya jarum tato yang berputar.
Aku mencoba mengalihkan pikiranku dari rasa sakit yang kurasa. Benakku terbang ke masa kecil di bulan Desember yang selalu basah. Tanah yang coklat. Sangat coklat. Basah tapi tidak becek. Pada tanah itu tercetak tapak-tapak. Jejak kaki kecil tanpa alas kaki, diikuti jejak sandal jepit yang juga kecil di sekitar tiang lampu jalan raya.
Perceraian orang tua yang membuatku terdampar di tanah coklat itu. Di desa itu, mama menitipkanku pada kakek nenek yang tinggal tak jauh dari rumahmu.
“Tidak usah takut. Pegangnya dari atas. Tidak akan menggigit.”
Hati-hati kupegang serangga itu. Aku takut menyentuh kakinya yang berduri. Sementara kamu malah membiarkannya merayap pelan di telapak tanganmu. Aku merinding. Musim penghujan seperti ini serangga sebesar ibu jari itu banyak bermunculan. Lepidiota stigma nama latinnya, ampal kamu menyebutnya. Dari larva di dalam tanah berubah menjadi serangga bersayap keras dengan bentuk muka yang agak menyeramkan. Ampal Kebo, kaunamai serangga yang ada di telapak tanganku.
“Hitam legam, sama sepertiku.” Kau mengucapkannya dengan bangga seolah kulitmu yang gelap karena terbakar oleh matahari adalah sebuah pencapaian hidup. Sementara serangga yang bersayap putih yang kaunamai Ampal Kaji kauberikan padaku. Aku tak perlu bertanya, tapi sepertinya kamu sengaja memilihkan Ampal yang sama pucatnya dengan kulitku. Kita beradu balap dengan dua hewan itu layaknya karapan sapi di Madura. Sayangnya ampalku sama sepertiku, lambat. Ampal Kebomu yang menjadi juaranya.
“Pacaran teruuus..” teriak segerombolan bocah sambil melempari kita dengan bluluk, calon buah kelapa sebesar telur ayam. Kemudian kaukejar salah satunya. Kautumbangkan bocah itu di tanah. Kaupuntir kerah lehernya. Bocah itu pulang sambil menangis.
Mereka selalu seperti itu, mengolok-olokku yang selalu mengikutimu. Dari tempat setinggi empat meter itu kamu melompat ke kedung sungai. Tubuhmu masuk ke air kemudian hilang. Mataku berkeliling mencari-cari di mana kamu akan muncul. Aku takut kehilanganmu. Katanya cekungan sungai yang tenang itu sedalam lima meter. Aku percaya saja. Tak mau membuktikannya. Aku selalu seperti itu. Mengikutimu dan hanya mengikutimu. Kamu lompat dari ketinggian empat meter, kamu menyelam di kedalaman lima meter, sementara aku hanya melihatmu.
“Kono koe pasaran wae, ojo ning kene..” celutuk seorang bocah. Mereka tak pernah menerima keberadaanku. Aku hanya bisa melihat mereka mengejar layang-layang, memutar gasing, dan membunyikan mercon bambu. Kakiku terlalu lemah untuk berlari mengejar layang-layang. Tanganku tidak terampil untuk memutar gasing. Dan aku tak punya nyali untuk menyalakan api pada sumbu mercon bambu. Aku hanya diam mendengar ejekan mereka. Tangisku tertahan. Bantal yang basah di kamar tidur yang kemudian menjadi saksi bagaimana aku meratapi kelemahanku.
“Kenapa pohon kemboja di kuburan daunnya lebih sedikit dan bunganya lebih banyak daripada yang di tanam di halaman rumah?” suatu hari aku bertanya padamu ketika kita memasuki sebuah pemakaman untuk mencari ampal.
Kamu menggeleng sambil melempar senyum jenakamu. Senyum yang mengisyaratkan bahwa pemiliknya enggan memikirkan sesuatu yang rumit.
“Yang aku tahu, bunga kemboja itu cantik. Putih sepertimu.” Aku yakin pipiku sudah berubah memerah. Seperti bunga kamboja merah yang menjadi tanaman hias di halaman rumah.
“Kamboja kelopak empat..” katamu nyaris tak terdengar. Matamu awas memandangi segerombol bunga putih itu. Tanpa aba-aba, kau sudah memanjat dan memetik satu bunga. Begitu turun, kauberikan bunga itu untukku. Aku bingung. Aku tak tahu harus kuapakan dengan kemboja kelopak empat itu.
“Buatlah permohonan. Kemboja kelopak empat akan mengabulkan permintaanmu.”
“Aku tak tahu harus meminta apa?”
“Kamu bisa meminta agar bocah-bocah itu tidak lagi mengejekmu. Atau kamu bisa meminta agar diberi keberanian, untuk melompat, untuk menyelam. Agar kamu tak takut menyalakan mercon, tak tak takut pada jarum suntik. Apapun!” kau menyebutkan sebagian dari begitu banyak ketakutanku. “Pikirkan baik-baik, dan buatlah permohonan dalam hati!” lanjutmu.
Aku menurut. Kugenggam sekuntum kemboja putih. Kusematkan di dadaku. Mataku terpejam. Kubuat permohonan seperti yang kaupinta di dalam hatiku.
Ini sudah seminggu sejak kedatanganku ke studio Wandy. Waktunya untuk membuka plastik penutup tatoku. Selama seminggu aku harus menahan rasa gatal di dadaku. Pelan kaubantu membukanya. Sempurna. Seperti yang kuinginkan. Nama seseorang dengan latar kemboja kelopak empat telah terukir di dadaku. Namamu yang tertulis di sana. Seperti yang kubilang, aku mantap menuliskan nama itu abadi di kulit dadaku. Dekat dengan jantungku.
“Bocah-bocah yang dulu sering mengejekmu pasti tidak akan percaya. Kau berhasil melewati semua  ujian ini.”
Aku masih ingat betul hari itu, saat masih mengenakan seragam putih merah.  Aku harus lari kesana-kemari ketika petugas puskesmas datang ke sekolah. Kemudian seorang guru menangkapku dan memengang tanganku. Aku terus meronta. Kemudian kamu datang dan ikut memegang tanganku. Seketika aku tenang. Kurasakan jarum suntik menembus lenganku. Tapi aku bisa menahannya karena tatapan matamu yang meyakinkanku. Anak-anak sekelas mengejekku. Mereka tertawa karena ketakutanku.
“Ini semua karena kemboja kelopak empat.” katamu sambil tersenyum.
Aku mengangguk mengiyakan. Sesungguhnya aku tak terlalu peduli dengan orang-orang yang mengejekku karena ketakutan dan kelemahanku. Yang aku butuhkan hanya kamu selalu ada di sisiku, seperti halnya kamu yang telah menemaniku melompat setinggi 233 meter di Macau, menyelam sedalam lebih dari 10 meter di Raja Ampat, dan menato dadaku dengan tulisan namamu.
Satu hal yang tak pernah kuceritakan padamu. Pada kemboja kelopak empat itu aku tak pernah meminta untuk berani melompat, atau menyelam. Begitu juga aku tak pernah meminta untuk tidak takut pada jarum. Pada kemboja kelopak empat itu aku hanya punya satu permohonan, kau akan selalu ada di sisiku.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: