Ambilkan Bulan Bu (cerpen)

20 Aug

Ambilkan Bulan

Oleh: Surya Prasetya

 blue eyes doll

“Oh Amelia gadis cilik lincah nian. Tak pernah sedih riang selalu sepanjang hari. Oh Amelia gadis cilik ramah nian. Di mana-mana Amelia temannya banyak..(1)”

“Siapa Amelia?”

“Aku tidak tahu.”

“Aku tidak suka Amelia.”

“Kenapa kamu tidak suka Amelia?”

“Karena temannya banyak. Temanku cuma satu, kamu Kania.”

***

Gadis kecil itu bernama Kania. Seminggu yang lalu usianya genap lima tahun. Ada perayaan ulang tahun yang meriah di rumahnya. Balon dan pita warna-warni menghiasi ruang tamunya. Banyak anak sebayanya yang diundang. Mereka adalah anak-anak dari teman-teman ibunya. Untuk sejenak Kania merasakan kemeriahan.

Seminggu telah berlalu. Tak ada lagi sisa-sisa kemeriahan pesta di rumah itu. Semua kembali sepi. Hanya Marni yang masih sibuk membuka kado dengan hati-hati. Dia tidak ingin merusak kertas-kertas pembungkusnya yang cantik itu.

Semestinya saat ini Marni masih belajar di bangku SMP. Kesulitan ekonomi yang memaksanya untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga di keluarga Sugiarta. Selain memasak dan membersihkan rumah, Marni punya tugas untuk mengasuh putri bungsu dari keluarga itu.

Setahun sudah dia bekerja di rumah itu, belum pernah sekalipun Marni melihat wujud tuannya. Dia hanya tahu sosok Sugiarta dari foto keluarga yang menghiasi ruang tamu. Di foto itu Kania yang masih bayi digendong oleh Mutia, ibunya. Dua anak remaja berdiri di depan Mutia. Mereka adalah Alan dan Sania, kakak dari Kania. Saat ini Sania telah kuliah, sedangkan Alan masih duduk di bangku SMA.

Rasa penasaran yang membuat Marni bertanya pada nyonyanya mengenai keberadaan Sugiarta. Itu menjadi pertanyaan terakhirnya. Marni kapok mendapati Mutia meradang karena pertanyaan itu. Bagi Marni tidak ada yang lebih dingin daripada tatapan mata Mutia yang selalu membuat nyalinya ciut dan kedua lututnya terasa lemas. Seminggu yang lalu kesialan menimpa Marni. Sekali lagi dia harus melihat tatapan dingin itu.

“Potong kuenya. Potong kuenya. Potong kuenya sekarang juga. Sekarang juga. Sekarang juga..”

Bersamaan dengan kemeriahan tamu undangan itu bernyanyi, Kania dibantu ibunya memotong kue ulang tahun yang berukuran lebih besar dari tubuhnya.

“Ayo Kania potongan kue pertama mau diberikan untuk siapa? Sudah pasti untuk yang Kania sayang dong.” Mutia berujar dengan lembut.

Semua undangan menatap penuh harap. Mereka begitu yakin kalau potongan pertama itu akan Kania berikan untuk ibunya. Mutia pun bersiap-siap untuk menerimanya. Sayangnya semua tak sesuai dengan harapan. Kania berbalik, diulurkan cawan berisi potongan kue tersebut untuk Marni yang berdiri di belakang ibunya. Hati Marni berbunga-bunga menerima potongan kue itu. Dia sudah tidak sabar mencicipi kue tart pertama dalam hidupnya. Namun kebahagiaan itu hanya sebentar. Wajahnya pucat seketika melihat lirikan mata sinis dari majikan perempuannya yang rambutnya selalu disasak tinggi itu.

“Ah, Kania ini memang tidak jauh beda dengan Mamanya. Dia sangat welas asih kepada rakyat jelata seperti pembantu saya ini.” seru Mutia sambil tertawa. Tawanya terdengar palsu.

Tak ada yang lebih jujur daripada hati kanak-kanak. Kania tidaklah salah jika memberikan kue itu untuk Marni. Bagi Kania, Marni lah yang tulus menyayanginya. Marni yang selalu ada untuknya. Marni juga yang selalu menemaninya.

Sudah menjadi kebiasaan di rumah itu untuk sarapan bersama. Mutia dan anak-anaknya duduk dalam satu meja. Sayangnya tidak ada kebersamaan dalam sarapan pagi mereka. Mereka sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.

“Ma..” Kania memanggil ibunya. Ibunya tak menyahut. Bahkan memberi isyarat dengan meletakkan telunjuknya di bibir. Dia meminta anaknya untuk diam. Mutia kembali berbicara dengan salah satu teman lewat telepon genggamnya.

“Kak Sania..” Kania memanggil kakak perempuannya. Tak ada jawaban.

“Kak Alan..” Kania memanggil kakak laki-lakinya. Juga tidak ada jawaban.

Kedua kakaknya lebih peduli pada telepon genggamnya. Mereka berdua sibuk menyentuh dan menggeser-geser layarnya. Sesekali mereka tersenyum sendiri. Sesekali mereka tertawa. Di meja makan itu, Kania kesepian.

Setelah acara sarapan yang sepi itu, rumah itu tambah sepi lagi. Mutia akan pergi bersama ibu-ibu sebangsanya dan baru kembali ke rumah saat Kania sudah terlelap. Sania pamit untuk kuliah namun entah dia benar sampai ke kampus atau tidak. Seringkali dia pulang ke rumah menjelang pagi dalam keadaan mabuk. Lain lagi dengan Alan. Sepulang sekolah dia akan langsung mengurung diri dalam kamar. Baginya tak ada yang lebih penting dibandingkan koneksi internet. Bahkan dia sering lupa makan dan mandi kalau sudah berselancar di dunia maya maupun bermain game online.

Sejak seminggu yang lalu Kania tidak lagi merasa sepi. Dia memiliki teman baru yang rambutnya pirang dan selalu dikuncir dua. Matanya yang biru dan selalu berkedip-kedip tiap kali tubuhnya digoyang. Namanya Isabela. Dari kesemua kado ulang tahunnya, hanya boneka bermata biru itu yang diinginkannyakan sedangkan yang lain ia berikan untuk Marni. Sudah pasti Marni girang bukan main. Baru kali ini dia mendapatkan begitu banyak hadiah. Pita rambut warna-warni, mainan, dan buku bacaan bergambar menjadi miliknya.

Seperti malam-malam biasanya, sebelum tidur Marni akan memeriksa kamar Kania yang terletak di lantai dua itu. Dia memastikan jendela sudah terkunci. Dibetulkan letak selimut Kania. Sebelum mematikan lampu kamar, Marni sempat meletakkan boneka berambut pirang itu di sisi Kania, kemudian diciumnya kening bocah kecil itu layaknya adik sendiri. Marni baru keluar kamar setelah memastikan Kania sudah tidur.

Satu hal yang Marni tidak tahu. Kania memiliki rahasia. Kania tidak benar-benar tertidur. Dia hanya pura-pura terlelap. Dia menunggu Marni keluar kamar untuk berbagi cerita dengan teman barunya.

“Apa kamu sudah tidur Kania.”

“Aku belum tidur Isabela.” Kania bangkit kemudian duduk di depan bonekanya. Dielusnya rambut pirang Isabela.

“Lihat bulan itu! Indah sekali..” tangan mungil Isabela menunjuk ke arah jendela.

“Iya kamu benar. Bulan itu cantik sekali seperti bola. Aku jadi ingat lagu yang dinyanyikan Mbak Marni untukku. Apa kau mau mendengarnya Isabela?”

“Iya, nyanyikan untukku Kania!”

“Ambilkan bulan, Bu. Ambikan bulan, Bu. Untuk menerangi tidurku yang lelap di malam gelap. Di langit bulan benderang. Cahayanya sampai ke bintang. Ambilkan bulan, Bu. Ambillkan bulan, Bu. Untuk menerangi tidurku yang lelap di malam gelap.. (2)” Kania menyanyikan lagu itu sambil menggendong Isabela menuju tepian jendela.

“Tidakkah bulan itu indah?”

“Iya, bulan itu indah. Bulat seperti bola yang bercahaya.”

“Tidakkah kamu ingin memilikinya?”

“Iya, aku ingin memilikinya. Besok akan kuminta mama untuk mengambilkannya untukku.”

“Bukankah mama kamu selalu sibuk? Dia baru pulang saat kamu sudah tertidur.”

“Kalau begitu aku akan meminta Mbak Marni mengambilkannya. Dia baik. Pasti mau mengambilkannya untukku.”

“Kenapa harus besok? Kenapa tidak sekarang? Tidak setiap hari bulan begitu cantik, bagaimana kalau besok tidak bulat sempurna? Bagaimana kalau besok bulan sudah tidak indah? Kau harus mengambilnya sekarang Kania.”

“Tapi aku tidak tahu caranya..”

“Lihatlah bulan itu! Aangkat tanganmu! Bulan itu begitu dekat Kania. Kamu tinggal menggapainya. Kamu tinggal memetiknya. Lantas kamu simpan di saku baju tidurmu. Mudah sekali bukan?

***

Tidak seperti pagi biasanya. Hari ini tidak ada sarapan bersama. Hari ini tak ada yang sibuk dengan telepon genggamnya. Mereka saling pandang satu sama lain. Ada kebingungan di wajah Mutia, Sania, dan Alan. Di kamar Kania mereka saling bertanya-tanya. Di mana Kania?

Kania hilang.

Pagi tadi saat Marni hendak membangunkan Kania untuk mandi pagi, gadis kecil itu sudah tidak ada di ranjangnya. Dicarinya Kania hingga ke kolong tempat tidur, di balik lemari. Tetap saja Kania tak ditemukannya. Hanya ada Isabela, boneka berambut pirang itu duduk di tepian jendela yang terbuka. Seingat Marni, semalam dia telah menguncinya. Bagaimana mungkin pagi ini mendapati jendela itu sudah terbuka. Rasanya tidak mungkin kalau Kania yang membuka kunci itu sendiri. Jendela itu terlalu tinggi untuk ukuran tubuh Kania yang mungil. Dengan harap-harap cemas, Marni melongok dari jendela. Kemungkinan terburuk Kania telah terjatuh dari lantai dua. Ada rasa syukur karena tak ditemukannya tanda-tanda seorang jatuh dari sana. Namun tetap saja Kania hilang.

***

Hari berganti hari. Minggu berganti Minggu. Semua kembali seperti semula. Sarapan pagi yang sepi karena setiap orang sibuk dengan telepon genggamnya masing-masing. Sesekali mereka tersenyum. Sesekali mereka tertawa. Seolah tak ada sejarah Kania dalam keluarga mereka. Tak ada rasa kehilangan yang terpancar.

Kalau ditanya siapa yang paling kehilangan akan sosok Kania, tentu saja Marni lah orangnya. Dia tak punya lagi seseorang untuk disuapi dan dimandikan. Dia tak punya lagi seseorang untuk didengarkan celotehnya. Dia tak punya lagi seseorang yang dikecupnya sebelum tidur. Dia juga tak punya lagi seseorang untuk dinyanyikan lagu anak-anak.

Namun pada suatu malam Marni kembali bernyanyi.

“Nina bobok oh nina bobok. Kalau tidak bobok digiit nyamuk.. (3)” ditimang-timangnya boneka kesayangan majikannya itu. “Apa kamu sudah tidur Isabela.”

“Aku belum tidur Marni..”

nb. cerpen ini saya tulis tahun 2010 dengan beberapa bagian yang saya edit kembali

Keterangan:

  • Lagu O Amelia ciptaan A.T. Mahmud
  • Lagu Ambilkan Bulan Bu ciptaan A.T. Mahmud
  • Lagu Nina Bobo – ciptaan NN
Advertisements

One Response to “Ambilkan Bulan Bu (cerpen)”

  1. almaskaramina 25 January 2015 at 08:24 #

    ini maksudnya apa deeeeehhh 😐

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: