Panggilan Tak Dikenal (cerpen)

19 Aug

Panggilan Tak Dikenal

Oleh: Surya Prasetya

Hampir enam bulan aku bersembunyi di tempat ini. Di sebuah kamar sewa yang terletak di pinggiran kota, aku sekarang tinggal. Ruangannya kecil, hanya muat diisi kasur busa, lemari plastik, dan sepasang meja kursi. Aku memang tak butuh ruangan yang luas. Aku hanya butuh tempat untuk bersembunyi.

Bapak macam apa aku ini? Hampir setengah tahun meninggalkan anak dan istri. Irsyad, kamu sedang apa Nak? Aku masih ingat betul hari itu, saat aku harus berpamitan pada mereka.

“Pa, kalau pulang nanti bawain Irsyad mobil-mobilan yang bisa jalan sendiri ya.”

“Iya, Irsyad. Papa janji. Nanti Papa belikan mobil-mobilan yang paling bagus, tapi Irsyad nggak boleh nakal ya. Irsyad harus nurut sama mama.”

“Iya, Pa. Irsyad nggak nakal. Irsyad nggak akan bikin mama sedih.” Jawaban Irsyad terasa menohok bagiku. Bukan Irsyad yang membuat istriku sedih, melainkan aku. Aku tidak becus menjadi kepala rumah tangga.

Memang bukan keputusan sepihakku. Mira, istriku yang memintaku meninggalkan rumah untuk sementara. Dia tidak mau kalau harus sering-sering mendapatiku babak belur karena dihajar oleh orang suruhan bosku. Jangan sampai Irsyad melihat bapaknya jadi bulan-bulanan preman-preman itu.

Mira berharap, selama meninggalkan rumah, aku bisa sambil mencari uang untuk melunasi utangku. Rasanya tidak rela kalau dikatakan berutang. Seumur-umur aku tidak pernah utang untuk mencukupi hidup. Meskipun bukan termasuk keluarga yang berada, kami sudah bahagia dengan apa yang kami punya. Sayangnya nasib sial sedang menyambangiku. Aku dijebak. Aku dijadikan kambing hitam atas kerugian perusahaan. Mereka menuduhku menggelapkan uang sebesar enam puluh juta. Mereka merencanakannya dengan rapi sehingga semua bukti memberatkanku. Aku tak mampu membela diri.

Pilihannya hanya dua, kasus ini dibawa ke pengadilan atau aku mengembalikan uang. Kesempatan bebasku sangat kecil. Aku tak bisa membayangkan akan mendekam di penjara. Itu artinya aku akan menelantarkan keluargaku. Jalan satu-satunya aku akan mengambalikan uang itu.

Aku sudah menghubungi teman-temanku. Beberapa bisa memberikan pinjaman. Namun tetap saja belum terkumpul sebanyak yang kubutuhkan. Semua menjadi semakin sulit karena aku dipecat dari kantorku. Sudah ku masukkan lamaran ke beberapa perusahaan. Sampai sekarang belum ada panggilan. Sementara waktu ini aku menyambung hidup dengan bekerja serabutan di sebuah toko bahan-bahan bangunan.

 

***

Seperti biasanya, jam sepuluh malam aku tiba di kamar sewaku. Ingin rasanya segera membenamkan diri di atas kasur. Lelah setelah seharian bekerja kasar. Mengangkat-angkat semen, besi, dan bahan bangunan yang lain.

Beep beep beep

Baru kucoba memejamkan mata, telepon genggamku berbunyi. Sederet nomor yang tak kukenal berkedip-kedip di layarnya. Kudiamkan hingga mati sendiri. Aku bingung. Nomor siapa yang menelepon? Apakah Mira? Hanya istriku yang tahu nomor baruku. Sudah sebulan ini aku tidak menghubunginya. Aku malu karena belum bisa memberikan kabar gembira untuknya. Aku belum berhasil mengumpulkan uang seperti yang kujanjikan.

Beep beep beep

08112579xx

Calling

Lagi-lagi nomor itu mengubungiku. Aku cemas. Jangan-jangan orang suruhan bosku yang menelepon. Atau jangan-jangan telepon dari kepolisian gara-gara masalah utang itu. Setelah beberapa saat mengumpulkan nyali, kuterima panggilan itu.

“Redha..” orang di ujung telepon ini tahu namaku.

“Siapa ini?”

“Kamu tidak perlu tahu siapa aku! Kamu cukup mengikuti perintahku!” dia membentak.

“Siapa ini? Jangan main-main!” aku balas membentak.

“Aku tidak main-main! Aku tahu kamu sedang butuh uang. Aku bisa memberikan uang yang kau butuhkan. Enam puluh juta.”

“Dari mana kamu tahu?”

“Kamu tidak perlu tahu, yang penting aku bisa memberi uang itu, dengan satu syarat…”

Aku menunggu seseorang yang entah siapa ini meneruskan kalimatnya. Aku terdiam di antara kebingungan dan pengharapan. Mungkin seseorang yang tak kukenal ini memang bisa membantu menyelesaikan persoalanku.

“Kamu harus membunuh seseorang.”

“Gila! Kau pikir aku ini siapa? Pembunuh bayaran?” Kututup telepon. Kuhentikan percakapan bodoh dan gila ini.

Semalaman aku tidak bisa tidur karena memikirkan kejadian yang tadi kualami. Apakah hanya kerjaan orang iseng? Bagaimana orang itu bisa tahu tentang masalah pribadiku? Sedangkan orang yang tahu tentang uang enam puluh juta itu hanya Mira. Tidak mungkin istriku melakukan ini semua? Kalaupun tujuannya untuk bercanda, tetap saja susah diterima nalar. Terlalu kelewatan untuk sebuah lelucon.

***

Seperti malam sebelum-sebelumnya. Sesampainya di kamar aku hanya ingin segera terlelap. Seharian tadi sempat terpikirkan kejadian malam sebelumnya namun kerja berat yang kulakukan sehari ini membuatku tidak mau melakukan yang lain lagi selain tidur.

Beep beep beep

08112579xx

Calling

“Hentikan omong kosong ini!” Belum sempat dia bicara, aku sudah menghardiknya lebih dulu.

“Tenang Redha! Aku masih memberimu kesempatan. Kamu tinggal ikuti aturan mainnya, agar anak dan istrimu selamat..”

“Jangan ganggu keluargaku!” jantungku berdetak lebih cepat.

“Mereka aman, asal kamu mengikuti perintahku. Terima teleponku dan jangan coba-coba lapor polisi!” ancamnya.

“Tolong jangan ganggu..” belum sempat kuselesaikan kalimatku, telepon telah ditutupnya.

Ini bukan lelucon. Keluargaku dalam bahaya. Bodoh! Aku memang bodoh. Aku telah melibatkan keluargaku dalam masalah ini. Sekarang keselamatan anak dan istriku dalam bahaya. Apa yang harus aku lakukan? Lapor polisi? Ah, aku tidak mau ambil risiko. Nyawa istri dan anakku menjadi taruhannya. Mungkin aku hanya bisa menunggu orang tak dikenal itu menghubungiku lagi.

Aku menyesal. Aku gagal menjadi bapak yang baik. Aku gagal melindungi keluargaku. Aku telah mengecewakan mereka.

Apa Mira menyesal telah memilihku menjadi suaminya? Dia tak layak menanggung ini semua. Mungkin mertuaku benar, aku bukanlah laki-laki yang pantas untuk Mira. Dari awal mereka keberatan dengan pernikahan kami. Keputusan yang membuat Mira mengubur cita-citanya melanjutkan S2, dan impiannya menjadi jurnalis. Mira berasal dari keluarga berada, bisa saja orangtuanya membiayai kuliah S2. Keputusannya menikah denganku membuat terhentilah semua aliran dana dari keluarganya. Mira memilih konsekuensi itu.

Bagiku, tak ada seorang wanita pun yang bisa menandingi Mira. Dia sangat menghargaiku. Bahkan dalam permasalahan utang ini, tak sekalipun dia memaksaku untuk meminta bantuan pada orangtuanya. Dia tak mau harga diriku meluruh di depan ayah dan ibunya.

***

Berbeda dari dua malam sebelumnya, kali ini aku terjaga untuk menunggu telepon itu. Malam begitu hening. Sampai-sampai bisa kudengar tarikan napasku sendiri. Detak jam dinding menjadi nyaring terdengar. Berkali-kali kulihat telepon genggam. Berharap panggilan itu segera datang. Nyawa istri dan anakku bergantung pada panggilan dari nomer tak dikenal itu.

Beep beep beep

08112579xx

Calling

Akhirnya ada panggilan yang sudah sedari tadi kutunggu.

“Hallo..”

“Bagaimana? Kamu terima tawaranku?”

“Apa aku punya pilihan yang lain?”

Seseorang di ujung telepon tertawa sebelum kembali melanjutkan. “Kamu pintar Redha.”

“Bagaimana dengan keluargaku? Kau bisa jamin mereka selamat?”

“Tenang Redha. Dengar baik-baik..”

“Papaaa..” suara yang kukenal. Suara Irsyad, anakku.

“Irsyad, kamu baik-baik saja Nak? Kamu tidak apa-apa kan?” Jantungku berdetak lebih kencang. Aku tak bisa menahan emosiku.

“Keluargamu aman bersamaku, asal kauturuti perintahku.” Bukan suara Irsyad lagi yang kudengar.

“Baik..aku..akan..menuruti..permintaanmu..” sahutku terbata.

“Bagus, kuhubungi satu jam lagi. Akan kujelaskan prosedurnya.” Telepon dimatikan.

Satu jam yang dijanjikan adalah satu jam paling menggelisahkan dalam hidupku. Banyak hal yang tiba-tiba meminta ruang di kepala. Bayangan wajah anak dan istriku bergantian hadir. Apa reaksi mereka kalau tahu ayahnya sebentar lagi jadi pembunuh? Tidakkah mereka akan lebih kecewa padaku? Suara penelepon gelap yang tak kuketahui wujudnya pun terngiang di telingaku. Begitupun dengan bayangan samar seseorang yang entah siapa yang akan segera mati di tanganku juga hadir dalam pikiranku. Apa aku sanggup untuk membunuhnya? Bagaimana kalau dia melawan? Bagaimana kalau gagal?

Beep beep beep

08112579xx

Calling

Satu jam penantianku berakhir. Nomor tak dikenal itu memenuhi janjinya.

“Kamu tidak perlu cemas. Yang harus kamu bunuh adalah seorang wanita yang pantas untuk mati. Aku membencinya. Dia telah menyakiti kepercayaan orang yang kucintai. Wanita ini pelacur. Wanita jalang. Dunia pun tak akan kehilangan kalau sampai dia mati..” orang itu diam sejenak. Kudengar tarikan napas panjangnya sebelum akhirnya dia melanjutkan.

“Besok, pastikan kamu sudah berada di telepon umum Taman Selatan Batas Kota jam enam pagi.”

 

***

Setelah semalaman mencoba tidur dan tidak berhasil, pagi ini aku sudah berada di tempat yang diperintahkan. Kulirik jam tanganku. Tepat pukul enam. Sampai detik ini pun masih ada pertentangan di kepalaku. Sebisa mungkin kutepis keraguan ini. Keselamatan Mira dan Irsyad adalah prioritasku.

Beep beep beep

08112579xx

Calling

“Aku sudah melihatmu. Sekarang ambil bungkusan hitam yang ada di bawah telepon umum.” seseorang itu langsung memberi perintah begitu kuterima panggilannya. Suaranya kudengar melalui earphone di telingaku.

Kuedarkan pandangan ke sekeliling. Mencari tahu wujud seseorang yang sedang berbicara di telepon. Rencananya sempurna. Tak bisa kutemukan dia. Bahkan pemilihan taman ini pun tepat. Sepinya melebihi kuburan.

“Tunggu apa lagi? Ambil bungkusan itu dan ambil isinya!” Aku mengikuti semua perintahnya. Kubuka bungkusan itu. Pistol. Tanganku gemetar. Ini kali pertama aku menggenggam pistol. Kusembunyikan di balik jaketku.

“Sekarang berjalanlah ke arah barat sampai di pohon flamboyan. Kamu akan melihat wanita berbaju putih itu duduk di bangku taman. Tepat pukul tujuh, arahkan pistol itu tepat di kepalanya. Kamu tarik pelatuknya. Tepat pukul tujuh.” Kuikuti semua perintah yang kudengar.

Waktunya hampir tiba. Kupastikan lagi sekelilingku. Semuanya aman. Di depan sana, wanita berbaju putih itu duduk membelakangiku. Kuarahkan pistol ke kepalanya. Berat. Tanganku lemas. Pistol sekecil ini terasa seperti puluhan kilogram di tanganku. Aku berusaha mati-matian untuk membidik sasaranku. Tepat pukul tujuh.

Doorrrr

Wanita itu tersungkur. Aku berlari sekuat tenaga. Tanpa pernah menoleh ke belakang. Dengan napas yang menderu dan detak jantung yang kencang berdetak, kupacu sepeda motorku sejauh mungkin. Aku berhenti begitu sampai di tempat yang kurasa aman. Kuambil telepon genggam di saku. Aku akan menagih janji. Sebuah pesan diterima dari nomor tak dikenal itu, terikirim 06.59.

From: 08112579xx

Sent 06.59

Mas Redha, aku minta maaf. Aku terpaksa melayani napsu bejat bosmu agar utang kita lunas. Aku hina dan tak layak hidup. Jaga Irsyad baik-baik. Aku mencintaimu. MIRA

 

 

cerpen ini saya tulis sekitar 2009 (awal saya menekuni dunia menulis) untuk proyek iseng ebook SKETSA bersama teman-teman OOT Multiply

Advertisements

One Response to “Panggilan Tak Dikenal (cerpen)”

  1. almaskaramina 25 January 2015 at 08:29 #

    coba nomernya jangan 0811 deh, terlalu ribet ya nomor tak dikenal pakenya Halo 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: