Ratri Menari (cerpen)

23 May

Dimuat di Majalah Esquire, Mei 2014

Image

 

Gadis kecil itu bernama Ratri, usianya baru sembilan tahun. Sehelai kain kemben melingkari tubuhnya, membungkus dadanya yang masih rata. Luwes ia memainkan sampur yang mengikat pinggangnya, membuat roncean manik-manik di ujung selendang kecil itu berderai, bergoyang-goyang, berkerlipan keemasan. Ratri kecil mencuri perhatian di antara belasan gadis lain yang ada di pendopo itu.

Matanya berbinar ketika gurunya memintanya memberi contoh di depan. Gurunya bilang dia yang paling luwes  di antara teman-teman sekelompoknya.

Bangsal Kencana nama pendopo itu. Sebuah bangunan berbentuk joglo. Hanya beberapa buah tiang kayu besar yang menjadi penyangga atapnya.  Bangunan terbuka, tanpa dinding yang mengelilinginya.  Di bangsal inilah putra-putri keraton belajar menari.

Tadinya aku tidak mengerti mengapa putra-putri berdarah biru itu diwajibkan untuk belajar menari sejak usia mereka masih kanak-kanak. Namun ternyata menari tidaklah sekadar melakukan gerakan dengan iringan gending jawa. Ada pelajaran tentang olah tubuh di sana, interaksi dengan sesama, hingga kesabaran.

“Aku sangat beruntung berada di sini.” begitu yang selalu dikatakan Ratri kecil. Menari adalah dunianya. Menari adalah kecintaannya.

Tentu saja. Ratri merasa beruntung bisa memiliki kesempatan untuk belajar menari di Among Bekso Keraton ini. Ini semua karena dia tinggal di lingkungan keraton. Namun Ratri bukanlah seperti putra-putri keraton itu yang berdarah ningrat. Ibu dan bapaknya yang membuatnya merasakan kehidupan keraton. Ratri, anak semata wayang dari sepasang abdi dalem keraton di tanah Jawa.

Hari itu seusai latihan menari, Ratri tidak lekas pulang. Ia masih di sekitar halaman bangsal Kencana. Di bawah pohon sawo itu dia mengumpulkan buah sawo yang berjatuhan bersama seorang bocah laki-laki sebayanya.

“Mengapa kamu suka menari?”

“Saat menari, tubuh saya terasa ringan Den. Seolah tangan, dan kaki saya bisa bergerak sendiri. Saya seperti terbang.”

“Ah kamu berlebihan. Aku tidak suka menari.”

“Kenapa Raden tidak suka menari?”

“Menari itu hanya untuk anak perempuan. Sialnya ayah selalu memaksaku untuk belajar menari. Laki-laki itu lebih cocok berlatih jemparingan. Kamu tahu jemparingan?”

“Iya, bapak pernah mengajak saya melihat pertandingan jemparingan di lapangan Kemandungan saat Tingalan Dalem Mangayubagya.”

“Suatu hari nanti aku ingin bisa mengalahkan ayahku, mata panah milik ayahku selalu tepat mengenai sasarannya.”

Ratri mengangguk-angguk, mendengarkan bocah laki-laki itu bercerita. Tangannya sibuk memisahkan biji sawo dari buahnya. Sesekali ia mencicipi daging buahnya.

“Kelak, kalau saya sudah besar saya ingin menari di depan Kanjeng Gusti Raja. Saya ingin menari Bedaya.”

Namun sepertinya bocah laki-laki itu tidak terlalu peduli dengan apa yang dikatakan Ratri, dia terus asik mengumpulkan buah-buah sawo yang berserakan di halaman.

“Wah, keciknya sudah terkumpul banyak, kamu bisa bermain dakon dengan ini.”

“Iya, Den”

***

Pagi itu ada yang berbeda di bangsal Keputren. Bangsal tempat tinggal para istri dan putri raja ini terlihat ramai. Puluhan wanita duduk berjajar di sepanjang koridor. Di depan wanita-wanita berkebaya itu ada sebuah tungku kecil dengan wajan tembikar di atasnya.

Seorang wanita bersanggul dan berkebaya warna merah duduk mempimpin upacara. Barisan di samping kirinya berurutan, istri selir raja, putri-putri keraton, dan kerabat putri istana yang lainn. Wanita itu trampil dan cekatan menuangkan adonan apem. Di depannya ada ibuku, seorang abdi dalem perempuan yang hanya mengenakan kemben yang sibuk mengipasi tungku kecil itu agar bara apinya tetap menyala.

“Ayo terus dikipasi tungkunya, hari ini kita harus membuat dua ribu lima ratus buah kue apem.” Seru wanita berkebaya merah itu pada semua yang ada di bangsal Keputren. Mereka pun semakin bersemangat membuat apem dan mengipasi tungkunya.

Sudah menjadi tradisi tiap kali menjelang Tingalan Dalem Jumenengan putri-putri Keraton itu membuat kue apem untuk upacara apeman. Kata ibuku, apeman berasal dari kata ampun yang bermula dari kata dalam bahasa Arab yaitu afwun. Ampun itu dilambangkan dengan kue apem. Ribuan apem itu akan dibagikan untuk orang-orang sebagai pertanda permintaan maaf dari Raja jika ada kesalahan dalam memimpin rakyatnya selama ini.

Hampir lima jam wanita-wanita ningrat dan para abdi dalem itu duduk di sana. Tangan mereka sibuk menyeka dahinya yang berkeringat. Sudah bisa dibayangkan bagaimana panasnya sekian jam duduk di depan tungku yang menyala. Namun wanita berkebaya merah itu tetap dengan sabar menuang adonan kue apem, tak terlihat wajah lelahnya. Sepertinya ia melakukan itu dengan suka cita, untuk orang yang dicintainya.

Gusti Kanjeng Ratu, begitu aku memanggil wanita berkebaya merah yang memimpin pembuatan ribuan kue apem itu. Sosoknya yang tegas dan bijak, selalu menjadikannya induk untuk anak-anaknya berlindung. Dia dekat kepada siapa saja, pada abdi dalem, juga pada selir-selir raja yang lainnya.

Aku tidak habis pikir. Bagaimana mungkin seorang wanita bisa bersikap baik pada wanita-wanita lain yang menjadi saingannya dalam urusan cinta. Apakah ini pertanda dari besarnya cinta? Sampai-sampai dia rela jika harus berbagi hati. Berbagi suami. Bahkan kudengar dia sendiri yang memilih siapa-siapa saja yang akhirnya menjadi selir Raja.

Ataukah ini sebenar-benarnya cinta yang membebaskan? Memberi kebebasan untuk suaminya membagi hati selain untuk dirinya. Walau pada akhirnya sang Raja tidak benar-benar bebas juga, karena Ratu tetap mempunyai kendali untuk memilih pada siapa dia membagi hati suaminya.

Aku semakin kagum padanya. Dia yang mengatur semua kebutuhan istana, kebutuhan Raja, juga apa-apa yang dibutuhkan untuk masa depan anak-anaknya.

“Besok anakmu sudah siap Mbok untuk menari di upacara Tingalan Dalem?”

“Iya, Gusti Ratu, anak saya sudah siap”

***

Ini adalah apa yang kuimpikan sebelumnya, dan ini adalah apa yang kucemaskan sekarang. Apakah aku terlalu lancang dengan impianku?

“Aku cemas..”

“Kenapa harus cemas? Bukankah ini yang kamu impikan dari dulu?

“Kenapa harus aku? Bedaya? Buntil? Tidakkah ini sebuah pertanda? Firasatku buruk.”

“Justru ini anugerah karena doamu didengar. Hanya gadis yang istimewa yang terpilih menarikan Bedaya di depan Raja, dan kamu salah satunya. Tak ada alasan untuk kamu cemas.”

“Aku tidak bisa. Sentuh aku dan biarkan segala kecemasanku ini berakhir. Sentuh aku Haryo! Sentuh aku! Kumohon..”

“Aku tidak bisa Ratri. Aku tidak bisa. Kenakan kembali pakaianmu Ratri.”

“Kenapa tidak bisa? Tidakkah kamu mencintaiku Haryo?’

“Aku mencintaimu, tapi aku putra mahkota..”

***

Ini adalah apa yang kucemaskan sebelumnya, dan ini adalah apa yang akan menjadi kenyataan, sebentar lagi.

Haryo, kamu harus bangga memiliki ibu seperti Kanjeng Ratu. Dia wanita yang anggun, tulus, dan telaten. Tadi pagi ibumu menyiramkan air bunga tujuh rupa ke atas kepalaku, menyisiri rambutku, meluluri kulitku, dan memilihkan pakaian yang patut untukku. Katanya, aku manis seperti buah sawo. Haryo, kamu masih ingat waktu itu kita memunguti buah sawo di halaman bangsal Kencana. Katamu, aku bisa bermain dakon dengan biji-biji kecik itu. Itu adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidupku Haryo. Tidakkah kamu juga bahagia saat itu Haryo?

Haryo, aku memcintaimu, sangat mencintaimu. Hal yang tak pernah berani kubayangkan sebelumnya. Aku hanyalah gadis kecil anak abdi dalem yang beruntung karena bisa menikmati kehidupan di istana. Dan siapa yang akan menyangka, kamu ternyata memiliki rasa yang sama terhadapku. Hingga akhirnya hari itu kamu memintaku berhenti memanggilmu dengan sebutan Raden. Kau memintaku memanggilmu dengan namamu saja, Haryo.

Haryo, aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Kau yang selalu menjaga kehormatanku. Tak mau mengambil apa yang belum menjadi hakmu. Tak mau menyentuhku  sebelum ada ikatan yang sah antara aku dan dirimu.

Namun sekarang Haryo, persetan dengan segala kesantunanmu. Pada akhirnya meski kamu bilang kamu mencintaiku, itu tidak akan membuatku menjadi pendamping hidupmu kelak. Kamu terlalu penurut pada Ibumu yang akan memilihkan calon ratu berdarah ningrat bagimu, dan itu bukan aku. Bukan Ratri seorang anak dari abdi dalem keraton.

Apakah kamu tahu Haryo? Rambut yang merindukan belaianmu ini, bibir yang merindukan kecupanmu ini, dan tubuh yang merindukan dekapanmu ini, kini telah menemukan penawarnya. Kamu tak akan pernah tahu Haryo, seperti halnya kamu tak akan pernah tahu segala kesakitanku akibat kepengecutanmu. Apa yang tak berani kausentuh kini telah disentuh orang lain. Hanya air mata yang pelan menetes di pipiku yang menjadi pertanda seberapa sakitnya aku. Bahkan untuk terisak pun aku sudah tidak mampu. Hening tanpa kata. Seketika aku hanya ingin berteriak untuk melepas semuanya.

“Aku terpesona sekali oleh tarian Bedayamu Ratri. Kamu mencuri perhatian di antara kedelapan penari yang lain. Namun satu yang kamu perlu tahu, kamu sudah mencuri perhatianku dari dulu, sejak kamu masih kecil dan memunguti buah sawo di halaman Bangsal Kencono bersama Haryo putraku. Ratri, kenapa kamu diam saja Ratri? Tidakkah kamu bahagia menjadi istri selirku?”

Yogyakarta, 22 Januari 2013

Bedaya: Jenis tarian yang disakralkan, biasa ditarikan di kraton Jawa pada upacara tertentu.

Buntil: merupakan salah satu peran dalam tari Bedaya yang menjadi perwujudan alat kelamin

Jemparingan: seni memanah jawa kuno yang dilakukan dengan posisi bersila.

Tingalan Dalem Mangayubagya: ulang tahun raja.

Tingalan Dalem Jumenengan: ulang tahun penobatan raja.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: