Hari Ketujuh Belas di Padang Kurusetra (cerpen)

21 May

Hidup seperti anak panah. Sekali terlepas dari busurnya, dia tak akan kembali. Begitupun semua yang telah terjadi, tak akan mampu diulangi lagi. Terkadang hanya bisa disesali, atau diratapi.

Apa yang akan kamu lakukan, kalau kautahu kapan ajalmu akan datang? Apa yang akan kamu lakukan, kalau kautahu bagaimana caranya nyawamu akan meregang? Apakah kau akan menghindar sedemikian rupa, sebisa mungkin menjauh dari perkara yang dekat dengan kematian? Jangan panggil namaku Karna kalau aku mencemaskan itu semua. Bukan kematian yang akan datang. Aku sendiri yang akan menjemput ajal.

Hari ketujuh belas di padang Kurusetra. Tak lagi tercium aroma rumput yang terbawa udara. Sejauh mata memandang, merah yang terbentang. Lautan darah yang tergenang. Anyir dan bau busuk yang menguar. Ribuan bangkai berserakan. Potongan tubuh manusia bersebaran.

Ini adalah apa yang telah kunantikan sebelumnya. Tak akan sia-sia semalaman kuasah mata panah. Hari ini anak panahku akan tepat mengenai sasarannya. Hari ini kebencianku akan menemukan penawarnya.

Arjuna murid terbaik Dorna, aku membencimu. Tenggelamnya matahari di ufuk barat menunda pertandingan kita di Astina. Menunda kematianmu. Padahal aku yakin anak panahku tak akan meleset dari jantungmu. Seperti halnya malam itu, pada burung kayu sasaran berlatihmu yang kau berhasil membidik salah satu matanya, anak panahku mampu menembus kedua matanya sekaligus.

Arjuna ksatria penengah dari pandawa lima, aku sungguh membencimu. Karena kamu dan saudara-saudaramu, dunia memandang remeh padaku. Mereka bilang aku tak layak bertarung melawanmu karena aku bukan dari kasta ksatria. Aku hanyalah anak dari seorang sais kereta, begitu kalian selalu menghina dan merendahkanku. Duryudana yang akhirnya menaikkan derajatku, melantikku menjadi Adipati Karna.

Arjuna laki-laki yang dipilih Drupadi, aku sungguh-sungguh membencimu. Tidakkah kauingat hari itu, hari dilangsungkannya sayembara memanah boneka ikan yang tergantung di istana Panchala? Bukankah anak panahku yang pertama kali menancap pada sasaran? Bukankah aku yang pertama kali mampu membidik hanya dengan melihat bayangan di atas kolam? Bukan Drupadi sebagai istri yang kemudian kudapatkan. Lagi-lagi sebuah penghinaan.

“Aku tidak sudi menjadi istri dari seorang laki-laki berkasta sudra.”

Tibalah hari ini, hari pembalasan untuk segala penghinaan. Jangan salahkan aku kalau kemudian aku terus menyombongkan kekuatanku. Hanya dengan begini aku bisa meninggi. Hanya dengan begini aku bisa dihormati. Bertahun-tahun aku diremehkan karena aku hanyalah anak sais kereta. Jangan salahkan aku kalau kemudian aku berpihak pada Astina. Hutang budiku besar pada Duryudana. Dia yang menjadikanku teman tanpa melihat dari kasta mana aku berasal. Kedekatan kami lebih kental dari darah persaudaraan. Dia yang menjadikanku penguasa Angga, daerah kekuasaan Astina. Kalau negeriku dalam bahaya adakah alasan untukku tidak membelanya?

Tapi ini lebih dari sekadar balas budi. Aku berperang untuk menunjukkan siapa diriku. Aku berperang untuk membuktikan aku lebih kuat darimu. Tak selayaknya aku diremehkan olehmu. Hari ini dendamku akan kumuntahkan semuanya. Tanpa sisa.

Hari ketujuh belas di padang Kurusetra. Hari yang telah kujanjikan sebelumnya. Hari ini kita bertemu lagi setelah kemarin pergelutan kita terhenti oleh terbenamnya matahari. Aku janji kali ini tak akan ada lagi yang tertunda. Ini akan menjadi pertarungan terakhir kita.

Arjuna, tidakkah kau gentar akan kekuatanku? Keretamu terlempar puluhan kaki hanya karena anak panahku. Kalau bukan karena Kresna titisan Wisnu yang seberat semesta itu duduk di keretamu, kujamin kau akan terpental mengelilingi bumi. Arjuna, kamu beruntung memiliki Kresna sebagai sais kereta. Dia terus tersenyum kepadaku. Pada senyumnya itu ia memintaku untuk tidak melupakan sesuatu.

Sebelum peperangan ini dimulai Kresna telah datang padaku. Tak ada rahasia yang tersimpan selamanya. Dikabarkannya tentang asal-usulku yang selalu menjadi pertanyaanku. Beberapa hari setelahnya seorang wanita datang dan membenarkan kisah itu.

Wanita itu, sudah pasti kamu mengenalnya. Di siang yang terik seusai bertapa memuja dewa Surya, kudapati wanita itu berdiri di belakangku. Kuhampiri dia. Kubuka bajuku untuk melindungi kepalanya dari matahari. Aku tak tega melihatnya bermandikan peluh. Terlalu lama dia menunggu.

Sudah menjadi janjiku untuk memberikan berkah kepada siapa saja yang meminta tiap kali usai kupuja dewa Surya. Seperti hari itu, seorang pertapa yang ternyata adalah Batara Indra meminta baju zirah dan anting yang telah melekat ditubuhku sejak bayi. Aku tak punya alasan untuk menolaknya. Meski aku harus menyayat tubuhku untuk melepasnya. Meski itu berarti aku tak lagi kebal oleh senjata. Namun ternyata Batara Indra memberikan gantinya,  panah Vasavi Shakti mampu mematikan musuhku sekuat apapun dia. Sekuat apapun itu dirimu, Arjuna.

“Namaku Karna, ayahku Adhirata seorang sais kereta, ibuku Radha wanita biasa. Apa yang bisa kulakukan untukmu Dewi Kunti?”

Iya, wanita yang datang seusai pemujaanku pada Surya adalah Kunti, ibumu. Tapi wanita itu tak juga menjawab pertanyaanku. Air matanya menetes. Apa kau pernah melihat ibumu menangis? Aku perih melihatnya. Tak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat wanita menangis, terlebih kalau wanita itu adalah seorang ibu. Dalam isakknya dia mencoba berbicara.

“Karna, kamu bukanlah  keturunan sais kereta. Sama seperti Yudhistira, Bima, dan Arjuna, darahku dalam tubuhmu. Kamu adalah anakku.”

“Apakah aku sedang bermimpi? Seorang Dewi Kunti datang dan mengaku sebagai ibu kandungku. Kalau memang aku sedang bermimpi, izinkan aku untuk tidur lagi.”

“Kamu tidak sedang bermimpi anakku. Aku adalah ibumu.”

Sesungguhnya aku sudah tahu sebelumnya. Kresna telah menceritakan padaku perihal Kunti remaja yang mendapat anugerah dari Dewa Surya. Bayi laki-laki terlahir dari rahimnya, yang kemudian dihanyutkan ke sungai Gangga. Adirata sang sais kereta menemukannya. Bayi itu adalah aku.

“Bergabunglah dengan Pandawa. Yudhistira akan menyerahkan tahtanya untukmu sebagai kakak tertua. Hapus kebencianmu pada Arjuna. Bersatulah dengan saudara-saudaramu. Kalian akan memenangkan peperangan dan dunia akan tahu bahwa kau keturunan ksatria seperti halnya pandawa lima.”

Tak ada yang lebih membahagiakan daripada merebahkan kepalaku di pangkuannya, kemudian merasakan belaian lembut tangannya di rambutku. Tapi aku tahu, pelukan itu adalah pertama dan terakhir kalinya.

“Ibu, bertahun-tahun aku dihina karena aku dari kasta sudra. Bima yang kausayang itu, Arjuna yang kaubanggakan itu, mereka semua merendahkanku. Duryudana lah yang mau mengangkatku sebagai saudara tanpa memandang kasta. Persahabatan kami tulus. Aku berhutang budi padanya. Dia telah menyulutkan perang, maka aku sebagai teman akan berada di sampingnya. Tapi aku janji ibu, dalam peperangan nanti, aku tidak akan membunuh pandawa, kecuali Arjuna. Aku atau Arjuna yang mati, anakmu tetap akan lima. Maafkan aku ibu.”

Sampai kapanpun juga, peperangan hanya punya dua pilihan. Menang atau kalah. Aku sudah tahu apa yang telah digariskan. Dan aku tidak lari karenanya.

Jauh sebelum hari ini, seorang brahmana telah mengutukku. Kelak saat aku melawan musuh terhebat, roda keretaku akan terperosok dalam lumpur. Bahkan guruku sendiri juga memberikan kutukan, dalam pertarungan hidup dan matiku, aku akan lupa semua ilmu yang kupelajari darinya. Adakah musuh yang lebih hebat darimu, Arjuna. Kini kutukan itu semua menjadi nyata.

Baju zirahku telah kuserahkan pada Batara Indra, aku tak lagi kebal senjata. Panah Vasavi Shakti yang semestinya untuk membunuhmu telah kupakai untuk melumpuhkan Gatotkaca. Tak ada lagi yang tersisa untuk melawanmu selain kemahiranku memanah, dan kebencianku padamu.

Satu anak panahku tepat di jantungmu, tapi aku tahu itu tak akan melukai, ada zirah yang melindungi. Kau hanya akan merasa sesak, kemudian lengah. Satu anak panah lagi tepat di kepalamu. Bukan, bukan kepalamu. Sasaranku hanyalah menjatuhkan mahkotamu. Kemarin sudah kukalahkan Nakula, Sadewa, Bima, dan Yudhistira. Aku bisa saja membunuh mereka tapi aku tidak melakukannya. Aku hanya ingin bermain-main dengan mereka, hal yang tak sempat kulakukan bersama saudara-saudaraku dulu. Sekarang giliranmu Arjuna.

“Tarik busurmu Arjuna! Lepaskan anak panahmu sekarang juga!” Entahlah, apa kau bisa mendengar teriakanku atau tidak. Roda kereta yang terbenam lumpur ini akan menjadi saksi bagaimana peperangan ini akan diakhiri.

Ibu, telah kupenuhi janjiku. Aku, atau Arjuna yang mati, anakmu tetap akan lima. Tapi bagaimana mungkin aku membunuhnya kalau aku tahu Arjuna adalah saudaraku seibu? Kedatanganmu kala itu telah menghapus segala benciku. Tak ada lagi yang tersisa selain cinta kasihku. Tak perlulah seluruh dunia tahu bahwa aku termasuk dalam kasta ksatria. Cukuplah aku dan kau yang tahu bahwa Karna adalah anak tertua dari seorang Kunti. Biarlah dunia mengingatku sebagai Karna yang mati di hari ketujuh belas di padang Kurusetra.

 

Yogyakarta, 9 Januari 2014

Advertisements

One Response to “Hari Ketujuh Belas di Padang Kurusetra (cerpen)”

  1. Nana 22 May 2014 at 06:40 #

    Dari semua tokoh di Mahabharata, emang Karna ya yang punya kisah hidup paling tragis. Buatku pribadi, dibanding Pandawa lima justru Karna yang paling ksatria. Nice story.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: