Akhir Bahagia (cerpen)

9 May

Dimuat Di Femina Edisi 26 April – 2 Mei 2014

Ilustrasi: Rizki Diani

Image

“Sudah lama kita tidak bertemu. Kapan ya kita terakhir ketemu?”

Aku menoleh ke arah sumber suara itu. Seketika itu juga jantungku seolah berhenti berdetak sekian detik, kemudian berdegup lebih kencang setelahnya.  Kamu dengan rambut panjangmu yang dicepol rapi ke belakang, mengenakan blus kerut dengan motif polkadot warna biru dan rok di atas lutut warna biru tua berdiri tepat di hadapanku.  Kamu begitu berbeda.

Kapan terakhir ketemu? Pura-pura lupa. Aku yakin seyakin-yakinnya kamu masih ingat kapan terakhir kali kita bertemu.

“Lima tahun yang lalu, saat hujan turun deras sekali seperti barisan tentara pada upacara kemerdekaan, saat guntur bergemuruh seperti genderang mau perang, dan saat kilat menyambar-nyambar seperti blitz tukang foto wisuda.” Aku berusaha mengucapkannya setenang mungkin. Kamu pun tertawa kecil sebelum akhirnya melanjutkan, “Kamu tidak pernah berubah, Yus. Daya imajinasimu masih tinggi.”

“Iya, tentu saja. Aku masih Yus yang sama..”

 

***

Lima tahun yang lalu, aku begitu bahagia menantikan hari itu: perayaan enam tahun hubungan kami. Aku dan Mala dipertemukan di kelas menulis yang diadakan oleh himpunan kemahasiswaan fakultas. Sejak saat itu kami dekat, hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk mengutarakan perasaanku.

Mala, dia perempuan yang tabah. Enam tahun itu dia begitu setia mendampingiku. Saat-saat keterpurukanku dia selalu ada bersamaku. Melihat fisik seorang Mala yang selalu mencuri perhatian siapa saja, semestinya dia bisa berpacaran dengan mahasiswa lain yang memiliki banyak kelebihan, tapi dia memilih untuk menjadi kekasihku. Aku bukanlah pacar yang bisa tiap malam Minggu membawanya ke kafe atau restoran yang mewah, namun seperti yang kubilang dia perempuan yang tabah. Dia tidak pernah mengeluh. Dia mau berdingin-dingin karena embusan angin malam duduk di lesehan menikmati wedang ronde ataupun nasi goreng kaki lima.

Hari itu selain merayakan hari jadi kami, ada perayaan yang lain. Tujuh tahun kuliah, akhirnya aku lulus juga. Mala menjadi pendamping wisudaku seperti yang dilakukannya enam tahun itu mendampingiku. Tadinya kupikir hampir mustahil. Aku sudah merasa putus asa dan ingin menyerah saja.

Bersyukur aku memiliki Mala. Kekasihku itu seperti malaikat penyelamat bagiku. Dia tak bosan-bosannya memberikan semangat padaku dan meyakinkanku bahwa aku bisa menyelesaikan kuliahku. Tak jarang malam-malamnya menemaniku mengetik skripsi meskipun paginya dia harus bangun subuh untuk siaran. Mala sudah lulus tiga tahun sebelumnya. Kuliahnya tepat waktu. Kemudian dia bekerja sebagai penyiar sekaligus program director untuk sebuah radio.

Gerimis mulai turun. Kaca di dekat meja tempatku duduk mulai berembun. Mala belum datang. Aku cemas.

“Tunggu sebentar. Acara kantor baru kelar. Aku masih di jalan. Ini nebeng mobil temen kok. Jadi nggak kehujanan.”

Sebuah sms darinya. Syukurlah. Dia selalu memberi tahu kabar tentangnya secara detil. Katanya agar aku tidak cemas

Karena sama-sama ada keperluan sebelumnya, kami memutuskan untuk bertemu di restoran saja. Restoran yang sudah sering kami lihat sebelumnya. Dari luar, restoran itu terlihat bagus karena sekelilingnya berupa kaca tembus pandang dengan lampu-lampu yang temaram di dalamnya.

Begitu banyak kebahagiaan yang ingin aku bagikan dengannya malam itu. Sebuah cincin perak dalam tempatnya yang cantik ada di tanganku. Sore sebelumnya aku mengambil cincin pesananku itu di tempat pengrajinnya. Aku sendiri yang mendesain bentuknya. Ada ukiran nama Mala pada cincin itu. Aku tak sabar menunjukkannya. Hari itu aku mendapatkan honor pertamaku. Seminggu yang lalu cerpen pertamaku terpampang di koran. Ini bukan cerpen yang pertama yang kukirimkan, entah sudah berapa kali, aku sampai lupa menghitungnya.

Hujan makin deras. Mala belum juga datang. Air hujan membentuk aliran-aliran tak teratur di sisi luar kaca dekat mejaku.  Derasnya hujan membuat alunan musik jazz yang diputar menjadi nyaris tak terdengar. Berkali-kali kulirik jam tanganku. Berkali-kali juga kulihat telepon genggamkuku, mengharapkan kabar darinya.

Aku lega. Seorang wanita berambut pendek di atas bahu berlari-lari kecil keluar dari mobil menuju pintu restoran. Mala muncul di pintu dengan kaos hitam bergambar John Lennon yang agak kedodoran, celana jeans biru, tas ransel hitam, dan sepatu kets ungunya. Gayanya setiap hari. Padahal aku sudah bilang agar malam ini dia berdandan lebih cantik dari biasanya karena tempat makan dan perayaannya special.  Tapi aku tak terlalu mempermasalahkannya. Yang terpenting Mala sudah datang.

Mala duduk di hadapanku. Dia menyeka rambutnya yang tak pernah lebih panjang dari bahu dengan tangannya. Tak lama, Pelayan restoran datang membawakan makanan pesananku.

“Aku nggak bisa Yus..” Mala menggeleng ketika kusodorkan cincin perak itu padanya.

“Maksudnya?”

“Ini sudah cukup. Nggak bisa diteruskan lagi.”

“Aku nggak ngerti. Maksudnya gimana Mala?” Aku tahu ke mana arah pembicaraannya. Aku hanya berharap aku salah mendengar. Atau mungkin dia akan berubah pikiran dan meralat ucapannya.

“Kita selesai..” Tapi, ternyata tidak.

“Kenapa? Kamu tahu kan aku cinta kamu?”

“Cinta saja tidak cukup, Yus. Aku punya kakak perempuan yang sudah menikah. Dan cinta saja tak cukup untuk membeli susu untuk anaknya.”

“Naskah aku segera selesai, Mala. Novel aku akan segera terbit. Aku akan punya penghasilan..”

“Kapan? Kamu selalu bilang seperti itu tapi tak pernah selesai-selesai. Oke, kalaupun naskahmu selesai, apa iya ada penerbit yang menerima? Terus kalau memang diterbitkan apa kamu akan menjamin buku kamu akan ada yang beli? Akan jadi best seller? Apa kamu bisa memastikan punya cukup penghasilan yang bisa diandalkan untuk membangun rumah tangga?”

“Belum pasti, tapi kumohon percayalah padaku. Sekarang aku sedang mencoba peruntungan lain. Kamu tahu kan, hari Minggu kemarin cerpenku akhirnya lolos masuk koran Minggu, semoga akan berlanjut ke cerpen-cerpenku yang lain. Orang-orang akan familiar dengan namaku. Mereka nantinya yang akan membeli novelku.”

“Maaf Yus. Aku sudah tidak bisa. Selamat tinggal..”

Di meja restoran dengan suasananya yang temaram ini aku melihatnya terakhir kali berlari kecil menghindari hujan yang semakin deras saja menuju mobil temannya yang masih menunggu. Musik jazz  tidak terdengar karena kalah oleh suara  hujan. Kilat sesekali menyambar. Guntur bergemuruh membuat kaca di sampingku bergetar.

***

Salah satu karyawan toko buku menghampiriku. Dia memberi tahuku kalau masih banyak orang yang mengantre untuk sesi penandatanganan buku ini. Kauambil buku dari dalam tas jinjingmu, kemudian kausodorkan padaku. Kuraih buku itu.

“Untuk siapa? Nurmala Hakim?” aku bersiap menuliskan namamu. Kamu menggeleng.

“Tuliskan namanya Aldi Prasetya. Suamiku sangat mengagumi tulisan-tulisanmu. Dia penggemar berat novelmu.”

Aku baru saja menandatangani novelku. Novel tentangmu, Mala. Bahkan dalam novel ini pun akhir ceritanya bahagia, kamu akan kembali padaku. Kamu benar Mala, aku tidak pernah berubah, aku masih Yus yang sama, Yus yang tukang khayal.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: