Sumpah Laksmana

16 Dec

Sumpah Laksmana (Suara Merdeka, 15 Desember 2013)

Oleh: Suryawan W.P.

Image

Kalau kamu sekarang bertanya siapakah orang di dunia yang paling setia, dengan percaya diri aku akan tunjuk jari. Bahkan kalau taruhannya harus memotong anggota tubuh, aku berani bertaruh. Sebut saja mau yang mana lagi? Jari tangan, pergelangan kaki, daun telinga, atau pangkal leher sekalipun, aku tidak takut.

Tapi aku tahu kamu tak akan lagi mempertanyakan tentang itu. Tak ada yang lebih menyakitkan daripada kesetiaan yang dipertanyakan. Dan aku yakin kamu tak akan membuatku sakit seperti juga kamu sakit karena pertanyaanmu sendiri yang telah lalu pada wanita itu. Begitu pedih sejarah yang kita jalani hanya untuk sebuah kata setia. Begitu besar bencana yang kita alami untuk membuktikannya. Pada akhirnya aku sadar, kesetiaan tak butuh pembuktian. Kesetiaan hanya perlu kepercayaan.

“Pergilah..”

Pergilah? Terlambat. Kau memintaku untuk pergi ketika hanya tinggal kita berdua di usia yang sudah jauh dari timur ini? Kenapa sekarang? Kenapa bukan dulu? Kenapa bukan bertahun-tahun yang lalu sebelum keberangkatan kita ke Mithila untuk mengikuti sayembara membengkokkan busur panah dewa Siwa? Bukan saja kamu kemudian berhasil membengkokkannya, busur panah itu patah menjadi tiga. Sedangkan raja dan pangeran lainnya mengangkatnya saja tidak bisa. Pulanglah kita ke Ayodya, bersama Shinta putri raja Wideha menjadi istrimu. Shinta, wanita yang aku malas menyebutkan namanya.

Aku sendiri tidak habis pikir. Bagaimana aku bisa begitu dekat denganmu? Melebihi kedekatanku pada siapa saja, termasuk kepada Satrugna saudara kembarku sendiri. Padahal kita memiliki ibu yang berbeda, meskipun ayah kita sama, raja Ayodya. Ke manapun perginya dirimu aku selalu menyertai. Bahkan aku rela turut dalam pengasinganmu di rimba Dandaka bersama wanita yang aku enggan menyebutkan namanya itu. Kenapa kulakukan itu? Aku pun tak bisa menjawabnya. Bukannya aku tak tahu jawabannya. Aku tahu. Hanya saja itu terasa tabu. Memikirkannya saja tak pantas, apalagi mengucapkannya.

Betapa kesetiaan begitu menyengsarakan. Pernahkah kau menyesal untuk semua yang telah terjadi? Pernahkah kau menyesal telah mempertanyakan kesetiaannya? Aku tahu kau tak pernah menyangsikan kesetiaaan wanita itu. Kau hanya sekadar mengikuti perkataan rakyatmu. Bukan kamu, melainkan mereka yang meragukan kesucian istrimu, mereka yang berprasangka istrimu telah disentuh Rahwana. Tak mempan terbakar api pun masih belum cukup untuk pembuktian, dan lihatlah apa yang terjadi kemudian, kau kehilangan dia selamanya. Wanita itu terbukti masih suci tapi kau harus merelakannya ditelan bumi.

Aku paham betul, apa yang dirasakan oleh wanita itu. Sakit sesakit-sakitnya. Perih seperih-perihnya. Perih seperti ketika aku harus merasakan luka di tubuhku. Tapi sakit itu belum seberapa dibanding sakit hati yang kurasa. Siapa yang tidak sakit hati karena tidak dipercayai? Siapa yang tidak terluka karena dicurigai?

Kamu ingat hari itu, hari dimulainya semua bencana ini, hari ketika wanita itu terpesona oleh kilau keindahan seekor kijang emas kemudian merengek-rengek padamu untuk menangkapnya? Kamu mengejar kijang itu. Sayangnya kamu tak kunjung pulang. Kamu tak juga kembali. Kemudian kami dengar suara jerit kesakitan dari tengah hutan. Wanita itu cemas. Wanita itu pikir kamu yang berteriak kesakitan. Dia memintaku untuk menyusulmu. Aku bersikeras tidak mau karena kupegang janjiku padamu untuk menjaga istrimu. Tapi kamu tahu apa yang dikatakannya padaku?

“Kalau Sri Rama mati dan aku menjadi janda, kau pikir aku akan mau menjadi istrimu?”

Aku kecewa. Aku sakit hati. Aku marah. Aku begitu menghormatinya seperti aku menghormatimu. Bagaimana bisa wanita itu menuduhku ingin memilikinya. Dia pikir sekian lama aku ikut dalam pengasinganmu hanya untuk merebutnya darimu. Saat itu juga aku bersumpah wadat di depannya.

“Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menikah dengan wanita manapun.” Kemudian kupotong kelaki-lakianku di hadapannya. Aku mengebiri kemaluanku untuk membuktikan aku tak seperti yang dia kira.

Aku yakin kamu tak pernah tahu tentang itu, seperti halnya dunia tidak pernah peduli padaku. Dunia hanya peduli pada tokoh utama. Hal-hal yang dianggap remeh seringkali dilupakan atau diabaikan begitu saja. Mereka hanya mau tahu tentang kisah pahlawan yang memenggal kepala raksasa bernama Rahwana. Dan pahlawan itu adalah kamu, bukan aku.

Kini atas semua yang telah kualami, kau memintaku untuk pergi? Aku sudah mengorbankan segalanya. Kuikuti ke manapun kamu pergi. Empat belas tahun tak kurasakan kehidupan istana. Empat belas tahun hidup dalam pengasingan. Seumur hidup tidak akan pernah merasakan wanita. Kini kuhabiskan usia tuaku di pertapaan ini bersamamu. Semua itu demi siapa? Semua itu karena siapa?

Apakah kau pernah menyesal? Terkadang aku menyesal menjadi setia. Bukan karena kepahitan yang kemudian kuterima, tapi karena kesedihan yang kini kaurasa. Kau pikir aku tidak merana melihatmu hidup menyendiri di pertapaan yang sunyi dengan kenangan tentang seorang yang kaucinta. Kalau saja aku tak bersikeras menemanimu dalam pengasingan, mungkin wanita itu tak akan menaruh prasangka kepadaku. Mungkin kau akan terus bersamanya. Tak perlu kaupasrahkan dia padaku di hutan itu. Tak perlu ada penculikan itu. Tak perlu ada perang di Alengka. Tak perlu ada keraguan akan kesetiaannya. Kalian akan pulang ke Ayodya dan berbahagia.

Setelah wanita itu akhirnya pergi dan tak kembali, kupikir tak ada lagi yang pantas berada di sampingmu selain aku. Aku padamu serupa ular Shesa yang menjadi alas duduk untuk Wisnu. Apapun akan aku lakukan untuk melindungimu. Tak akan kubiarkan seorang menyentuhmu. Tak akan kurelakan siapapun mengambilmu dariku, bahkan kematian sekalipun.

“Waktuku sudah tiba. Saatnya aku bertemu Brahma dan meninggalkan dunia. Pulanglah..”

Kau memintaku untuk pulang, sementara satu-satunya rumah yang aku tahu adalah bersamamu. Aku akan ikut ke manapun kamu pergi, termasuk kalaupun harus mati.

“Penggallah kepalaku. Kumohon..” Rasanya memang tak ada artinya hidup di dunia jika kau tak ada.

“Aku tak punya kuasa untuk melawan garis dewata. Pulanglah..”

Setelah empat belas tahun turut dalam pengasinganmu, setelah sisa hidupku kuabdikan untuk mendampingimu, kini kau akan meninggalkanku. Ini kah balasan untuk seluruh kesetiaanku?

“Aku tak pernah ragu tentang setiamu. Aku pun tahu kasihmu kepadaku. Semoga di kehidupan selanjutnya aku tetap bisa menyayangimu. Sekarang pulanglah..”

Baiklah. Kamu benar, aku memang harus pulang. Namun aku tak akan pulang ke Ayodya. Seperti yang kubilang, satu-satunya rumah bagiku adalah bersamamu.

Sampailah aku di sini. Di depan sungai Saraju yang tenang di pinggir Ayodya. Aku hanya perlu berjalan ke tengah sana. Kusilangkan tanganku di dada, kemudian menujumu. Berjalan dan terus berjalan hingga kepalaku tenggelam, hingga tak bisa bernapas lagi.

“Sampai bertemu lagi..”

Yogyakarta, 11 November 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: