Sampai Bertemu di Garis Finish

21 Nov

Image

Lelaki itu tak berhenti tersenyum. Sesekali dia tertawa. Entah apa yang ada di pikirannya? Ada kepuasan dalam senyum lebarnya. Mungkin bukan tersenyum, melainkan menyeringai. Ujung-ujung bibirnya hampir menyentuh kedua telinganya.

***

76 derajat Fahrenheit. Pagi yang hangat. Hari yang tepat untuk berlari. Boston memang surganya pelari. Kita seperti dua puluh ribuan orang lainnya, mengenakan kaos berwarna merah.  Kamu memakai celana pendek warna hitam setinggi paha. Aku bisa melihat dua lingkaran tak beraturan di lutut kananmu. Bekas luka di masa kecil yang menjadi keloid. Sepasang Puma Mobium hijau membungkus kedua kaki kita. Minggu terakhir sebelum malam natal, kita membelinya di sebuah toko olahraga di ujung Newbury Street yang menggelar sale. Kamu bilang dengan sepatu itu kita bisa berlari seperti kucing. Seketika aku teringat pada Garry, kucing angora peliharaanku waktu kecil yang gemuk seperti gumpalan bulu. Seingatku dia tak pernah berlari. Kerjaannya hanya tidur dan bermalas-malasan.

Perutku yang membuncit memaksaku memasukkan olah raga dalam daftar resolusi tahun kemarin. Resolusi hanya sebatas resolusi.  Hingga di sebuah Sabtu aku baru sadar kalau waktu terus berjalan. Tiba-tiba sudah sampai di bulan terakhir dari kedua belas bulan. Ratusan orang memadati jalan, laki-laki dan perempuan hanya memakai pakaian dalam warna merah. Topi Santa Claus dengan berbagai ukuran menutupi kepala mereka.

“Tahun depan kita harus mengikuti festival Santa Speedo Run ini. Kamu mau?” Katamu sambil melihat ke arah luar kedai kopi di pinggiran Boylston Street itu.

Aku diam. Sedikit tidak percaya dengan apa yang sebelumnya kudengar. Geli membayangkan berlari di jalanan hanya mengenakan pakaian dalam dan topi Santa berwarna merah. Kamu angkat cangkir kopimu, namun tak lekas meminumnya. Kamu menunggu jawabanku.

“Aku malu. Perutku gendut.” Jawabku sekenanya. Hanya agar cangkirmu tidak terlalu lama menggantung di udara.

“Biar gendut tapi aku suka.” Pipiku pasti memerah. “Kita masih punya satu tahun kalau kamu ingin punya perut seperti chocolat bar atau cetakan tahu. Mau jogging tiap Minggu, berenang, atau pergi ke gym, akan kutemani.” Lanjutmu.

Aku tertawa. Analogi perut sixpack dengan cetakan tahu itu terasa janggal di telingaku. Namun aku tak bisa menyangkal soal perutmu yang rata. Kamu sering menginap di apartemenku dan kubuktikan sendiri cetakan tahu itu memang ada di perutmu.

Masih dalam balutan handuk kamu tergesa menghampiriku yang sedang duduk di sofa sambil menikmati secangkir kopi panas. Kamu duduk di pinggiran sofanya. Acara mandi pagimu menjadi lebih singkat karena aku terus memanggil namamu.

“Sebulan lagi kita ikut ini!” kataku bersemangat sambil menunjuk layar MacBook-ku. Kamu mendekatkan kepalamu agar lebih jelas membaca artikel di website kampus yang kubuka. Tidak seperti yang kuharapkan. Senyuman yang tersungging terasa masam.

“Cuma 10km. 6,2 mil. Kamu pasti kuat kan berlari sejauh itu?” Kamu menggeleng. “Kenapa? Apa yang kamu cemaskan?” tanyaku lagi.

Sudah tiga bulan kamu menemaniku jogging di sepanjang pinggiran Charles River tak jauh dari kampus. Memang rute yang kita ambil tidak sampai 10km tapi aku yakin dengan fisikmu yang nyaris sempurna, 10km bukanlah hal yang sulit untukmu.

“Bukan aku yang harus dicemaskan, tapi kamu.”

Aku. Iya, aku memang pantas untuk dicemaskan. Setiap kali kita berlari aku selalu tertinggal di belakang. Kamu harus melambat agar aku bisa menyusul. Pernah suatu kali aku memaksakan diri berlari mengimbangimu tapi kemudian aku merasa bersalah. Kamu mencemaskanku yang limbung dan hampir pingsan. Mukaku pucat. Perutku mual. Tanganku gemetar. Napasku seperti napas Garry. Dari kecil aku tidak suka olahraga. Aku lemah.

Banyak yang bilang masa SMA adalah masa yang paling menyenangkan, tidak denganku. Masa SMA adalah neraka. Seringkali aku hanya duduk di pinggir lapangan. Teman-teman sekelasku bahkan saling lempar namaku saat pemilihan anggota tim untuk bermain basket waktu pelajaran olahraga. Akhirnya aku hanya duduk dan tak pernah menyentuh bola. Mereka tidak pernah menganggapku ada.

Mereka baru menganggapku ada ketika penilaian olahraga secara individu. Mereka selalu menunggu saat itu. Hiburan gratis yang dinantikan. Mereka akan tertawa ketika giliranku men-drible bola dan berusaha memasukkannya ke keranjang. Begitu juga pada olahraga-olahraga yang lainnya, aku hanya akan menjadi bahwan lelucon dan olokan.

Aku heran, kenapa orang bisa menyukai olahraga? Aktivitas yang melelahkan, dan membosankan. Apa menariknya berlari tanpa henti selama tiga puluh menit, bahkan satu jam? Tidakkah itu membosankan? Kamu bilang karena kebiasaan. Mungkin kamu benar. Dari kecil aku tak terbiasa berlari. Aku lebih sering bermain di rumah bersama Garry kucing peliharaanku yang gemuk seperti gumpalan bulu. Aku seperti Garry yang tak suka berlari.

“Waktu kecil aku terbiasa mengejar pesawat terbang bahkan sampai terjatuh-jatuh dan lecet.”

Mengejar pesawat? Bagaimanapun kencangnya kamu berlari, kamu tak akan pernah bisa mengejarnya. Lagi pula pesawat  itu di langit sedangkan kamu menjejak bumi. Tak akan pernah bisa menangkapnya.

“Apakah kamu berhasil menangkapnya?

Kamu menertawakan pertanyaan bodohku. Semestinya kamu menertawakan apa yang kamu lakukan di masa kecilmu.

“Montor mabur njaluk duwite!” Serumu dengan bahasa Jawa yang terasa asing di telingaku.

Pesawat terbang minta uangnya, begitu kamu menerjemahkannya. Kebodohan apa lagi ini, meminta uang pada pesawat terbang. Mungkin di negara asalmu pesawat terbang itu semacam Santa Claus yang bisa memberikan hadiah untuk anak-anak. Sehingga kalian rela berlari-lari mengejar pesawat berharap dijatuhi sekarung uang. Aku dulu juga percaya Santa Claus itu benar-benar ada. Dia akan masuk ke rumahku melalui cerobong asap kemudian memasukkan hadiah ke kaus kaki yang kugantungkan karena sikapku yang manis. Sama yakinnya bahwa Santa Claus tidak akan memberikan hadiah pada anak-anak nakal yang sering mengejekku. Tapi paginya aku kecewa. Santa Claus telah melakukan kesalahan. Anak-anak nakal itu tetap mendapatkan hadiahnya.

Aku baru tahu kalau Santa Claus itu hanyalah rekaan ketika tak ada lagi kado dalam kaus kakiku. Saat itu aku baru masuk SMP. Ternyata selama ini ibuku sendiri yang memasukkan kado itu dalam kaus kakiku. Aku menangis. Bukan karena tak ada hadiah lagi. Aku menangis karena ternyata lelaki tua berjenggot putih itu tidak pernah ada. Aku menangis karena kandasnya harapanku tentang anak nakal yang tak akan mendapat hadiah. Bodoh. Semua orang melakukan kebodohan, caranya saja yang berbeda.

Satu dua satu lima satu, nomer yang tertera di dada dan punggungmu. Hanya kamu pemilik nomer itu. Namun tetap saja akan sulit menemukan nomer itu di antara ribuan nomer lain. Lautan manusia berkaos merah menyemut di sepanjang Charles Street yang akan mengikuti Boston 10K untuk merayakan hari ulang tahun kampus.

Dor. Bunyi tembakan. Semua orang mulai berlari. Masing-masing mencoba mendahului. Kita mencoba mengisi sela-selanya. Belum ada satu mil mulai banyak yang melambat. Termasuk aku yang mulai melambat ketika memasuki Commonwealth Ave itu. Beberapa kali kamu terpaksa memperlambat larimu untuk menungguku.

“Untuk apa?”

“Agar aku tak kehilanganmu.” Kupasangkan topi yang tadi kupakai ke kepalamu.

“Kamu teruslah berlari. Tak usah menungguku.”

“Tapi kamu..”

“Tak usah mencemaskanku. Tunggu aku di garis finish..”

Akhirnya kamu mengangguk. “Sampai bertemu di garis finish.” Katamu sambil tersenyum dan menggenggam tanganku. Hangat. Sehangat ketika kamu memasangkan nomer di dadaku. “Dadamu berdebar. Tidak usah cemas. Anggap saja ini seperti jogging kita tiap Minggu.” Katamu saat membantu memasangkan nomer di dadaku. Kamu tidak tahu. Jantung ini berdetak lebih kencang bukan karena perlombaan lari ini. Degup kencang ini karena kamu menyentuhku. Selalu begitu.

Sampai bertemu di garis finish. Di benakku garis finish adalah tujuan yang ingin kucapai. Hidup bersamamu. Menua bersamamu. Kita pun kembali berlari. Aku berusaha mengimbangimu. Namun tetap saja aku tak mampu. Yang tersisa hanya topi New York Yankee biru tua yang semakin menjauh. Timbul tenggelam di antara kepala-kepala manusia lainnya. Semakin kecil. Kemudian hilang dari pandanganku. Tiba-tiba semua menjadi sepi. Hampa. Aku tidak suka perasaan ini. Aku harus berlari untuk melihatmu lagi. Aku tak ingin kamu hilang.

Dengan tenaga yang tersisa aku berusaha melewati orang-orang. Akhirnya kulihat tulisan finish membentang jauh di depan. Kupercepat langkahku agar lebih cepat bertemu denganmu. Aku mungkin masuk dalam daftar lima ribuan orang terakhir yang sampai di garis finish. Kulihat kamu melambaikan tangan di sisi kanan luar garis finish. Seketika rongga dadaku penuh rasa bahagia. Kamu hebat. Mungkin sudah sekitar satu jam kamu menungguku di tempat itu. Aku tidak heran, dulu kamu menjuarai marathon nasional tingkat pelajar. Kalau kamu tidak mendapatkan beasiswa kuliah di sini mungkin kamu sudah menjadi atlet di negaramu sana. Kupercepat langkahku. Tinggal sepuluh langkah.

Boom

Suara dentuman memekakkan telinga. Bumi bergoncang. Gelap. Aku terjerembab. Aku berusaha bangkit. Perih dan panas di kaki, tangan, dan mukaku. Berdarah. Serpihan kaca mengoyak kulitku. Aku berdiri. Semua tak lagi seperti semula. Potongan-potongan tubuh manusia berceceran. Bau hangus. Kaca-kaca gedung pecah berantakan. Terdengar jerit dan tangisan. Bunyi sirine melengking. Orang-orang berlarian. Aku takut. Aku cemas. Tak kutemukan kamu di tempatmu berdiri.

***

Di sofa ini aku mencoba mengais yang tersisa. Kuciumi bantalnya berharap baumu tertinggal. Sayangnya tak ada. Mataku basah. Aku terisak. Medali perunggu di tanganku, yang tak pernah terkalung di lehermu. Catatan waktumu 28 menit 56 detik. Kamu masuk tiga besar. Satu-satunya orang Asia di antara dua orang Afrika lainnya.

Lelaki itu tetap tersenyum. Sesekali dia masih tertawa. Entah apa yang ada di pikirannya? Kedua tangannya diborgol ke belakang. Polisi menggiringnya masuk ke mobil tahanan. Kuambil remote televisi. Kutekan-tekan secara acak. Semuanya saluran isinya sama, wajah laki-laki itu tersenyum kepadaku. Kutekan tombol powernya. Aku tak mau melihatnya. Karena dia aku kehilanganmu.

Handphone-ku bergetar. Memutar pelan di atas meja. Sebuah panggilan. Aku terenyak. Nama yang kukenal berkedip di layarnya. Garis finishku masih terlihat meski samar.

Advertisements

2 Responses to “Sampai Bertemu di Garis Finish”

  1. dhamalashobita 27 December 2013 at 12:48 #

    Mungkin akunya yang lagi nggak connect tapi aku agak bingung baca ending cerpen ini. Hehehehe. Tapi aku suka cerpennya, Mas. Diksinya, permainan emosi dan twistnya. Aku harus banyak belajar lagi nih. 😀
    Hehehe.
    Ditunggu cerpen2 lainnya, Mas.

  2. Rhe Sianturi 18 January 2014 at 14:41 #

    Dalam bayanganku endingnya yang satu meninggal…namun yg msh mid pertanyaan bagiku adalah ‘aku’ disini apakah perempuan? Ataukah laki2 kedua nya…
    But, cerpen ini sangat keren menurut ku…dpt membayangkan dan mempertanyakan 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: