Hibiscus (review)

7 Nov

Novel Hibiscus ini bisa menjadi alternatif untuk yang sudah jenuh dengan tema roman. Becerita tentang Bagaskara, seorang detektif yang menyamar menjadi pemandu wisata di sebuah biro perjalanan, Bali Harmonie. Semula penyamarannya untuk mengungkap penyelundupan kayu, namun kemudian terjadi kejadian pembunuhan yang menimpa wisatawan asal Prancis yang dipandunya. Pierre ditemukan tewas di kamar hotel dengan menggenggam setangkai bunga sepatu (hibiscus).

Seperti cerita tentang dektektif lainnya, novel ini mampu membangkitkan rasa penasaran saya untuk membaca sampai akhir. Membuat saya ingin mengetahui teka-teki dibalik kejadian pembunuhan itu. Fakta kejadian, barang bukti, dan alibi masing-masing tokoh yang disajikan membuat saya ikut menebak-nebak siapakah yang menjadi dalang dari pembunuhan tersebut.

Hanya saja masih ada beberapa ganjalan setelah saya membaca sampai akhir.

1. Fisik seorang Bagaskara ini kurang dideskripsikan secara jelas dibandingkan dengan tokoh-tokoh lainnya padahal Bagaskara ini adalah tokoh sentral. Saya hanya menangkap Bagaskara ini orang Jawa dan ganteng, sehingga membuat beberapa wanita di antaranya resepsionis di biro perjalanan dan salah satu wisatawan dari Perancis yang melakukan flirting kepadanya.

2. Di bagian depan novel terdapat peta Bali tapi sepertinya kurang cukup membantu. Mungkin lebih baik kalau disertakan denah hotel Jegeg tempat kejadian perkara pembunuhan tersebut..

3. Hibiscus (bunga sepatu) yang menjadi menjadi petunjuk kurang mendapatkan porsi pembahasan sebagai sumber misteri.

4. Mungkin saya kelewat, tapi saya sudah membaca ulang dan masih belum menemukan motif pembunuhan di tokoh kedua. Hal itu cukup mengganggu.

5. Saya kurang suka dengan paragraf paling terakhir, seperti terlalu dipaksakan untuk ada pesan bijaknya.

Secara keseluruhan saya suka dengan novel ini, karena menyajikan cerita detektif dengan setting lokal yaitu daerah Bali secara detil. Dialog-dialognya mampu membangun karakter masing-masing tokoh yang merupakan orang Prancis. Ada bagian-bagian yang saya suka terlebih ketika penyamaran (meskipun agak khayal), hanya dengan mengubah penampilan dan tidak dikenali. Tapi itu lucu. Saya juga suka ada kerjasama adanya detektif lain di cerita ini. Winih, detektif wanita ini dengan penyamaran-penyamarannya menjadikan novel ini lebih seru. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, Hibiscus bisa menjadi alternatif bacaan dengan tema detektif di tengah menjamurnya novel roman.

Image

Judul Hibiscus: samaran, misteri, dan balas dendam
No. ISBN 9786027888876
Penulis Agnes Arina
Penerbit Bentang Pustaka 
Tanggal terbit September – 2013
Jumlah Halaman 252
Advertisements

2 Responses to “Hibiscus (review)”

  1. Haris Fadli Pasaribu 21 February 2014 at 04:15 #

    Cocok dijadikan film juga, gak Yu? Hehe Aku sebenarnya penasaran pas lihat di TB, tapi ragu. Setelah membaca review Yuya, sepertinya layak juga untuk dijajal.

    • suryawanwp 23 February 2014 at 10:41 #

      Bisa aja sebenernya Bang, apalagi dengan setting Bali. Ini novel lumayan untuk selingan tapi tetep gemes karena ada plot yang ganjel dan endingnya rada maksa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: