Cinta Bersabarlah

19 Sep

Image

Kamu yang sabar ya..

BRAK!!

Sabar? Sabar? Bisa-bisanya aku memintanmu untuk sabar sementara aku sendiri bahkan sudah habis kesabaran. Baru saja kudorong easel hingga roboh ke lantai. Dan entah ini sudah berapa kanvas yang terbuang percuma karena aku gagal melukis.  Kanvas putih yang kemudian penuh dengan coretan dan goresan kasar tanpa makna. Perban di tangan kananku membuatku tak leluasa melukis. Namun pikiranku yang kalut menjadi penyebab utamanya.

Bukankah seharusnya kuas, cat, dan kanvas beserta easel untuk sandarannya ini menjadi teman pelukis. Bisa dibilang dari alat-alat lukis itu seorang pelukis bertahan hidup. Meskipun ada juga pelukis idealis yang bilang mereka tidak melukis demi uang namun tak bisa disangkal, lukisan-lukisan itu yang menyambung nyawa mereka. Yang terjadi hari ini malah sebaliknya. Aku memperlakukan alat penyambung hidupku dengan sangat buruk. Ruangan melukisku ini berantakan. Easel yang ambruk, kanvas-kanvas dengan tumpahan cat yang terbuang percuma di sekelilingku.

Sabar. Sabar. Bahkan sekarang kata-kata itu terdengar sangat menjijikkan. Kalau aku saja jijik dengan kata-kata yang aku ucapkan sendiri, apalagi kamu?

***

“Saya dengar anda melukiskan apa-apa yang belum anda temukan di dunia ini. Kalau boleh tahu apa itu?” seorang wartawan melemparkan pertanyaan.

“Tara..”

Seseorang memanggilku dengan dua suku terakhir namaku saja. Sudah bisa dipastikan seseorang ini memiliki hubungan yang cukup dekat denganku. Biasanya kenalan-kenalan yang tidak terlalu akrab akan memanggil namaku secara lengkap, Made Antara. Suara itu muncul di antara kerumunan wartawan yang sedang mewawancaraiku. Seorang wanita dengan rambut pendek di atas bahu. Kemeja warna hijau muda dengan lengan pendek berkerut menempel di tubuh mungilnya. Sehelai syal warna coklat melingkari lehernya. Jeans biru tua memudahkannya menyelinap  bergerak di sela-sela kerumunan orang ini.

Alena Handoyo, begitu nama yang terbaca olehku di tanda pengenalnya. Aku mencoba mengingat-ingat, apa iya aku punya teman bernama Alena dan berprofesi sebagai wartawan. Sayangnya usaha mengingat-ingat ini mengalami jalan buntu. Aku hanya tersenyum sebentar padanya kemudian melanjutkan lagi menjawab pertanyaan dari wartawan-wartawan ini.

“Maaf apa tadi pertanyaannya? Bisa diulang?”

“Apa yang belum anda temukan di dunia ini?”

“Cinta..”

Setelah sesi wawancara aku berkeliling untuk menyalami dan mengucapkan terima kasih pada teman dan kolega yang menyempatkan diri untuk datang ke pembukaan galeriku ini. Kebanyakan di antara temanku adalah wanita. Aku tidak pernah memilih-milih dalam urusan pertemanan. Hanya saja secara kebetulan, wanita-wanita yang menjadi temanku itu memang cantik, tungkai kakinya jenjang, dan tubuh yang sintal. Biasanya mereka akan mulai datang padaku untuk dijadikan objek lukisan, lalu  kami akan berteman setelahnya. Mulai dari teman makan malam kemudian berlanjut teman di ranjang.

Selagi berkeliling, wajah wanita berkemeja hijau muda itu terus terbayang. Begitu juga namanya terus terngiang, Alena Handoyo. Aku yakin betul belum pernah mengenalnya sebelumnya. Wajahnya memang manis namun secara fisik dia tidaklah masuk dalam kategori teman wanitaku yang bertungkai panjang dan bertubuh sintal. Meskipun teman wanitaku tidaklah sedikit, aku masih hafal nama-nama mereka. Selalu ada yang unik dari mereka yang membuatku tidak bisa lupa. Seperti halnya Aline dengan tahi lalat kecil di dada putihnya yang sebelah kiri, ataupun Julia yang selalu meringkuk kegelian tiap kali jariku menyusuri setiap senti kulit coklatnya yang eksotis. Kuingat-ingat lagi teman wanitaku dengan segala keunikannya masing-masing, tetap tak kutemukan nama Alena Handoyo di antaranya.

Ketika Sabina salah seorang teman wanitaku yang bermata abu-abu warisan dari ayahnya yang keturunan Uzbekistan itu menghapus bekas lipstik di pipiku, aku baru menyadari seseorang memperhatikanku di sudut ruangan. Sesekali dia mengalihkan pandangannya pada lukisan di depannya, sesekali dia menoleh kepadaku. Seseorang itu yang memakai kemeja hijau muda dan syal coklat yang melingkar di lehernya. Aku berjalan menghampirinya, sementara wanita itu tetap memandang lukisan di hadapannya. Entah memang benar-benar sedang khusyuk menghayatinya atau hanya usaha pura-pura tak melihat kedatanganku saja.

Saat jarak kami hanya tinggal satu uluran tangan dan lalu kubuka mulutku untuk menyapa, dia berbalik ke arahku. Kami seolah menunjukkan kekagetan yang sama.

Syal berwarna coklat di lehernya. Aku masih ingat kain itu. Kain itu tidak benar-benar polos berwarna coklat tua. Ada lukisan mahkota bunga-bunga kamboja berwarna gradasi putih menuju kuning di sekelilingnya.

“Maaf, tadi saya kurang sopan saat sesi wawancara. Apa anda masih ingat saya? Sebelumnya kita pernah bertemu, tapi mungkin anda sudah lupa..” Katanya sebelum aku sempat bersuara.

“Alena kan? Alena yang kabur dari liburan keluarga, datang ke galeri milik ayahku dan berlagak seperti seorang wartawan untuk majalah sekolah.” aku memotong pembicaraannya.

Hampir sepuluh tahun sejak pertemuan singkat itu. Saat itu usiaku sekitar lima belas tahun. Seorang perempuan dari Jakarta yang masih sebaya denganku datang ke galeri seni milik ayahku. Semestinya hari itu dia berbelanja di pasar Sukawati bersama kakak-kakaknya namun dia malah memisahkan diri dan mengunjungi galeri milik ayahku. Sebuah buku catatan kecil dan bolpen tak lepas dari tangannya. Dia sibuk mencatat apa yang diceritakan oleh ayahku mengenai lukisan dan patung buatan ayahku.

Kalau bukan karena ayah sibuk untuk menyelesaikan sebuah patung pasti perempuan itu akan terus mengganggunya dengan pertanyaan-pertanyaan. Ayah yang memintaku untuk menemaninya berkeliling. Sesekali dipotonya barang-barang seni yang ada di rumahku.

“Luar biasa. Aku kagum sama kamu.” Kataku ketika obrolan kami kemudian berlanjut di sebuah makan siang di sebuah cafe tak jauh dari galeriku, “kamu setia pada mimpimu, menjadi wartawan.” Lanjutku.

“Dan, kamu begitu berbeda..”

“Iya, aku juga tidak menyangka akhirnya akan mengikuti jejak ayahku sebagai pelukis. Dulu kubilang kalau aku akan menjadi penakluk lautan. “

Saat Alena datang ke galeri milik ayahku, aku masih bocah laki-laki yang selalu malas-malasan kalau diminta berlatih membuat patung ataupun melukis. Aku lebih senang terjun ke laut dan berselancar. Semua berubah semenjak ayah meninggal. Aku begitu kehilangan sosoknya. Aku mulai mencintai melukis ketika kemudian kurasakan ayahku hadir kembali dalam goresan-goresan kuasku. Kini melukis seperti obat bagiku. Hal-hal yang belum bisa kutemukan di dunia kutemukan dalam lukisanku.

“Bukan itu saja..”

“Maksudnya?”

“Dulu bocah laki-laki bernama Tara sangat dingin pada gadis kecil bernama Alena. Sepertinya dia setengah hati mengantarkan wartawan cilik itu melihat-lihat galeri seni ayahnya. Namun sekarang, pelukis terkenal bernama Made Antara selalu dikelilingi wanita-wanita cantik di manapun berada.”

Aku hanya bisa tertawa mendengar penjelasan panjangnya. Sialan, umpatku dalam hati. Benar juga apa yang dikatakannya.

“Hampir sepuluh tahun Tara. Aku tidak menyangka akan bertemu lagi denganmu. Tadinya kupikir hanya kebetulan saja ketika kantor memintaku meliput pembukaan galeri seni di Jakarta milik pelukis bernama Made Antara. Ternyata orang itu benar-benar kamu..” katanya. Ada binar di kedua matanya saat mengatakannya.

“Aku juga tidak menyangka kamu masih menyimpan kain itu. Dan ternyata terlihat cantik sekali menghiasi lehermu.”

Kulihat pipi Alena memerah. Kain itu kuberikan padanya karena dulu sebelum pulang ke Jakarta dia terus memaksa untuk diberikan kenang-kenangan telah berkunjung ke galeri seni milik ayahku. Tadinya kuminta dia membeli katalog yang kami jual tapi dia menolak. Gadis cilik yang merepotkan itu minta sesuatu yang dibuat olehku. Akhirnya aku melukis secara asal tebaran bunga kamboja pada sebuah kain berwarna coklat dan kuberikan padanya. Aku tak menyangka dia masih menyimpannya.

Masih dengan senyum malu-malu dibenarkan letak syal coklat itu. Ada cincin yang melingkar di jari manisnya.

***

Jadi ini laki-laki itu. Seorang laki-laki berjalan ke mejaku. Selama ini aku hanya melihat fotonya di dompet wanita yang kucintai. Seketika aku teringat obrolan di telepon beberapa hari yang lalu.

“Aku sudah nggak tahan lagi Tara..”

“Kamu yang sabar ya..”

“Kamu sayang aku kan Tara? Kita akan bersama kan?

“Iya, kita tunggu waktu yang tepat. Dikuat-kuatin dulu ya sayang.”

“Aku sudah nggak kuat Tara. Aku lelah pura-pura bahagia di depannya. Sudah semingguan lebih aku menolak tiap Mas Adit ingin menyentuhku. Aku sudah kehabisan alasan. Semalam dia seperti orang kesetanan. Dia memperkosaku..”

Anjing. Sisi luar keempat jari tangan kananku memerah. Beberapa kali tinjuku kuhantamkan pada tembok kamar seolah ada wajah laki-laki itu di sana. Noda merah bekas darah seseorang membekas. Bukan darah laki-laki itu, melainkan darahku sendiri. Berani-beraninya laki-laki ini menyakiti wanita yang aku cintai. Berani-beraninya dia membuat Alena pagi buta itu terisak dan menelponku.

Aku marah. Marah pada laki-laki bangsat yang membuat wanita yang kucintai menangis. Aku marah pada diriku sendiri yang tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa memintanya bersabar.

Dan sekarang laki-laki bangsat itu sedang berjalan ke arahku. Gigiku gemerutuk karena geram. Tanganku mengepal seolah ada dendam yang kugenggam. Laki-laki ini yang membuat Alena tersiksa. Laki-laki ini yang menjadi penyebab kami tidak bisa bersama. Aku siap jika hari ini harus berkelahi sampai babak belur dengan laki-laki ini. Aku siap memperjuangkan cintaku.

Pagi tadi laki-laki ini menghubungiku dan meminta bertemu denganku. Aku tahu cepat atau lambat ini akan terjadi.

“Adit.” Laki-laki yang masih mengenakan pakaian kerja ini mengulurkan tangannya padaku.

“Tara.” Aku membalasnya. Singkat.

“Alena tidak tahu tentang pertemuan ini. Dia juga tidak tahu kalau saya mengetahui hubungan kalian berdua. Dua tahun pernikahan kami dan selama ini baik-baik saja.  Tadinya saya masih melihat kebahagiaan di matanya. Namun sejak  beberapa bulan yang lalu semuanya berubah. Sorot matanya meredup. Bibirnya bisa saja tersenyum tapi mata itu tidak bisa berbohong. Ada keresahan dalam tatapan matanya. Saya ingin membahagiakannya. Saya ingin membuatnya nyaman dan aman di sisi saya.  Tapi saya bisa apa kalau ternyata bukan saya yang diharapkan untuk membahagiakannya. Saya ikhlas kalau ternyata mas Tara bisa membahagiakannya. Apapun akan saya lakukan agar Alena bahagia. Termasuk kalau itu berarti saya harus meninggalkannya.”

***

Alena, aku tidak yakin apa aku bisa mencintaimu sebesar suamimu mencintamu. Selamat tinggal. Begitulah kalimat terakhir dalam suratku untuknya.

Yogyakarta, 16 September 2013

Suryawan W.P.

foto diambil dari http://dmrush.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: