TRAVE(LOVE)ING

26 Jun

Trave(love)ing, ada cinta dalam sebuah perjalanan. Karena cinta tidak melulu tentang kebahagian, cinta juga tentang kesakitan.

Ada empat cinta yang menyakitkan..

Dendi
Sekian lama menjalani perjuangan cinta yang tidak mudah dan melelahkan, pada akhirnya salah satunya memilih untuk menyerah pada keadaan.

Grahita
Ada kisah cinta yang seperti kopi, bahkan sebelum kita mencicipinya pun, kita sudah bisa membayangkan rasa pahitnya. Hati pun sudah diwanti-wanti, hanya saja hati seolah tak peduli, terus saja melakukan pembelaan dan pembenaran dengan berbagai alasan. Namun pada akhirnya logika berbicara, mau tak mau kisah cinta itu harus diakhiri juga, kisah cinta Grahita dan Mr.Kopi.

Mia
Cinta adalah perjalanan dua insan. Saat salah satunya memilih untuk meninggalkan, jadilah sebuah perjalanan yang sendirian yang melelahkan. Tak ada yang lebih melelahkan dibanding perjalanan sendirian ke masa lalu, bernostalgia membawa sekoper kenangan.

Roy
Cinta adalah tentang siapa yang menjuarai hati. Ketika pada akhirnya bukan kamu lagi yang ada di podium tertinggi, seseorang yang lain telah mengisi, sakit itu sudah pasti, tinggal mau atau tidak untuk mengobati diri sendiri.

Kekecewaan, ketidaksiapan untuk ditinggalkan, usaha untuk melupakan, perjuangan untuk mengikhlaskan, menjadi alasan untuk keempat orang ini melakukan perjalanan.

Dendi yang melakukan perjalanan darat ke-3 negara untuk mencari gadis yang baru dikenalnya sehari, berharap menemukan cinta pengganti. Grahita berlibur ke Bali bersama teman-temannya, namun sayangnya pikirannya enggan berlibur, terus saja penuh dengan pilihan-pilihan yang terus berkecamuk. Roy dan temannya, Arya, yang terbang ke Kuala Lumpur demi menonton pertandingan tim kesayangan, sementara dalam pikirannya, saat itu semestinya dia berada bersama dengan seseorang yang pernah disayangi untuk sebuah perayaan. Mia yang jauh-jauh terbang ke Dubai dalam keadaan patah hatinya, mengapa begitu ingin berdiri di puncak tertinggi dunia? Apakah Mia sengaja memilih puncak tertinggi untuk menerjunkan diri? Temukan jawabannya di Trave(love)ing.. 😀

Diramu dengan bahasa yang dekat dengan keseharian, membaca Trave(love)ing seperti mendengarkan curhat dari empat sahabat dekat. Masing-masing penulis memerankan dirinya sendiri. Sehingga menjadi samar mana dari kisah ini yang fiksi, seolah semuanya benar-benar fakta yang mereka alami.

Jangan khawatir meskipun tema besar dari novel ini tentang patah hati, novel ini tidak melulu tentang cerita sendu. Guyonan-guyonan khas Dendi yang terkadang garing, ternyata mampu untuk merenyahkan suasana, walaupun kadang ingin nimpuk kepala Dendi saat membaca guyonannya. Kalau pake istilah Roy, saat membaca guyon ala Dendi ini saya ingin “menunduk malas”. Seperti yang saya bilang membaca novel ini, seperti mendengar curhatan dari sahabat dekat, ada kalanya ikut merasakan kepedihan kisah mereka, ada kalanya tersenyum, tertawa, bahkan sebel mendengar hal-hal yang kalau di twitter harus diberi tagar #abaikan.

Novel ini mungkin mewakili apa yang dialami banyak orang. Orang sering melakukan hal bodoh karena jatuh cinta, misalnya melakukan perjalanan gila seperti yang dilakukan Dendi. Tapi kadang saat patah hati, orang melakukan hal yang lebih bodoh lagi, seperti meracau di twitter, stalking linimasa seseorang, kemudian terpancing, akhirnya terlibat twitwar nomention. (iya saya pernah mengalami, dan itu bodoh sekali) 😀

Bukan perjalanan kalau tidak ada pengalaman yang diceritakan. Pengalaman masing-masing menjelajahi kota-kota tujuan mereka ini akan membuat iri. Fullerton Park, Marina Bay Sand, Kuil Batu Cave, Phuket, Patong Beach, Wat Arun, Dubai, Burj Khalifa, Safari Desert, Seminyak, Ubud, masing-masing membawa kisah tersendiri. Tidak hanya keindahan tempatnya, juga keseruan bagaimana menuju ke tempat ini. Mereka juga mampu mendiskripsikan dengan detil transportasi, akomodasi, serta beberapa tips untuk mengunjungi tempat-tempat itu.

Ah iya, ada beberapa adegan favorit saya di novel ini, adegan “sepatu sayang sandal” dan “two strangers in an office lift”. Salah satu kelebihan novel ini adalah permainan kata berima yang menjadikannya berbeda.

Pada akhirnya saya puas membaca novel ini. Hanya beberapa saran saya, joke juga reportase liburannya lebih dipasin saja porsinya.


Identitas Buku:

Judul : Trave(love)ing, Hati Patah Kaki Melangkah
Penulis : Roy Saputra, Mia Haryono, Grahita Primasari, Dendi Riandi
Tebal : 256 hal (termasuk endorsement, cover dalam, kata pengantar, daftar isi, profil penulis, dll)
Penerbit : Gradien Mediatama

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: