Mengunjungi Kenangan

21 May

Orang melakukan perjalanan ke suatu kota karena sebuah alasan, entah itu untuk berlibur, bekerja, sekolah, ataupun mengunjungi sanak saudara. Tapi kali ini aku berpergian bukan karena alasan itu. Aku sampai ke tempat ini karena sebuah kenangan.

Lima tahun yang lalu pertama kali aku menginjakkan kaki di tempat ini, Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Bandara yang menjadi pintu gerbang Sulawesi Selatan, terletak di kota Maros, kurang lebih dua puluh lima kilometer dari Makassar. Saat itu aku sampai di tempat ini bukan karena urusan pekerjaan. Kuliahku pun sudah kurampungkan di Surabaya sana, bukan di sini. Aku juga tak punya keluarga untuk dikunjungi di kota ini. Satu-satunya alasan yang memungkinkan atas kedatanganku kemari adalah untuk berlibur. Namun sayangnya aku tidak sedang berlibur, aku terbang sampai ke Sulawesi karena sebuah harapan.

Lima tahun, semua begitu berbeda. Dinding-dinding yang terbuat dari kaca tembus pandang, serta dominasi warna putih pada ruangan-ruangannya menjadikan bandara ini terlihat lebih modern dan berkesan futuristik. Ornamen kapal pinisi pada beberapa sudut ruangan serta langit-langit yang bermotif seperti sulaman kain mandar dari Bugis menjaga nilai tradisionalnya. Bandara ini terlihat lebih besar, lebih megah, daripada lima tahun yang lalu.

Bukan hanya bandara ini yang terlihat berbeda. Kedatanganku sekarang ini juga tak sama dengan kedatanganku saat pertama kali. Saat itu tak ada koper dengan segala macam kelengkapan perjalanan jauhnya. Hanya sebuah tas berisi pakaian seadanya yang aku bawa, serta sebuah pigura. Segara, nama laki-laki yang fotonya ada dalam pigura itu. Mas Gara, begitu aku biasa memanggilnya. Aku tidak akan pernah lupa tanggal 2 Januari 2007, orang-orang tumpah ruah di bandara ini, wajah-wajah penuh kecemasan, wajah-wajah penuh pengharapan.

***

Kupandangi wajah laki-laki di hadapanku ini. Rasanya aku ingin berlama-lama menatapnya, menghafalkan setiap lekukan wajahnya. Untuk berkedip sebentar saja aku takut. Aku takut kalau-kalau laki-laki di hadapanku ini tiba-tiba hilang. Aku takut kalau-kalau aku lupa setiap detil tentangnya.

“Eliza..” laki-laki di depanku ini menyebut namaku pelan, kemudian tersenyum sambil digenggamnya kedua tanganku.

“Iya Mas..” aku pun membalas senyumnya. Kutatap kedua matanya. Kusiapkan kedua telingaku untuk mendengar kata-kata indah apa yang akan meluncur dari bibirnya.

“Selamat tahun baru..” lanjutnya yang kemudian diikuti dengan tawa khasnya. Tawa yang membuat matanya menyipit dengan kerut-kerut halus di kedua sudut luar matanya.

“Dasar..” kucubit pelan lengannya namun dia tetap tertawa tanpa menghiraukan orang-orang yang lalu lalang di sekitar kami.

Ini adalah hari pertama di tahun 2007. Semalam adalah malam pergantian tahun terindah dalam hidupku. Sudah tiga kali aku melewati malam pergantian tahun bersama laki-laki ini. Jari manisku yang menjadi saksi betapa bahagianya aku semalam. Sebuah cincin kini melingkar padanya. Semalam Mas Gara melamarku. Seharusnya aku tenang karena akhirnya laki-laki ini mengikatku. Namun aku justru semakin cemas. Aku takut ikatan ini terlepas.

“Harus ya Mas, kamu pergi? Nggak bisa ya kamu nolak permintaan bos kamu dan tetap tinggal di Jawa?”

“Eliza, kita kan sudah membahas ini..”

Memang sudah jauh-jauh hari dan entah sudah berapa kali kami membicarakan tentang ini. Perusahaan tempat Mas Gara bekerja membuka kantor cabang baru di Manado. Dialah yang ditunjuk untuk menjadi kepala cabang di sana. Meski pada akhirnya aku mendukung keputusannya untuk berangkat ke Manado tapi ternyata hari ini sangat berat untuk melepasnya. Setelah melewati malam yang membahagiakan bersamanya, kini aku harus merelakan kepergiannya dan menyiapkan diri jauh darinya.

Begitu banyak rencana yang sudah dibuatnya ketika memberitahuku soal kepindahan ini. Aku ingat betul bagaimana mimik mukanya saat itu, ekspresi kebahagiaan yang terpancar. Merencanakan berbulan madu di Manado. Menyewa sebuah resort di kawasan Bunaken. Berdua menikmati keindahan bawah lautnya atau sekedar menyisiri pantainya dengan kaki telanjang. Aku pun mengamini untuk semua rencana indah itu.

“Penumpang pesawat AdamAir dengan nomer penerbangan KI 574 tujuan Manado, silakan masuk ke ruang tunggu..” suara seorang wanita terdengar dari pengeras suara.

“Aku harus masuk, pesawatku sudah mau berangkat..”

Aku pura-pura tidak mendengar. Kupeluk Mas Gara erat, sangat erat.

“Eliza..aku harus masuk ke dalam..” Mas Gara meminta pengertianku. Akhirnya kulepaskan juga pelukanku.

“Lebaran nanti aku akan sowan ke tempat ibu bersama keluargaku, membicarakan rencana pernikahan kita. Kamu jaga diri baik-baik ya. Sesampai di Manado nanti kutelpon kamu..” aku hanya mematung sambil tersenyum mendengarkan dia berbicara, kubiarkan laki-laki ini mencium keningku hingga akhirnya hilang dari pandanganku, melewati pintu keberangkatan bandara Juanda.

***

“Tante Eliza..”

“Hai Eva..”

Seorang gadis kecil menghambur di pelukanku. Kuciumi kedua pipi putihnya. Usianya delapan tahun. Matanya besar dengan bulu mata yang lentik. Eva mewarisi kecantikan mamanya. Aku tak punya kesempatan mengenal mamanya.

“Maaf ya kami telat. Sudah lama menunggu?” suara berat seorang laki-laki.

“Ah, nggak Ray. Ini aku baru saja turun kok dari pesawat.”

Raymond, ayah dari Eva si gadis kecil. Aku mengenalnya lima tahun yang lalu. Perawakannya tinggi besar dengan kulitnya yang gelap karena terbakar matahari. Yang aku tahu, dalam tubuh kekarnya itu ada hati yang lembut.

Saat itu tanggal 4 Januari 2007, aku dan 10 orang wartawan lainnya berada di dalam sebuah pesawat Cassa milik TNI Angkatan Laut Armada Timur. Raymond pun turut di dalamnya. Aku dan dia ada di sana karena sebuah kesamaan.

Tiga hari setelah kebarangkatan Mas Gara, aku masih tidak mendapatkan kabar apapun tentangnya. Kalau semua sesuai rencana, harusnya dua jam setelah pesawatnya berangkat dari Surabaya dia menelponku, tapi ternyata tidak. Hanya berita di televisi dan koran yang terus mengabarkan hilangnya pesawat AdamAir Boeing 737-400 dengan nomer penerbangan KI 574. Mas Gara salah satu dari 96 penumpang pesawat tersebut.

Bersama lima puluhan orang keluarga penumpang yang lain aku diberangkatkan ke Bandara Sultan Hasanuddin pada tangga 2 Januari. Kabar terakhir menyebutkan satu jam setelah pesawat lepas landas tertangkap sinyal emergency di atas perairan laut Makassar. Kemungkinan besar pesawat yang hilang ada di sekitar perairan itu. Sebuah posko informasi AdamAir dipusatkan di bandara Sultan Hasanuddin ini. Mendadak bandara ini menjadi penuh sesak. Orang-orang mencari kabar tentang saudaranya. Begitupun aku, berbekal foto Mas Gara, berharap ada yang mengenali dirinya.

Raymond adalah anggota TNI Angkatan Laut. Sehari-hari tugasnya menjadi copilot pesawat Cassa. Aku seorang wartawan untuk sebuah tabloid wanita. Seharusnya kami tidak sedang bertugas. Karena alasan pribadi kami berdua meminta izin untuk ikut dalam pencarian pesawat yang hilang itu.

“Windy, kamu ada di mana? Tunjukkan dirimu sayang..”

Kalimat yang terus diucapkan Raymond saat di pesawat itu. Laki-laki itu tidak menangis tapi matanya tidak bisa berbohong. Mata itu menunjukkan kecemasan, ketakutan akan sebuah kehilangan. Dengan teropongnya dia terus mengamati lewat jendela cockpit. Seolah tak sejengkal kawasan pun boleh lepas dari pandangannya. Berharap menemukan pertanda keberadaan orang yang dicintainya. Windy, istri yang dicintainya bertugas sebagai pramugari pada pesawat AdamAir tersebut. Sesekali pesawat Cassa yang kami tumpangi terbang sangat rendah, dengan ketinggian sekitar 30 meter, kami berharap bisa menemukan pertanda keberadaan pesawat. Namun sayang hingga empat jam pencarian, kami tidak mendapatkan hasil.

Wajahnya kecewa ketika pesawat kami harus kembali ke pangkalan. Aku bisa melihat jelas sorot matanya meredup ketika ia kemudian duduk di sebelahku. Aku hanya bisa diam, mendengarkan kalimat-kalimat itu terucap oleh bibirnya.

“Anak saya berusia tiga tahun. Dia terus menangis, menanyakan mamanya. Saya bilang mamanya pasti akan pulang. Saya sangat yakin, Windy akan baik-baik saja. Tuhan akan menjaganya. Saya ingin membawa kabar gembira untuk Eva anak saya. ”

Saat itu pun aku ingin bilang padanya kalau Mas Gara-ku juga pasti akan baik-baik saja tapi bibirku kelu, tak bisa bergerak. Aku diam dalam isakku.

“Mungkin saya terlihat kuat, saya tidak menangis, tapi hati saya remuk..” lanjutnya saat itu.

Pencarianku terus berlanjut. Setelah pencarian lewat udara yang tak mendapatkan hasil kuputuskan untuk mencari keberadaan pesawat langsung di perairan Selat Makassar. Aku menumpang kapal nelayan dari desa Babana Kabupaten Pinrang. Kami menyusuri perairan Pinrang hingga Majene. Nelayan-nelayan dari suku Bugis itu begitu ikhlas membantuku padahal mereka tak punya ikatan apapun dengan Mas Gara, begitupun dengan penumpang yang lain. Mereka rela berhari-hari meninggalkan pekerjaan mereka, turut dalam pencarian pesawat AdamAir ini. Raymond tetap melakukan pencarian bersama tim SAR TNI Angkatan Laut. Kami masih bertukar informasi terkait pencarian pesawat yang hilang ini.

Aku dan Raymond terduduk lunglai di antara puluhan orang lainnya di Bandara Sultan Hasanuddin. Mereka membisu. Mereka pilu. Mereka pasrah. Hari itu tanggal 25 Januari 2007 pencarian pesawat AdamAir yang hilang resmi dihentikan. Sehari sebelumnya, kapal Mary Sears yang didatangkan langsung dari Amerika Serikat mengabarkan kotak hitam dan cockpit voice record dari Boeing 737-400 itu terdeteksi berada pada kedalaman 2000 meter di perairan Majene yang arusnya deras. Sangat tidak mungkin untuk melakukan pencarian sampai ke sana. Sudah bisa dipastikan tidak ada korban yang selamat dari kecelakaan tersebut, begitupun Mas Gara, begitupun Windy.

“Eliza, kamu tidak apa-apa?”

“Iya Ray, aku tidak apa-apa..”

Raymond menyadarkanku dari lamunan masa lalu. Diulurkannya sebuah sapu tangan kepadaku. Aku bahkan tidak sadar air mata telah membasahi pipiku. Aku yakin Raymond tahu apa yang kupikirkan. Kami bergegas masuk ke mobil meneruskan perjalanan menuju ke Majene.

Terakhir aku ke pantai ini 3 Februari 2007. Saat itu kami berangkat dari pantai ini dengan kapal KRI Tanjung Dalpele ke tengah laut. Di laut itulah kenangan orang-orang yang kami cintai tertinggal. Hanya kenangan. Aku, Raymond dan seratusan keluarga korban lainnya melakukan tabur bunga dan doa bersama untuk korban kecelakaan pesawat AdamAir. Isak tangis bersahutan. Beberapa orang menangis histeris. Beberapa orang pingsan. Bahkan ada seorang wanita yang hendak memanjat dinding dek kapal berusaha meloncat ke laut.

“Eliza..kumohon tenanglah..Eliza..sadarlah..”

“Raymond..”

Tubuhku terasa lemas, lunglai di pelukan Raymond. Yang aku ingat, saat itu angin laut berembus kencang, berbisik di telingaku. Suara Mas Gara yang kudengar, memanggil-manggil namaku. Memintaku datang padanya. Aku adalah wanita itu, wanita yang hendak memenuhi panggilan laut untuk menuntaskan rindu. Raymond dan beberapa petugas yang lain telah menyelamatkanku kala itu.

Aku terisak. Raymond memapahku menaburkan bunga-bunga ke lautan. Beberapa orang melepas karangan bunga dengan foto keluarga yang disayangi ke laut. Setelah tabur bunga itu beberapa orang tetap berdoa sambil menatap laut lepas, ada juga yang mengaji di mushola kapal. Sementara aku hanya diam dengan air mata yang terus menetes. Masing-masing memilih caranya sendiri untuk mengatasi kesedihannya.

Hari ini kami datang ke pantai ini untuk sebuah kenangan, doa, dan juga restu.

“Windy dan juga Gara, selamanya akan tetap hidup di sini..di hati kita.. ” kata Raymond sambil menggenggam tangan kananku, meletakkan di dadanya, kemudian di dadaku.

“Mas Gara, Windy, kalian yang mempertemukan kami. Hari ini kami meminta restu kalian berdua. Kami akan menikah..”

Yogyakarta, 9 Mei 2012

catatan: Cerpen ini saya buat untuk mengenang korban kecelakaan pesawat AdamAir. Kebetulan sekali setelah selesai saya menulis ini muncul berita hilangnya pesawat Sukhoi SuperJet 100, saya menunda mempostingnya karena masih punya harapan, jangan sampai Sukhoi mengalami nasib yang sama seperti AdamAir. Tapi ternyata kenyataan berkata lain. Semoga para korban kecelakaan pesawat Sukhoi mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan keikhlasan.

Cerpen ini juga saya kirim untuk antologi Singgah mbak Jia effendie tapi ternyata tidak lolos. Kemudian saya edit beberapa bagian dan saya posting sekarang.

Advertisements

4 Responses to “Mengunjungi Kenangan”

  1. Vira 21 May 2012 at 12:56 #

    Tragedi penerbangan negeri ini. Nice story, tapi terasa seperti gabungan reportase berita dan diary, menurutku. aku lebih menikmati gaya berceritamu di Akizora. :p

    • yuya16 22 May 2012 at 02:24 #

      iya, aku juga ngerasa ada yg kurang, mungkin karena seperti yg kamu bilang reportase itu ya jadi emosinya ga dapet. makasih ya masukannya..

  2. meliantha 28 June 2012 at 07:06 #

    i shed my tears. may they rest in peace..

    • yuya16 28 June 2012 at 09:00 #

      amiiin, dan semoga keluarga para korban bisa mengikhlaskan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: