Akizora

25 Apr

Image

 

“Dia sudah dekat..”

Aku mengangguk pelan. Kemudian laki-laki di depanku ini menggenggam tangan kananku. Aku pun membalas mengelus punggung tangannya.

Devian, nama laki-laki di depanku ini. Rambutnya ikal sebahu. Hanya jari-jari tangannyalah yang biasa ia pakai untuk menyisir rambutnya ke belakang. Kulitnya gelap karena matahari. Kini aku sedang mengelus kedua punggung tangannya yang berwarna coklat. Dalam diam kami saling menguatkan. Sorot matanya tajam. Kedua iris mata berwarna hitam kemerahan itu seolah menjadi pengganti kata-kata, “Kamu aman bersamaku.”

Pandanganku teralihkan pada beberapa mahasiswi yang bergerombol di pinggiran kolam tak jauh dari taman kampus tempat kami duduk. Beberapa kali mereka terlihat mengambil foto, mengabadikan momen istimewa ini dengan kameranya.  Tentu saja ini menjadi peristiwa alam istimewa.

Ini bukan Jogja, kita berada di salah satu kota di Inggris sana.. “ kataku. Daun-daun berubah menjadi merah.  Suasana menjelang musim gugur. Tinggal menunggu hari agar semuanya menjadi kuning dan berguguran memenuhi jalanan. Suasananya sama seperti di Oxford Botanic Garden, saat musim gugur.

Dua tahun yang lalu terakhir kali aku mengalami pertanda seperti ini. Pertanda yang sering kami alami di tahun-tahun sebelumnya yang membuat kami hidup dalam pelarian.

“Akizora..akizora..” Seorang bocah laki-laki bangkit dari duduknya. Memberi tanda pada anak-anak sebayanya yang berkerumun tak jauh dari kuil tempat kami berada.  Tangannya menunjuk ke langit yang biru.

“Akizora?” tanyaku pada Devian waktu itu.

“Langit musim gugur..”

Musim gugur yang tiba sebelum waktunya. Musim gugur yang datang terlalu cepat. Langit kota Kamakura yang berwarna biru, sangat jernih, dengan hawa yang sejuk. Sayangnya itu tidak cukup menyejukkan pikiran kami. Cemas.

Pandanganku menyapu kerumunan orang yang berdiri di pinggiran jalan dekat kuil Tsurugaoka Hachimangu di bawah rimbun daun momiji yang memerah. Mengamati satu-persatu wajah-wajah yang sedang menyaksikan festival Yabusame.  Festival memanah sambil berkuda ini selalu ada di sekitar bulan September.  Pemuda-pemuda berkimono menunjukkan kebolehannya memanah sambil duduk di atas kudanya yang berlari kencang. Kali ini berbeda, festival ini diadakan di bulan Juli. Semua ini karena musim gugur yang datang terlalu cepat.

“Kita harus segera pergi!” Devian menarik tanganku.

“Tenanglah..”

“Waktu kita tidak banyak!”

Tiba-tiba waktu seakan berhenti.  Aku mematung, tak mampu bergerak, begitu pun orang-orang yang lainnya di tempat itu. Seseorang berbaju kimono menunggang kudanya. Bukan seperti pemuda Jepang kebanyakan, posturnya tinggi ras kaukasian, matanya biru. Bersama datangnya dia, tercium aroma daun maple. Direntangkan busur panahnya, namun arahnya bukan pada sasaran yang digantung di pohon. Mata panah itu mengarah ke arah kami, mengarah ke jantung Devian.

“Mika..” pelan nama itu kusebut.

Mikhail nama laki-laki berkuda itu. Devian membawaku berlari menghindari kejarannya. Terlambat. Kulihat Mikhail sudah melepaskan anak panahnya. Dalam hitungan detik, bahu kanan Devian sudah tersayat. Darah segar merembes, menjadi noda gelap pada kaos abu-abunya.

Kurasakan punggung kaos Devian sobek di kedua sisi. Perlahan tumbuh sesuatu dari punggungnya. Hingga akhirnya mengembanglah kedua sayap besar berwarna hitam itu. Dia meraih tubuhku, membawaku terbang dalam pelukannya. Begitulah kami selalu memulai pelarian ini, hingga akhirnya dua tahun ini kami terdampar di ujung Asia Tenggara. Kupikir di kota ini pelarian kami berakhir, nyatanya tidak, pertanda itu akhirnya datang lagi.

“Aku sudah lelah..” aku pelan bersuara, hampir tak terdengar.

“Apakah ini berarti kita akan menyerah?”

Kulihat tatapan mata Devian meredup. Sepertinya dia kecewa. Hampir sepuluh tahun kami lewati pelarian ini bersama. Sepuluh tahun ini pula dia yang menguatkanku. Namun aku lelah juga pada akhirnya.

“Apakah ini berarti aku sudah tidak bisa memperjuangkanmu? Apakah aku harus melepaskanmu?”

Matanya basah. Kalau manusia menangis itu sudah biasa. Namun Devian bukanlah manusia biasa.

Angin berhembus kencang. Daun-daun kuning berguguran, bertebaran di sekelilingku. Aroma yang kukenal, aroma daun maple tercium. Waktu kembali terhenti, hanya kami yang tersisa di tempat ini.

Sosok yang kukenal. Seseorang berdiri di samping patung perawan Maria. Dengan kedua sayap putih yang menyembul di balik punggungnya, dia mantap berjalan ke arah kami. Semakin lama semakin dekat. Kurasakan genggaman tangan Devian pun menjadi semakin erat.

Dua puluh tahun yang lalu aku bisa melihatnya sedekat ini. Hanya saja semua sudah berbeda.  Matanya yang biru mengisyaratkan kebekuan. Dulu mata biru langit musim gugur itu meneduhkan. Dulu, dua puluh tahun yang lalu.

Saat itu usiaku masih tujuh tahun. Di tepian sungai Barada di pinggiran kota Damaskus, kota kelahiranku, seorang anak laki-laki tak sadarkan diri. Terkulai pada sebatang pohon yang mengapung , tersangkut pada batu besar di pinggir sungai. Bocah itu memiliki sayap yang terluka.

“Kamu tidak takut padaku?” tanyanya.  Aku menggeleng pelan sambil tersenyum.

“Nanti kalau luka di sayapmu sudah sembuh, maukah kau membawaku terbang?”

“Iya..” jawabnya dengan binar mata terindahnya, “Namaku Mika, Mikhail..” diulurkan tangannya. Aku pun menjabat tangan lembut dan hangat itu.

Setelah dua minggu, akhirnya lukanya pun sembuh. Hari-hari setelahnya menjadi hari yang terindah dalam hidupku. Paginya aku yang mengajak ia berkeliling, menyusuri jalanan kota kelahiranku. Lorong panjang yang ramai oleh penjual di kanan kirinya, kami menjelajahi pasar Hamidiyyeh. Berbagai penganan warna-warni, barang pecah belah, kain dan karpet dijual di sana. Saat malam tiba, giliran Mikhail yang memanjakanku. Melihat keindahan kota Damaskus di malam hari dari atas bukit, Jabbal Qasioun. Mikhail membawaku terbang, berpindah-pindah dari atap bangunan-bangunan tua di tengah kotaku. Hingga akhirnya malam itu di atas menara masjid yang megah, masjid Umawi, anak laki-laki bersayap itu mengecup bibirku. Saat itu usiaku masih tujuh tahun. Saat itu juga aku patah hati di usiaku yang tujuh tahun. Mikhail meninggalkanku.

Aku tersadar dari lamunan masa silamku ketika tiba-tiba kurasakan genggaman tangan Devian terlepas. Dia tersungkur. Darah di sekitar bibirnya. Beberapa detik kemudian dua laki-laki bersayap itu saling baku hantam. Gerakan yang cepat, hampir-hampir tak terlihat. Devian lebih banyak menghindar, sementara Mikhail terus menyerangnya.

“Hentikan..kumohon hentikan..” teriakanku sia-sia, mereka bukannya tak mendengar tapi tak mau mendengar.

“Aku memilih malaikatku..” aku kembali berteriak.

Sejenak perkelaian mereka terhenti. Devian terpaku. Sepertinya Mikhail tak mau melewatkan kesempatan ini. Dihempaskannya tubuh Devian ke tanah. Devian terkapar dengan luka yang parah. Aku menghampirinya, memeluk tubuh lemahnya.

“Devian, aku di sini..aku ada di sampingmu..” bisikku pelan di telinganya. Kualihkan pandanganku kepada Mikhail, “Aku memilih untuk tetap bersama malaikatku, Devian!”

“Tapi dia iblis, bukan malaikat! Tak selayaknya manusia hidup bersama iblis!”

“Aku bisa melewati semua ini karena dia ada bersamaku. Kamu ada di mana saat aku butuh?”

“Maafkan aku, saat itu aku takut. Tak seharusnya malaikat memiliki rasa. Tak seharusnya malaikat memiliki nafsu. Tapi sekarang aku datang, aku kembali untukmu..”

“Terlambat, hatiku untukmu sudah mati bersama jasadku yang hanyut di Al Furat di usiaku yang ketujuh belas. Cukup sepuluh tahun penantianku. Aku tak sanggup lebih lama dari itu untuk menunggumu. Kalau kamu pikir aku tenggelam di sungai itu karena kecelakaan, kamu salah! Aku sengaja menceburkan diriku. Harusnya sekarang aku tak ada di sini. Harusnya aku sudah mati. Aku tak pernah memintamu untuk melawan kehendak Tuhanmu! Mengapa kau mengubah garis kematianku?”

“Aku ingin menebus kesalahanku. Aku mencarimu hingga London, Paris, Costa del Soul, Bremen, Kalkuta, Kamakura, itu karena aku ingin menemuimu..”

“Tak perlu. Mungkin kamu benar, sedari awal rasamu untukku adalah kesalahan. Kamu berani menentang Tuhanmu karena aku. Aku tak mau kau dirundung sesal karenaku. Aku rela jika akhirnya kau mau mengambil kembali nyawaku. Bukankah memang seharusnya aku sudah mati?” genggaman tangan Devian menguat. Bibirnya bergerak seolah ingin mengatakan sesuatu. Aku pandangi kedua matanya, aku tersenyum padanya, ”bahkan jika setelah ini aku mati, aku tetap pada keputusanku, aku memilih berada di sisi Devian, seperti beberapa tahun terakhir ini..”

Lelaki bersayap putih itu berbalik, berjalan menjauhi kami. Dalam hatiku aku masih berharap agar ia menengok ke belakang. Tapi ternyata tidak, bahkan ia tak memberiku kesempatan melihat wajahnya untuk yang terakhir kali. Seketika daun-daun pun tumbuh kembali, pepohonan di sekitar kampus ini menjadi hijau mengiringi kepergiannya.

“Mika..”

 

Yogyakarta

25/01/12

Advertisements

5 Responses to “Akizora”

  1. anginbiru 25 April 2012 at 10:40 #

    Yuyaaa, ini keren banget..!! Sumpah..!! Bener2 takjub sama diksi dan gaya berceritamu..!! 🙂 Keren, keren!!! 🙂

    • yuya16 25 April 2012 at 11:23 #

      wah, diksi seadanya ini bukan kata-kata yg puitis, makasih ndra sudah menyempatkan membaca 😀

      • anginbiru 27 April 2012 at 12:10 #

        Justru itu.. Diksimu sederhana, tapi kuat.. Hehee. Aku bahkan mungkin gak terlalu kepikiran buat pake kata “terkulai”, dll.. ;D

        Bener tuh kata Vira, bagus nih dibikin novelet atau novel.. 🙂

  2. Vira 25 April 2012 at 14:16 #

    Wow, keren! 🙂 jd malaikatnya jatuh cinta sama manusia yg mesti dicabut nyawanya, saking cintanya dia melawan kehendak Tuhan. Asik nih! Jadiin novel! Kisahkan perjalanan 10 tahunnya bersama Devian! 😀

    • yuya16 26 April 2012 at 05:53 #

      bener juga ya, 10 tahun bersama Devian sepertinya seru untuk dikisahkan 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: