Biennale Jogja XI, Merasakan Tiap Suasananya

30 Dec

Kalau biasanya saya menceritakan tentang kisah fiksi di blog ini, kali ini tidak. Ini adalah tentang pengalaman saya mengunjungi sebuah pameran seni, BIENNALE JOGJA XI – EQUATOR #1. Pameran yang mengkolaborasikan seni, seniman India dan Indonesia.

Acara yang dilangsungkan dari 26 Nopember 2011 sampai 8 Januari 2012 di beberapa titik di kota Jogja; Jogja National Museum, Taman Budaya Yogyakarta dan beberapa tempat lainnya. Suasana tiap tempat berbeda sehingga pas jika saya beri judul: Biennale Jogja XI, Merasakan Tiap Suasananya.

Jogja National Museum 

Pertama kali datang ke Jogja National Museum bersama teman, saya kecelik ternyata Biennale ini dibuka hanya sampai jam 8 malam saja sedangkan waktu itu sudah hampir pukul 9 malam. Akhirnya beberapa hari kemudian saya menyempatkan untuk datang lagi ke sana.

Kesan pertama, misterius. Mungkin ada pengaruh dari bangunan Jogja National Museum yang memang sudah misterius, sepi dan hening. Sehingga memasuki tiap ruangan ada kesan asing. Ditambah dengan aroma yang asing pula, mungkin aroma cat di dinding-dinding ruangannya.

Suasana asing itu ada seperti halnya ketika memasuki ruangan pertama. Berada di ruangan yang luas, seorang diri dengan dua buah karya seni berupa tiang gantung sempat membuat bergidik. Alat pencabut nyawa berupa tiang gantung dengan cermin di depannya. Saya membayangkan seorang yang divonis gantung akan bisa melihat proses kematian dirinya sendiri dengan cermin tersebut. Melihat ekspresi kehabisan nafas dan mata yang melototnya sendiri.

Ruangan kedua yang menarik untuk saya adalah ruang untuk karya “Untitled Series”. Lagi-lagi saya kecelik, semula saya mengurungkan niat untuk masuk ruangan karena yang saya lihat di depan adalah kanvas-kanvas yang masih kosong. “Belum ada isinya”, kata saya waktu itu. Kemudian mbak petugas berkacamata yang duduk tak jauh dari situ memberi isyarat untuk masuk. Akhirnya saya masuk dan mendapati, ternyata di kanvas-kanvas putih yang dari jauh terlihat kosong itu terdapat karya seni berupa garis-garis dengan motif tertentu.

Kelambu cabai. Sebuah kelambu berwarna merah, ketika didekati ternyata tersusun dari roncean cabai merah. Baunya sudah tidak sedap. Lagi-lagi kesan mistis ketika melihat sebuah tempat tidur dengan kelambu besar berwarna merah, saya seperti sedang berada di sebuah adegan film horor. Setelah saya baca tulisan tentang karya seni tersebut, saya mendapati ternyata cabai di India dipercaya bisa menjaga setan tidak keluar. Yang ada di pikiran saya waktu itu, kelambu tersebut menjadi kerangkeng untuk setan-setan, sehingga ada banyak setan di tengah ranjang tersebut yang tidak bisa keluar.

Tetapi karya seni yang paling saya sukai adalah Neti Neti. Roncean manik-manik berbentuk mata membentuk pola tertentu pada background merah. Dengan cahaya yang pas menjadikannya bagus untuk background menarsiskan diri alias foto-foto.

Taman Budaya Yogyakarta

Berbeda dengan Jogja National Museum, pameran Biennale di Taman Budaya Yogyakarta menyajikan suasana yang lebih nge-pop dan lebih India.

Budaya-budaya India masa kini ditampilkan. Saya bisa mendapati majalah-majalah yang terbit di India. Rata-rata saya lihat isinya tidak begitu jauh dari majalah-majalah di Indonesia, yang berbeda hanya tokoh-tokoh lokal yang dibahas di majalah itu adalah orang India. Sedangkan pesohor internasional yang menjadi bahasan tidak jauh beda. Ada sebuah artikel tentang Justin Bieber, itu bukti bahwa di Indonesia maupun India trend saat ini tentang Justin Bieber adalah sama.

Namun tetap ada perbedaan isi terkait dengan budaya, termasuk perbedaan karena faktor genetik. Di beberapa majalah saya menjumpai iklan krim penghilang bulu dada, sesuatu yang jarang ada di majalah Indonesia. Justru di majalah Indonesia saya pernah melihat ada iklan krim penumbuh bulu dan rambut.

Ditampilkan juga beberapa bukti keterikatan Indonesia dan India sejak berpuluh-puluh tahun yang lau. Konferensi Asia Afrika, Indonesia dan India menjadi pesertanya. Selain itu budaya India memiliki pengaruh yang besar untuk seni Indonesia terutama industri musik dan film, ada sebuah cuplikan film tahun 80an yang menampilkan Benyamin S menari dan menyanyi dengan iringan musik India. Contoh yang lain dari pengaruh budaya India adalah video yang menampilkan polisi di Indonesia yang menjadi terkenal karena mengunggah video di youtube saat menari dan menyanyi lagu India di sela-sela tugasnya, Briptu Norman. Juga sediakan audio-audio musik India yang bisa didengarkan pengunjung. Serta budaya lain khas India seperti Sari dan makanan tradisional India.

 

Namun ada sedikit rasa kecewa, waktu pertama kali datang, ada sebuah dinding berwarna putih. Sepertinya dinding tersebut menjadi tempat untuk pengunjung yang ingin menuliskan pesan dan kesan selama mengunjungi Biennale. Saya menjadi salah satu yang memenuhi dinding tersebut dengan tulisan. Hanya saja waktu kedatangan saya yang kedua, dinding tersebut sudah putih lagi, tulisan saya sudah tidak ada jejaknya.

Itu tadi adalah suasana yang saya dapatkan selama mengunjungi Biennale di Jogja National Museum dan Taman Budaya Yogyakarta. Namun tunggu dulu kesan saya tidak hanya sampai di situ saja.

Jogja Kota Cinta

Sewaktu datang ke Taman Budaya Yogyakarta, saya membaca sebuah leaflet tentang Jogja Kota Cinta, salah satu acara dari rangkain Biennale. Menari massal tarian India di titik 0 kilometer tiap hari Minggu jam 6 pagi. Saya terlewat untuk latihan hari pertama pada tanggal 4 Desember 2011. Karena rasa penasaran saya pada tarian India, juga guilty pleasure saya adalah menonton film India, maka saya berniat untuk datang pada latihan-latihan di minggu berikutnya. Meskipun gerimis saya tetap datang pada latihan tanggal 11 Desember. Sekalinya datang, saya langsung ketagihan. Hingga latihan berikutnya pun tak terlewat. Yang paling luar biasa adalah, pada 25 Desember lalu saya menjadi salah satu dari ratusan orang yang menarikan tarian India di titik 0 km. Pengalaman yang tak akan terlupakan. Bahkan sampai sekarang lagu india yang mngiringi kami masih terngiang di telinga. Everybody Sing Soni Soni Aaja Mahi Ve..



Parallel Event

Tak hanya itu saja. Masih ada parallel event Biennale, kolaborasi seni kelompok maupun individu yang ikut memeriahkan acara Biennale ini. Saya sempat mendatangi salah satunya di Alun-Alun Selatan. Beberapa karya dari anak-anak tuna rungu dipamerkan. Ada lukisan sablon dan patung-patung kecil dari tanah liat.

Yang terakhir dan masih membekas di ingatan adalah pertunjukan tari Indonesia-India yang baru digelar semalam di Amphi Theatre TBY. Ada  tarian Indonesia dan India oleh Pragina Gong dan perguruan Laksmi dikolaborasikan dengan mural. Rasanya tidak rugi berbasah-basah kehujanan untuk menuju tempat acara karena penampilan mereka semalam sangat memukau.

 

Terimakasih untuk Biennale Jogja XI yang sudah menghadirkan suasana luar biasa, suasana berbeda, suasana India. Terlebih telah memberi kesempatan saya merasakan serunya menari massal tarian India di Jogja Kota Cinta. Aaja Mahi Ve!

Advertisements

One Response to “Biennale Jogja XI, Merasakan Tiap Suasananya”

  1. Isni Rakhmi Dianti 31 December 2011 at 10:14 #

    wahhh…seru ya kayaknya mas…coba deket, pengen kesana…hihi…liat mas nari2 indiaa…hahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: