Megat Ruhing Asmara

29 Jul

Akhirnya telah kulalui hari yang pernah kita resahkan sebelumnya. Saat fajar telah menggantikan dewi malam, tapak-tapak kuda pada rerumputan menjejak ke arah utara. Kuda gontai berjalan perlahan, pulang sendirian tanpa tuannya. Hingga kabar itu menguatkan persangkaanku. Majapahit telah menerima kabar duka, sebuah berita kematian. Saat itu perasaanku mendua. Aku bimbang untuk sekedar memilih bahagia atau berduka. Namun aku tak menangis karenanya. Aku lega. Dalam dukaku atas kepergianmu, aku merayakan persandingan cinta kita berdua di kahyangan sana.

Manusia hanya sekedar menerbangkan persangkaan, kemudian bersiap jika angin menjadikannya jauh dari tujuan. Takdirlah yang berbicara. Dewatalah yang berkehendak.

Bukankah seharusnya kini aku bahagia? Menemukanmu bukan dalam wujud jasad tanpa nyawa. Kamu masih sama seperti kala itu. Saat hening malam, hanya tetes-tetes sisa hujan dari ranting dedaunan yang terdengar, kepak-kepak sayap kelelawar yang tiba-tiba menjadi nyaring. Kita masing-masing diam, takluk pada sebuah kata perpisahan.

Hari ini, sama hal nya dengan hari itu. Kita masing-masing diam,  bersembunyi dari sebuah kenyataan di masa depan. Kenyataan tentang perpisahan yang menyakitkan. Celakanya aku harus mengalami saat-saat seperti ini untuk kedua kalinya.

Mungkin akan lebih mudah kalau tidak perlu ada hari ini. Kita tidak perlu menunggu siapa yang akan memulai berbicara. Kita tidak perlu menerka-nerka apa yang akan kita dengar. Tak usah memikirkan kalimat-kalimat terbaik kita. Tak usah menyiapkan kata-kata perpisahan kita.

“Anjasmara, adikku, tinggallah seperti dulu..”

Akhirnya kau memecah keheningan dengan kata-kata yang sama seperti waktu itu. Tidakkah kita seharusnya malu pada bulan yang diam, angin yang berhembus pelan, yang mendapati kita di tempat yang sama seperti hari itu, dalam keadaan yang sama seperti waktu itu, membicarakan hal yang sama seperti kala itu. Bagaimana bisa kaupinta aku berlaku seperti dulu, sementara kau kini tak lagi seperti dulu.

“Kangmas Damarwulan, kalau kau meminta aku berlaku seperti dulu, bisa jugakah aku memintamu menjadi seperti yang dulu?”

Lagi-lagi kita terdiam. Hanya angin malam yang berhembus pelan, membawa hawa dingin yang membuat kita semakin kikuk dengan keadaan. Kau tak menjawab pertanyaanku. Aku tahu, bukan karena kau tak mau, tetapi karena kau tak mampu untuk itu.

“Kangmas Damarwulan, seperti yang kauucap dulu, lewat remang kunang-kunang, kaulupakan wajahku, kulupakan wajahmu..”

Bagiku semua sudah usai bahkan jauh sebelum pertemuan terakhir itu. Sejak bergulir kabar dari istana perihal mimpi sang Ratu.  Mimpi tentang seorang satria muda utusan Majapahit yang bertarung melawan Minak Jinggo penguasa Blambangan.

Manusia hanya sekedar menyulutkan harapan, kemudian bersiap menerima jika tiba-tiba padam. Sekali lagi takdir yang berbicara. Dewatalah yang berkehendak.

Dewatalah yang memberikan petunjuknya lewat mimpi. Majapahit akan selamat karena seseorang. Kamu, Damarwulan, lelaki yang terpilih itu. Lelaki yang hadir dalam mimpi Ratu Kencono Wungu. Nyatanya memang benar bukan, mimpi ratu bukanlah kebetulan. Kamu pulang ke Majapahit dengan membawa berita gembira, kepala Minak Jinggo sebagai bukti kemenangan.

Aku bahagia atas kemenanganmu, meski aku harus terima hancurnya keluargaku. Layang Seta, Layang Kumitir, dua kakakku tewas di tanganmu. Ayahku, Patih Loh Gender pun harus meninggalkan kepatihan. Itu juga karenamu. Manusia menuai apa yang ditebarkannya. Begitu pun mereka layak menanggung semua karena keserakahannya. Jabatan keningratan yang membuat mereka buta. Kedengkian yang membuat mereka tega mencelakakanmu. Aku terima itu semua sebagai garis dewata sang kuasa.

***

Namaku Anjasmara, putri Loh Gender patih Majapahit. Tak ada yang istimewa dariku selain aku mencintaimu. Aku jatuh cinta padamu bersama dengan aroma sisa-sisa rumput yang baru saja disabit. Aku jatuh cinta padamu bersama ringkik-ringkik kuda yang kekenyangan. Aku jatuh cinta padamu hingga kudengar panggilan “ndoro putri” berubah menjadi “adikku”. Aku jatuh cinta padamu sejak kau masih abdi dalem keluargaku, pencari rumput dan penjaga untuk kuda-kuda ayahku.

Sesungguhnya hari ini adalah hari yang telah kucemaskan sebelumnya. Resahnya lebih resah daripada mendapati kudamu pulang tanpa tuannya. Risaunya lebih risau daripada mendengar kabar kematianmu. Hari yang kucemaskan sejak pertemuan kita di kala itu, sebelum keberangkatanmu ke medan perang. Sebuah peperangan yang telah kuketahui hasilnya. Menang atau kalah, bagiku sama saja. Kematian.

Aku hanyalah wanita biasa bukan penguasa bumi nusantara. Aku hanya wanita biasa yang mencintai seorang laki-laki biasa, pencari rumput dan pejaga kuda. Aku tidaklah mencintai dia yang kini duduk di singgasana, bersandingan dengan permaisurinya, Ratu Kencono Wungu. Aku tidaklah mencintai dia yang kini bergelar Prabu Bre Wijaya. Kalaupun aku duduk di sini, menjadi istri selir sang Raja, semata-mata karena baktiku pada istana. Kalau paduka yang berkehendak, masih bisakah aku menolak?

Hari ini aku merayakan kematian cintaku bersama Damarwulan, laki-laki biasa pencari rumput dan penjaga kuda.

Merupakan side story dari kisah Damarwulan dan Anjasmara, terinspirasi dari sajak Goenawan Muhamad yang berjudul Asmaradana

ASMARADANA

Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun,
karena angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah
pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti,
yang jauh. Tapi di antara mereka berdua, tidak ada yang
berkata-kata.

Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia melihat peta,
nasib, perjalanan dan sebuah peperangan yang
tak  semuanya disebutkan

Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila esok
pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara,
ia takkan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba,
karena ia tak berani lagi.

Anjasmara, adikku, tinggallah, seperti dulu.
Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.
Lewat remang dan kunang-kunang, kau lupakan wajahku
kulupakan wajahmu.

gambar: wayang klitik anjasmara

sumber: http://de.tk/zJGF0

Advertisements

4 Responses to “Megat Ruhing Asmara”

  1. suryasheina 10 August 2011 at 04:36 #

    adeudeuh.. . puitis sekali yak. *berpikir keras buat baca*

    • yuya16 10 August 2011 at 09:18 #

      mungkin karena sajaknya Goenawan Muhamad yg puitis banget 🙂

  2. siswanto 5 October 2011 at 06:19 #

    waw, keren abis bro cerpenmu

    • yuya16 6 October 2011 at 03:58 #

      wah, thx abis bro 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: