Kita yang Tak Sama

29 May

“Mengapa di saat injury time seperti ini, Tuhan justru memasukkanku sebagai pemain pengganti?”

Itu sebaris kalimat yang tiba-tiba kauucapkan semalam saat aku menemanimu menonton bola. Aku pun terus memikirkannya hingga pagi ini.

***

Tak ada yang salah denganmu. Di usia tiga puluhan ini kamu sudah mapan dengan pekerjaanmu sebagai direktur di sebuah perusahaan periklanan. Wajahmu terbilang ganteng, khas laki-laki Menado. Pujian ini kuberikan bukan karena aku memiliki kedekatan denganmu, teman-temanku pun bilang seperti itu. Senyum yang membuatku mau tak mau harus membalasnya, tatapan mata yang meneduhkanku, begitu pun dengan sikap dan perhatianmu kepadaku, sempurna.

Adakah yang lebih tragis dari kisahku, ketika undangan sudah disebar dan pernikahan batal dilangsungkan. Kupandangi kertas undangan lama berwarna ungu ini. Anita Ramadhani dan Syahrul Ashari, dua nama mempelai yang tertera di sana, namaku dan namanya. Namun sayang, dua nama itu hanya bisa bersanding di atas kertas undangan saja.

Hari ini setahun yang lalu, lima tahun yang telah kami jalani bersama. Hari ini setahun yang lalu, seminggu sebelum hari pernikahanku dan dia. Hari ini setahun yang lalu, Syahrul Ashari, calon mempelai priaku dimakamkan karena kecelakaan sehari sebelumnya. Kalau Allah sudah berkehendak, lantas bisa apa aku? Lima tahun yang telah kujalani bersama, lima tahun menumpukan harapanku padanya, mau tak mau aku harus terima, Allah mengambilnya sebelum memberikannya kepadaku. Aku kehilangan separuh hidupku.

Entahlah, tanpamu mungkin aku tak akan bisa melewati setahun ini. Syahrul waktu itu yang memintamu untuk membantu mengurus persiapan pernikahanku dan dia. Nyatanya lebih dari itu, kamu pun akhirnya membantuku bangkit di saat-saat tersulitku. Theodorus Alvano, mengapa harus kamu?

Satu tahun ini kamu selalu ada di hidupku. Aku pun menjadi terbiasa atas keberadaanmu. Memang tak pernah ada kata yang terucap untuk menjadi pertanda ikatan di antara kita. Perhatianmu kepadaku tentu bukan perhatian sesama teman saja. Kita lebih dari itu. Namun ”Aku cinta kamu” tak pernah terucap dari bibir kita. Takut, aku takut untuk mengucapkannya, begitu pun dengan dirimu, kurasa. Ada sebuah akhir yang masih samar di depan sana, sebuah konsekuensi untuk sebuah kata cinta. Pengorbanan.

Mungkin ceritanya akan berbeda, jika namamu Akhmad atau Muhammad, bukan Theodorus. Namamu yang menjadikan kita memiliki Tuhan yang berbeda meskipun kata orang Tuhan itu satu. Iya, mungkin benar penggalan lirik lagu Peri Cintaku milik Marcell, Tuhan memang satu, kita yang tak sama. Kita menyembahnya dengan cara yang berbeda.

Akhirnya sampai saat ini kita pun hanya bisa membohongi diri sendiri. Kita memendam pertanyaan masing-masing. Berharap ada keajaiban di depan sana. Keajaiban yang entah wujudnya seperti apa.

Aku ingat sebuah pertengkaran di antara kita setelah menonton dvd film cin(T)a. Semula kuberharap ada jawaban atas pertanyaan kita di film itu. Nyatanya tidak, bahkan Cina dan Nisa pun akhirnya tidak bisa bersama karena mereka beda.

”Bagaimana dengan kita?” tanyaku waktu itu.

Kamu hanya diam, kaugenggam kedua tanganku lantas kaupeluk diriku. Mencoba memberi isyarat bahwa semua akan baik-baik saja. Tidak, semua tidak baik-baik saja.

”Bagaimana dengan kita?” kuulangi pertanyaanku.

”Kita cuma butuh saling menghormati pilihan masing-masing, dan itu sudah kita lakukan hingga saat ini, kita pasti bisa melaluinya hingga suatu saat nanti..” akhirnya kamu bersuara.

”Theo, kita memang tidak pernah mengusik pilihan agama masing-masing. Kamu sangat menghormati pilihanku, kamu sediakan tempat khusus di rumahmu untukku sembayang lengkap dengan sajadah dan mukena, kamu selalu mengingatkanku kalau sudah tiba waktu sholat, aku pun datang dalam acara keluargamu saat perayaan natal, tapi itu tidak cukup Theo! Aku bingung dengan masa depan kita..”

”Pilihannya hanya ada dua. Kita menikah di depan penghulu atau pemberkatan di gereja..” kamu bergetar mengucapkannya.

Kita pun diam. Aku tahu, kamu pun pasti tak yakin dengan jawaban yang keluar dari mulutmu.

***

”Selamat ulang tahun..” sambil kaukecup keningku.

Kupandangi birthday cup cake yang kaubawa. Sebuah lilin menyala di atasnya.

”Harusnya ada dua lilin disana, angka tiga dan nol..”

Tiga puluh. Usiaku sekarang tiga puluh. Aku sudah tidak tidak muda lagi. Sudah tak terhitung berapa kali orang tuaku mendesak. Bahkan kedua adikku pun sudah melangkahiku.

”Keluargaku sudah terlalu sering memmpertanyakannya. Aku lelah. Aku butuh menikah, Theo..”

”Iya, aku tahu. Sekarang kita harus bagaimana?”

”Seperti katamu, pilihannya hanya dua, kita menikah di depan penghulu atau pemberkatan di gereja..”

Tiba-tiba semua terasa hening. Lagi-lagi kita diam dengan pikiran masing-masing. Theo, aku tahu ini pun sulit bagimu karena ini bukan semata-mata memilih untuk menikah dimana.

”Aku, kamu, berakhir sampai di sini..”

Aku sudah memikirkannya. Aku dan kamu tak jauh beda dengan Nisa dan Cina yang tak bisa bersatu. Mungkin benar kata Nisa, kalau sampai akhirnya Tuhan saja bisa kamu khianati, apalagi aku. Aku tidak ingin di antara kita ada yang menipu Tuhannya masing-masing. Aku bukan menyerah mencintaimu, justru aku sedang memperjuangkan masa depanku, masa depan anak-anakku kelak.

~ teruntuk sahabat saya Ponti, semoga lekas menemukan Muhammad-mu :))

tulisan ini untuk meramaikan Swaragama Writing Competition

 

gambar birthday cake, sumber : http://pinkginghamgirl.blogspot.com/2011/04/is-30-magic-number.html

Advertisements

9 Responses to “Kita yang Tak Sama”

  1. elga 31 May 2011 at 18:32 #

    duh…saya paham dilema cerita ini. Maunya sih cuma ada kamu dan aku, tapi ternyata ada juga mereka. Padahal andai cuma ada kamu, aku dan Dia…

    nice story anyway…salam,
    Elga

    • yuya16 2 June 2011 at 03:38 #

      terimakasih elga, sudah mampir kemari 🙂

  2. mumu 17 June 2011 at 03:40 #

    Wwoooowwwww pasti terinspirasi curhatnya Ponti? 😛

    Ah Yuyaaaa.. Cerita sendu yang menarik! Semoga berhasil yaaaa..

    • yuya16 17 June 2011 at 06:49 #

      sayangnya tidak berhasil..:)
      tapi tak apa, ini hadiah untuk ponti 🙂

      • almaskaramina 25 July 2011 at 05:10 #

        maksudnya tidak berhasil gimana?

      • yuya16 25 July 2011 at 11:56 #

        ga berhasil lolos swaragama competitionnya

  3. belindch 7 July 2011 at 13:09 #

    baguuuuuss.. ..<

  4. almaskaramina 30 July 2011 at 04:06 #

    Ohh gapapa tho tapinya?
    Yang penting lolos ke hatiku.
    *ya menurut looo*
    :)))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: