Atas Nama Kusta Aku Cemburu

7 May

Aku cemburu..

Cemburu? Bolehkah aku merasakan cemburu? Pertanyaan serupa yang sering kutanyakan, bolehkan aku merasakan cinta? Entahlah, sepertinya aku tak layak untuk memiliki semuanya, cemburu dan cinta.

Reda, gadis berumur lima belas tahun. Lima tahun lebih muda dariku. Seharusnya dia tidak berada disini. Cukup aku saja yang mendiami tempat ini.

Hari ini dia terlihat sangat senang. Wajahnya sumringah. Beberapa lembar kertas surat warna-warni di tangannya. Dia berjalan menghampiriku kemudian duduk di depan meja samping ranjangku.

“Aku mau menulis surat..” katanya kepadaku.

“Untuk siapa?”

“Rahasia..” jawabnya sambil tersenyum.

Senyum yang paling indah yang pernah kulihat. Dia sangat cantik. Setidaknya begitu menurutku.

Aku cemburu..

Sudah pasti senyumnya itu karena seseorang. Sayangnya seseorang itu bukan aku, melainkan seorang laki-laki bernama Rio. Victorio nama lengkapnya. Seorang mahasiswa psikologi di sebuah perguruan tinggi negeri di Semarang.

Aku tak habis pikir, apa yang ada di kepalanya hingga akhirnya dia memutuskan untuk mendatangi tempat ini. Mungkin aku bisa maklum jika ada kerabatnya yang tinggal disini. Tapi tidak, dia mendatangi tempat ini tanpa alasan yang jelas. Hanya ingin berbagi katanya.

Aku sempat bertanya. Apa iya ada manusia seperti ini? Jangan-jangan dia malaikat yang menyamar menjadi manusia. Namun ternyata, Tuhan memang masih berbaik hati menciptakan manusia sepertinya. Victorio, seorang laki-laki yang peduli pada kami; aku, Reda, dan belasan orang lainnya yang mendiami tempat ini. Rumah Sakit Tugu Semarang. Sebuah bangsal khusus, bangsal untuk penderita kusta.

Aku dan Reda adalah penderita kusta. Sudah kubilang, seharusnya Reda tidak disini. Dia bisa saja melakukan rawat jalan di poliklinik kusta. Penyakitnya belum terbilang parah. Tapi aku yakin, ketidakparahan kustanya cukup membuat kalian bergidik. Bengkak, dan ruam-ruam warna merah di wajahnya.

“Melihat bayangan wajahku di cermin saja aku merinding. Jijik. Takut. Apalagi orang lain..”

Itu kata-kata yang diucapkannya saat pertama kali datang ke rumah sakit ini, enam bulan yang lalu. Reda memilih untuk tinggal di bangsal ini karena tidak ingin membuat orang lain bahkan termasuk keluarganya sendiri merasa tidak nyaman atas kehadirannya. Reda tidak ingin membuat orang lain kehilangan nafsu makan karena jijik melihatnya. Di tempat ini kami semua sama, penderita kusta.

Waktu itu aku hanya bisa tersenyum. Senyum cibiran untuk diriku sendiri. Kalau orang lain saja jijik melihat Reda, bagaimana kalau mereka melihatku? Penyakitku lebih parah. Luka yang selalu basah karena infeksi. Beberapa organ tubuhku sudah rusak. Dua jari di tangan kananku pun harus kurelakan untuk diamputasi dan wajah yang tak jauh beda dengan monster. Mungkin orang akan langsung muntah kalau melihatku.

“Kita harus sembuh!” Reda membuyarkan lamunanku.

Sembuh? Ini pasti gara-gara Victorio itu. Dulu Reda berkeras kalau selamanya dia akan ada disini. Hidup bersama penderita kusta lainnya.

Aku ingat, minggu-minggu awal dia disini, yang ada hanya air mata. Hampir tiap hari dia menangis. Dia merasa Tuhan tidak adil.

“Sepertinya Tuhan setengah hati menciptakan aku. Kalau hanya akan menjadi monster seperti ini, tidak ada gunanya aku hidup di dunia” katanya di sela-sela isak tangisnya.

Iya, sejak usia remaja, usia yang seharusnya kami bisa bermain dengan teman sebaya, kami sudah mendapat kutukan ini. Kebahagiaan kami sudah tersita sejak saat itu hingga saat ini, bahkan hingga nanti saat ajal menjemput kami. Atau mungkin ajal adalah suatu kebahagiaan yang kami nantikan.

Aku senang jika akhirnya Reda punya semangat untuk sembuh. Dia layak merasakan kesembuhan. Meskipun aku akan kehilangan dirinya, jika sampai ia meninggalkan tempat ini. Aku akan tetap disini.

Aku cemburu..

Aku cemburu karena bukan aku yang memberikan semangat itu. Bagaimana mungkin aku memberikan semangat untuk sembuh jika aku sendiri berpikir sembuh adalah sesuatu yang jauh. Sesuatu yang bahkan membayangkannya pun aku tidak mampu. Aku takut.

Reda. Usianya masih muda. Masih banyak kesempatan untuknya. Sedangkan aku? Aku sudah terlalu lama berada di rumah sakit ini. Kesembuhan itu masih jauh, masih ada belasan tahun lagi mungkin untuk bisa dibilang sembuh. Mungkin kalian berpikir apakah aku cukup kaya sampai bertahun-tahun di rumah sakit ini? Tidak. Untungnya pemerintah membebaskan biaya perawatan penderita kusta. Meskipun begitu itu tak menjadikan kami lebih bersemangat untuk sehat. Lelah, kami lelah dengan penyakit ini.

Aku tak bisa membayangkan kalau pun akhirnya aku bisa keluar dari sini. Tak ada pendidikan yang sempat kuenyam. Terlebih cacat tubuhku ini akan membuatku menjadi orang terbuang di dunia luar. Dunia yang tak pernah memanusiakan kami. Justru di tempat inilah kami merasa dianggap sebagai manusia. Bahkan beberapa temanku sengaja mencongkel lukanya agar lebih jauh lagi dari kesembuhan. Agar tetap disini. Tetap dimanusiakan. Jangan khawatir, mungkin untuk kalian itu terdengar menyakitkan, tapi tidak untuk kami, kami sudah bebal dan mati rasa.

”Kamu ingat apa kata Kak Rio?” Reda tiba-tiba bertanya padaku sementara aku hanya menggeleng.

”Namaku Reda, bagus katanya. Reda seperti air mata yang berhenti menetes di pipi. Reda seperti langit yang kembali cerah setelah hujan yang jatuh. Reda seperti sakit yang tak lagi menyiksa.”

Aku mengangguk-angguk. Iya aku ingat apa yang Rio bilang seminggu yang lalu. Aku cemburu karena aku tak pernah mengira nama Reda sebegitu dalam artinya.

”Aku sudah selesai menulis surat..”

”Kau akan mengirimkannya, untuk Rio bukan?”

Reda tersenyum dan menggeleng pelan,”surat ini untukmu..”

Untuk Mas Kluwung

Mas, kita harus sembuh. Kita harus keluar dari sini. Dunia luar mungkin kejam tapi masih ada Victorio – Victorio lain di luar sana. Aku akan menunggumu.

Ingatlah, hujan pasti akan reda, dan pelangi kan hadir untuk kita. Amin

Reda

Aku cemburu..

Masih ada Victorio-Victorio lain di luar sana..

Jogja, 30 April 2011
hadiah wisuda untuk kak rio 🙂

gambar >> http://mawaritumerah.wordpress.com/tag/imajinasi/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: