Sebentuk Pesan Rindu

24 Mar

Sebentuk Pesan Rindu

Namaku Andri Mardian. Karyawan di sebuah bank swasta. Tertarik pada buku, olah raga dan musik. Sedikit informasi yang kutulis di profil facebook-ku.

Kemeja putih bergaris dan celana kain warna hitam. Gel untuk rambut dan juga parfum. Sempurna, hari ini aku sengaja tampil beda. Tentu saja karena sebentar lagi akan menjadi saat yang special, merayakan ulang tahunmu. Candle light dinner, romantis bukan? Seperti malam-malam sebelumnya, makan malam bersama mu akan terasa istimewa.

Be Strong Indonesia, buku kumpulan cerpen yang ditujukan untuk korban bencana di Indonesia. Siapa pun yang memiliki ide pembuatan buku ini, sepertinya aku harus berterimakasih padanya. Bukan hanya karena seluruh hasil penjualan disumbangkan untuk korban bencana, namun juga karena berawal dari buku ini lah kisahku bermula.

Sudah sebulan ini buku kumpulan cerpen ini selalu ada di tanganku. “Sebentuk Pesan Rindu” cerpen di halaman 50 kubaca berulang kali. Bahkan kini aku tak perlu lagi melihat daftar isi untuk sampai ke halaman ini. Ada sebuah kisah disana, seseorang yang merindukan calon pasangan hidup yang belum pernah ditemuinya. Dikirimkannya sebentuk pesan rindu, sebuah puisi untuk yang dirindukannya.

Sebentuk Pesan Rindu
Sebentuk pesan rindu
Kata yang terucap
Namun tak ada yang mendengar
Selain telingamu
Sebentuk pesan rindu
Isyarat yang terbuat
Namun tak ada yang melihat
Hanya matamu
Lantas mengapa kau masih disitu
Sedangkan aku disini
Menunggumu dengan rinduku

Mungkin aku berlebihan, terus terang sejak awal aku membaca puisi itu, aku menangkap sebuah isyarat di dalamnya. Sebuah isyarat dari seseorang, untukku.

Zakia Nurlita, nama yang tertera pada salah satu halaman buku ini. Nama penulis cerpen “Sebentuk Pesan Rindu”. Nama seseorang yang isyaratnya ku tangkap dari puisinya. Zakia Nurlita, namamu.

“Selamat ulang tahun…” ucapku lirih.

Semua seperti yang sudah ku persiapkan. Aku duduk di kursiku. Dua buah piring lengkap dengan makanannya, dua gelas minuman dan tentunya lilin yang membuat suasana semakin teduh di atas meja kita. Namun ada satu yang kurang, kamu.
Kita memang sedang makan bersama, seperti hari-hari sebelumnya. Aku makan disini, di ruang makan rumahku sendiri sedangkan kau disana, di rumahmu makan malam bersama keluargamu, setidaknya begitulah yang tertulis di status facebook-mu.

Sejak ku baca namamu di buku itu, tak henti-hentinya terpikirkan tentang sosok mu. Iseng aku mencari namamu di situs jejaring sosial. Dan aku menemukanmu.

Semenjak kau menerima permintaan teman dari ku, hingga saat ini hari-hariku adalah status facebook-mu. Kamu tak pernah tahu, aku begitu hafal tentangmu. Kau selalu memejamkan mata pada angka 10 dan membuka mata pada angka 5. Nasi goreng dengan irisan sosis dan segelas jus alpukat menjadi favoritmu. Cardigan warna coklat dan rok panjang sering kau kenakan. Waktu-waktu senggangmu untuk menulis puisi dan cerpen. Kamu suka menghabiskan soremu di taman komplek perumahanmu.

Tanpa pernah kau sadari, kita sering melakukan hal bersama. Makan, jalan atau bahkan tidur. Aku sering mencocokkan waktuku dengan waktumu. Jika ku baca status di facebook-mu, kamu sedang makan, sesegera mungkin aku pun duduk di meja makan. Begitupun saat kau tulis di statusmu kalau kau mulai mengantuk, ingin tidur, aku pun segera merebahkan diriku di ranjang. Semua ini semata-mata karena aku ingin lebih dekat denganmu.

Aku sudah membaca note-note berisi puisi dan cerpenmu. Aku sangat suka tulisanmu. Hanya saja sampai saat ini aku masih tidak punya nyali untuk sekedar menuliskan komentar. Begitu pun pada status-satusmu, aku hanya membaca dan mengingatnya. Sekedar memberikan tanda like pun tidak.

Hal yang paling berani yang ku lakukan adalah menuliskan satus dan note balasan untuk mu meski tak menyebutkan itu tertuju padamu. Pernah saat kau tulis status “Lagi makan mie goreng, enak banget, aku sukaaa..”, seketika itu juga ku tulis di satus facebook-ku “Aku juga suka mie goreng”. Pernah juga saat statusmu “Aduh pusing banget, aku demam”, aku pun membalas di statusku “Semoga cepat sembuh”.

Mungkin aku agak gila. Aku bahkan sering tiba-tiba pergi ke suatu tempat hanya karena kamu menulis status sedang berada disana. Tentunya aku tidak menghampirimu, hanya melihatmu dari jauh. Sungguh aku sadar tingkahku ini sangat tidak masuk akal. Aku begitu menggilai mu.

Ku Terima Pesanmu dengan Selamat
Untuk kata yang kau ucap
Aku mendengar
Untuk laku yang kau buat
Aku melihat
Pesanmu sampai di hatiku dengan selamat

Sebuah puisi yang tertulis di note-ku begitu kau menerima permintaan teman dari ku.

Aku lelah. Mengagumi mu tanpa kau tahu itu melelahkan. Rasanya cukup sudah satu bulan ini. Aku tak ingin waktuku semakin terbuang tanpa arti.

***

Zakia Nurlita. Mahasiswi jurusan akuntansi di sebuah Perguruan Tinggi Negeri. Hidup saya tidak jauh-jauh dari writing, traveling dan shopping. Itulah sebagian yang tertulis di profil facebook-ku.

Semua dimulai beberapa minggu yang lalu. Seseorang bernama Andri Mardian mengirimkan permintaan pertemanan di akun facebook-ku. Namanya asing, aku tidak mengenal nya. Setelah ku approve, ku lihat lagi profilnya. Tidak ada common friends, tidak ada sedikit pun latar belakang yang menghubungkan kami. Tapi ya sudahlah, mungkin dia salah satu dari pria-pria di luar sana yang menjadi pengagumku.

Tadinya aku tak ambil pusing dengan sosoknya. Baru setelah ku lihat ada postingan note dengan judul “Ku Terima Pesanmu dengan Selamat”, sebuah puisi oleh Andri Mardian, aku ingin mengetahui lebih tentang nya. Satu hal yang baru kusadari, dari album fotonya ku pastikan laki-laki ini cukup ganteng.

Sayang hingga beberapa minggu ini, laki-laki ini tidak pernah memberikan respon apa-apa untuk mengenalku lebih jauh. Aku merasa sangat tidak mungkin untuk tiba-tiba menulis di wall-nya, say hi, “Terimakasih sudah mau jadi temanku” atau tiba-tiba aku memberikan komentar pada status-status nya. Apa nanti kata dunia?

Namun ada yang aneh, dia selalu menuliskan status begitu ku update statusku. Isi status nya pun seperti balasan pada statusku. Entahlah apa memang status-satus itu ditujukan untukku, atau malah aku yang kegeeran. Sekali lagi aku tak mungkin untuk mengomentari statusnya, atau bertanya padanya, “Hai ini status balasan untuk status ku kah?”
Kadang aku sengaja menulis status hanya untuk mengetahui apa yang akan ditulis dalam statusnya. Aku juga sering memberitahukan keberadaanku dimana, berharap dia datang tiba-tiba dan menghampiriku, namun sayang itu tak pernah terjadi.

Sungguh laki-laki ini hampir membuatku gila. Hampir setiap hari aku terpikirkan olehnya. Hampir tiap hari pula note yang ku posting di facebook adalah tentang dia.

Menunggu Kado Terindah
Kali ini aku tak perlu bermetafora
Kali ini aku tak peduli dengan pilihan kata
Aku tak ingin membuatmu sulit untuk mencerna
Aku tak ingin ada yang tercecer, ada yang tersisa
Aku ingin pesan ku utuh kau terima
Hai, kamu…
Aku menunggu kado terindahmu

Sebuah puisi yang ku tulis dini hari tadi. Iya, hari ini aku berulang tahun. Sengaja aku tak pergi kemana-mana, hanya di rumah saja. Seharian ini aku berkali-kali mengecek akun facebook-ku, berharap dia akan mengucapkan selamat ulang tahun di wall facebookku.

Selamat ulang tahun, semoga usianya semakin berkah. Terus menulis ya, saya suka dengan tulisan-tulisan kamu
-Andri Mardian-
February 6 at 11.50 pm

Aku bahagia. Ini adalah kado terindah, dan aku yakin akan menjadi awal untuk mengenalnya lebih jauh lagi. Tunggu Andri, aku akan segera membalasnya..

ada di buku E-Love Story #20
*mencoba menulis romantis tapi entahlah, sepertinya masih harus belajar menjadi romantis..

 

gambar >> http://www.pimpmyspace.org

Advertisements

3 Responses to “Sebentuk Pesan Rindu”

  1. amalia achmad 16 April 2011 at 03:30 #

    iiihhhh ternyata kamuuu keren sekali tulisan2nyaaa… aaahhh… senang kenal sama penulis keren semacam kulkas, eh salah, semacam kamu 😀

    • yuya16 16 April 2011 at 10:32 #

      hahaha keren semacam kulkas, makasih ya lia sudah berkenan mampir dan membaca, tulisan km yg di writingsession jg keren 🙂

  2. elga 31 May 2011 at 18:45 #

    stok kulkasnya masih sedikit..tapi oke juga ya yang ini..bikin senyum-senyum sendiri. Gawat. Ini kulkas atau apa? Mungkin harusnya jadi kotak P3K >>> Pertolongan Pertama Pada Kebosanan 😀

    haha. gak penting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: