Satu Satu Aku Sayang Ibu

7 Nov

Pita berwarna kuning mengelilingi sebuah rumah. Pita bertuliskan “Garis Polisi Dilarang Melintas”. Orang-orang berkerumun diluar garis itu.

Di sebuah ruang tamu, goresan kapur putih pada lantai mengikuti bentuk seseorang. Sesosok laki-laki terkapar. Darah menggenang. Belasan luka tusuk di tubuhnya. Bau anyir bercampur dengan bau alkohol tercium. Laki-laki itu mati.

“Aku yang membunuh suamiku. Bukan anakku.” teriak histeris seorang wanita.

Seorang anak laki-laki berumur tujuh tahun, asyik dengan mainannya, tak peduli dengan keramaian di sekelilingnya. Boneka panda di tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya memegang pisau berlumuran darah. Ditusuk-tusuknya boneka panda dengan pisau itu. Orang bilang dia penyandang autis, namun tak sedikit yang bilang dia itu anak idiot. “Satu satu aku sayang ibu, dua dua juga sayang ayah..” anak itu bernyanyi sambil terus menusukkan pisau ke bonekanya.

Polisi membawa paksa anak laki-laki itu. Borgol membelenggu kedua tangannya. Sementara seorang wanita masih tetap histeris, berusaha menarik si anak laki-laki dari pegangan polisi tadi. Menghalangi polisi itu membawa anaknya pergi. Namun polisi itu terlalu kuat, wanita itu jatuh tersungkur. Wanita itu menangis.

“Jangan bawa anakku. Dia tidak bersalah.” teriak wanita itu, pasrah melihat anaknya dibawa pergi. Sedangkan si anak laki-laki begitu menikmati perjalanannya dengan mobil tahanan itu.

***

Di sebuah lembaga pemasyarakatan untuk anak, seorang anak laki-laki asyik dengan boneka pandanya. Lirih dia bernyanyi “Satu satu aku sayang ibu, dua dua juga sayang ayah…”

Iya, aku sayang ayah karena dia jarang di rumah. Ayahku seorang pecandu alkohol. Ayah selalu pulang dalam keadaan mabuk. Jangankan untuk memukulku, menyentuhkupun dia sudah tidak punya tenaga. Hanya terkadang dia berteriak memanggilku idiot dan melemparku dengan kaosnya yang bau. Namun lemparan itu lebih sering meleset. Ayah tak pernah memukulku. Ayah lebih sering memukuli ibu. Kasihan ibu.

Ibu lebih sering berada di rumah bersamaku. Justru itu adalah bencana untukku. Ibu sering memukulku saat ayah tak ada. Ibu menyiramku dengan kuah sayur tiap kali aku susah makan. Yang lebih menyakitkan, ibu juga yang selalu memanggilku idiot. Aku benci ibu yang telah membunuh ayahku.

Advertisements

One Response to “Satu Satu Aku Sayang Ibu”

  1. anginbiru 21 March 2011 at 08:40 #

    *speechless* *again* WOW! *angkat topi*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: