Koridor Panjang

7 Nov

Angin berhembus pelan ke arahku, membawa gas beracun yang kemudian membaur bersama udara di sekelilingku. Sebisa mungkin ku coba menahan nafas. Namun akhirnya pertahananku gagal, terhirup juga kepulan asap putih itu, asap rokok. Mungkin aku sedikit berlebihan, tapi aku memang merasa tersiksa dengan asap rokok. Rasanya dadaku sesak, paru-paru ku terasa penuh. Aku merasa sangat tidak nyaman.

Tapi ternyata, apa yang terasa dan apa yang terlihat tidaklah sama. Kepulan asap putih itu malah serasi dengan suasana tempat ini. Justru papan kayu bertuliskan “DILARANG MEROKOK!” yang tertempel di dinding putih ini yang terlihat janggal bagiku. Bagiku, tak ada yang salah dengan asap rokok. Semua terlihat sangat lazim. Mungkin karena aku terbiasa dengan pemandangan seperti ini.

Sejak kedatanganku pertama kali ke tempat ini, semua sudah seperti ini. Hampir satu bulan, dan setiap hari, selalu seperti ini. Jam sembilan pagi, seorang bapak tua akan masuk ke tiap kamar dan meminta kami keluar. Rutinitas paginya, membersihkan dan mengepel lantai tiap ruangan. Setelah itu ia keluar, tapi kami masih tetap di sini, sementara dokter dan perawat melakukan rutinitas mereka, masuk ke tiap kamar untuk memeriksa pasien. Kami berada di luar, di koridor panjang rumah sakit ini.

Aku duduk di sebuah bangku kayu. Di depanku, seorang laki-laki bersandar pada tiang kayu di tepi koridor. Matanya menerawang jauh, seolah pandangannya mampu menembus atap rumah sakit. Dari perawakannya sepertinya umurnya tak beda jauh denganku.

Asap putih mengepul di sekelilingnya yang kemudian bergerak ke arahku. Lama dia menghisap rokoknya. Kemudian dilepaskannya, dihembuskannya asap putih dari mulut dan hidungnya, pelan, perlahan. Kali ini wajahnya menunjukkan ekspresi kebebasan. Seolah-olah beban hidupnya pun perlahan ikut keluar bersama hembusan asap rokok itu, sedikit demi sedikit. Sayangnya itu tak berlaku untukku, bagiku, masalahku tidak akan selesai, beban tak akan berkurang hanya dengan menghisap rokok, kemudian menghembuskan asapnya.

Sudah satu bulan laki-laki itu ada di sini. Sebulan yang lalu, anak pertamanya lahir. Anak laki-laki. Aku pernah melihatnya beberapa kali, neneknya yang membawa kemari. Sayang, istrinya tak pernah sempat melihat anaknya, apalagi membelai dan menggendongnya. Istrinya terbaring di tempat tidur di salah satu ruangan rumah sakit ini. Diam dan hanya diam. Tidur dan tak pernah terbangun. Sebuah monitor di meja sebelah kanan ranjangnya memperlihatkan deretan garis-garis runcing yang berjalan menjadi pertanda bahwa wanita itu masih hidup.

“Mau rokok?” laki-laki di depanku menyodorkan bungkusan rokok kepadaku.

“Eh..Tidak terimakasih..Saya tidak merokok..”

Aku kaget. Ternyata laki-laki di depanku sadar kalau sedari tadi aku memperhatikannya. Aku merasa bersalah telah membuatnya merasa tidak nyaman. Tapi untungnya itu tak berlangsung lama. Sebentar kemudian dia sudah tak peduli lagi. Dia kembali pada aktifitasnya semula, menghisap rokoknya dalam-dalam, kemudian dihembuskannya asapnya perlahan.

Aku memang tidak merokok. Bukan karena aku sok peduli pada kesehatan. Aku tidak merokok, karena aku benci rokok. Tapi aku pernah merokok. Waktu itu umurku sepuluh tahun. Itulah pertama kalinya aku menghisap rokok. Diam-diam ku ambil rokok milik ibu. Ternyata merokok tak semudah yang kubayangkan sebelumnya.

Uhuk uhuk uhuk

Aku terbatuk-batuk sejadi-jadinya setelah hisapan pertama. Mataku memerah. Air mataku keluar. Kulihat ibu berlari ke arahku dengan segelas air di tangannya. Kupikir dia akan memberikannya untuk ku minum, tapi tidak. Disiramkannya air itu ke muka ku. Aku bingung. Apa salahku?

“Mau jadi apa kamu, kecil-kecil sudah berani merokok!” bentak ibu.

Apanya yang salah? Toh ibu juga merokok. Aku lantas berpikir, mungkin hanya orang dewasa yang boleh merokok. Anak kecil tak boleh merokok. Sejak saat itu yang ada di pikiranku adalah, aku ingin lekas dewasa. Agar aku bisa merokok. Aku ingin bisa merokok bersama ibuku. Aku tak kan lagi membiarkan ibuku merokok sendirian sambil menangis seperti yaang dilakukannya setiap hari. Aku akan menemaninya.

Dulu ibu tak merokok. Yang aku tahu, ibu mulai merokok sejak ayah pergi. Ayah pergi meninggalkan kami, dan tak pernah kembali. Aku benci rokok seperti aku membenci ayahku.

***

Hari ini jam sembilan pagi. Seperti biasa aku duduk di sebuah bangku kayu di koridor ini. Namun hari ini tak seperti biasa. Tak ada kepulan asap di sekelilingku. Tak ada laki-laki pengepul asap itu. Kemarin saat kami duduk di ruang sini, seorang perawat datang menghampirinya. Berbicara padanya. Seketika itu juga dia menangis dan berlari menuju kamar istrinya. Monitor di meja sebelah kanan ranjang itu menunjukkan garis lurus.

Dari ujung koridor panjang, seorang perawat berjalan ke arahku. Perawat yang sama yang kupanggil beberapa menit yang lalu, saat ibuku tiba-tiba terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah dari mulut dan hidungnya. Aku tak mampu membaca pikirannya, tak tahu apa yang akan dikatakan perawat ini. Tapi ekspresinya sama seperti kemarin, saat dia menghampiri laki-laki itu.

Magelang, 15 oktober 2010

 

 

 koridor

Advertisements

5 Responses to “Koridor Panjang”

  1. anginbiru 21 March 2011 at 08:33 #

    Just another WOW..!! Aku suka cara penurutan yang runtut, mengalir, dan tidak dipaksakan.. Great..!! suka, brad.. hehehe.

    tapi, sekali lagi, sedikit typo di beberapa kata berimbuhan.. sisanya, amazing! hoho.

    • yuya16 16 April 2011 at 22:48 #

      iya, sekali lg akan saya camkan soal typo itu 🙂

  2. amalia achmad 16 April 2011 at 19:02 #

    aku suka yang seperti fragmen ini, seperti adegan dalam film, meninggalkan petunjuk2 untuk pembaca tanpa perlu benar2 menjelaskan apa yang terjadi dan pada siapa. nice, Yuyaaa!!!!

    • yuya16 16 April 2011 at 23:05 #

      entahlah tp aku jg paling suka dg cerpenku ini, seperti ada pasrah dan keikhlasan, nrimo kalo org jawa bilang 🙂
      (nulis sendiri suka sendiri apa coba?)

  3. amalia achmad 17 April 2011 at 15:16 #

    haha dasar narsissooo!!
    tapi emang iya keren kok 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: