Elanoura

3 Sep

Argh, kepalaku pusing, pening. Terasa ada yang berdenyut-denyut di dalamnya. Tengkuk, bagian belakang leherku juga terasa kaku. Mungkin mau masuk angin. Nasib menjadi seorang jomblo, dalam kondisi tidak enak badan seperti ini, tidak ada yang mengurus, aku ingin sekedar ada yang menemani, membawakan segelas air putih dan obat sakit kepala, memijat tengkukku, atau mungkin mengerok punggungku dengan balsem. Tapi ya sudahlah diterima saja, menikmati kesendirian, rebahan di kamar kost saja. Eh, kamar kost? Lho ini bukan kamarku, aku ada di mana?

Sekelilingku kosong, tidak ada tempat tidur, meja, kursi dan barang-barangku yang lain. Hanya lantai marmer berwarna hijau. Aku ada di tengah-tengah ruangan berbentuk lingkaran dengan dinding setengah bola. Kaca, iya dinding ini terbuat dari kaca tembus pandang. Sedangkan di luar sana, air? Apa aku tidak salah lihat? Aku tidak sedang bermimpi kan? Plaakkk. Aduh, tidak, aku tidak sedang bermimpi, pipiku masih terasa sakit kalau ditampar. Sulit di percaya, di luar dinding kaca berbentuk bola ini, air, ikan-ikan, terumbu karang, ubur-ubur, binatang-binatang laut yang lain. Aku berada di dasar laut dan tempat ini bukan Sea World yang di Ancol pastinya.

Ku coba berjalan ke sekeliling, siapa tahu bisa ku temukan celah atau pintu supaya aku bisa keluar. Tapi sepertinya sia-sia, sudah beberapa kali aku mengitari tepian dinding kaca ini, namun tetap saja tak kutemukan celah yang kucari.

“hai manusia, pakai ini!”

Hah, ada orang. Kaget, tiba-tiba di depanku sudah ada dua orang laki-laki besar , bagaimana cara mereka bisa masuk ke sini?

“Pakai ini! Supaya kamu bisa bernafas di air atau kamu mau mati?.”

Bernafas dalam air? Dua orang di depanku ini memang tidak seperti manusia biasa, aneh. Selain mereka berdua sangat mirip satu sama lain, mereka selalu bicara bersamaan dan gerak-gerak tubuhnya juga sama seperti sudah disetting. Hanya memakai celana hijau selutut seperti karet, dan di tangan kanan mereka memegang tongkat panjang, tombak bermata tiga di ujungnya. Jari-jari tangan dan kaki mereka berselaput, seperti katak. Ada garis-garis lobang kecil di kepala di belakang telinganya yang bisa membuka menutup, mungkin itu alat bernafas di air seperti yang ada di film Waterworld. Sekarang salah satu dari mereka menyodorkan sebuah benda aneh, seperti helm yang terbuat dari kaca.

“Cepat ambil dan pakai! Jangan mengulur waktu! Pengadilan akan segera dimulai.”

“Pengadilan?” tanyaku.

Segera ku ambil helm aneh itu dan kupakai, aku tak ingin mereka tambah emosi. Padahal sebenarnya ada banyak hal yang membingungkanku dan ingin ku tanyakan. Dua orang laki-laki besar ini mendorongku. Aku berjalan di depan dan dengan mata tombak di kedua sisi kepalaku, mereka berjalan di belakangku.

Sekarang aku benar-benar ada di dasar laut. Aku merasakan seluruh pakaian dan tubuhku basah, terasa dingin di kulitku, dan tubuhku terasa ringan, sedikit mengambang di dasar laut. Ratusan ikan-ikan kecil warna-warni yang seliweran di depan mukaku. Ubur-ubur, kuda laut, juga gurita bergerak-gerak pelan di sekelilingku, mereka seperti menari mengejekku. Aku sendirian tempat yang agak lapang ini. Sementara di belakangku, belasan laki-laki besar duduk di batu-batu karang yang disusun berbaris-baris seperti kursi, bentuk dan wajah mereka pun sama persis seperti dua orang yang tadi mengantarku ke sini. Tak lama kemudian, ikan-ikan, ubur-ubur dan binatang laut yang lain bergerak menjauh dariku, hingga aku bisa melihat jelas ke depan. Ada seseorang disana, duduk di sebuah singgasana dari terumbu karang yang berkilauan, memantulkan sorot matahari yang menembus sela-sela tumbuhan laut, memusat padanya. Seseorang yang lebih besar dari orang-orang di belakangku. Usianya pasti sudah sangat tua, rambut ikalnya, kumis dan jenggot yang memenuhi wajahnya berwarna putih. Mengenakan jubah putih yang hampir menutup seluruh tubuhnya, kecuali tangan dan dada sebelah kanan. Meski sudah tua namun ia terlihat sangat tegap, misterius dan tetap menakutkan. Mungkin dia Neptunus, dewa penguasa laut, seperti dalam buku-buku dongeng masa kecilku.

“Hai manusia, lebih baik kamu mengaku saja, agar lebih ringan hukumanmu. Kamu adalah mata-mata? Jangan menyangkal, karena kami punya barang bukti.” Seorang yang tua di depanku. Suaranya lantang membuat riak-riak gelombang kecil air laut di sekitarku.

“Mata-mata? Aku sungguh tidak tahu apa yang Anda maksud.” Aku mencoba menjawab.

“Jangan menyangkal! Ini barang buktinya.” Serunya lebih keras sambil dilemparkannya bungkusan plastik ke arahku.

Ku ambil bungkusan plastik itu, kemudian kubuka. Sendok makan. Iya, aku mengenali benar sendok makan ini. Ini sendok makanku. Sendok makan stainlesstell dengan nama ibuku yang tercetak di belakangnya. Dulu sering ada tukang cetak nama keliling, sekali waktu melewati kampungku. Biasalah orang kampung segala sendok juga diberi nama, takut hilang mungkin. Tapi aku masih bingung, apa hubungan sendok makan ini dengan mata-mata yang dimaksud?

Aku ingat sekarang. Misiku empat bulan terakhir ini. Membuat lobang di tembok kamarku. Kurang kerjaan memang. Beberapa bulan terakhir aku selalu mendengar suara aneh di balik dinding kamarku ini. Terlebih tiap tengah malam suaranya semakin jelas dan sangat mengganggu. Blekutukblekutuk. Seperti suara gelembung air atau terkadang suara gemuruh air yang sangat keras. Setahuku di balik tembok ini adalah rumah kost, dan penghuninya semua adalah berjenis kelamin perempuan. Pikiran nakalku yang bekerja saat itu, mungkin saja sebelah kamarku ini adalah kamar mandi cewek. Tak perlu dijelaskan lebih detail kan kenapa aku harus membuat lobang di tembok kamarku.

Tapi kalau boleh membela diri, itu bukan tujuan utamaku. Aku tidak sebegitu bejatnya, sampai harus mengintip cewek mandi. Ini semua karena seseorang yang beberapa bulan ini telah mengganggu pikiranku. Menggangu tidurku. Gadis berkacamata dengan pakaian tidurnya. Aku tidak tahu namanya. Yang aku tahu gadis berkacamata ini sering makan di warung bambu dekat rumah kostku dan duduk di meja depan, sementara aku hanya memandanginya dari jauh. Yang aku tahu dia selalu mengenakan pakaian tidurnya. Setelan piyama berwarna kuning dengan gambar Upin Ipin. Dan setahuku dia tinggal di rumahkost sebelah. Aku penasaran tapi aku tak pernah punya nyali untuk sekedar mengajaknya kenalan. Pernah suatu kali kami berpapasan, dan aku pura-pura tak melihatnya agar bisa menabraknya. Sayangnya itu gagal, dia cepat menghindar. Ah , sial, gadis berkacamata dengan pakaian tidurnya. Gara-gara dia sekarang aku ada di sini, terjebak diantara makhluk-makhluk laut ini.

“Kamu sudah terbukti bersalah, kamu harus dihukum. Karena kamu manusia ku serahkan kamu pada agen kami, agen Neptunus penghubung laut dan bumi. Dia juga mata-mata sepertimu. Dia yang akan menghukummu.”

Agen Neptunusi? Semakin aneh saja. Ku pikir agen semacam ini hanya rekaan Kugy di Perahu Kertasnya Dee. Ternyata agen itu memang ada. Dulu aku juga ingin menjadi agen mata-mata seperti Kugy, tapi sayang aku terlahir sebagai Capricorn bukan Aquarius.

“Elanoura…Kuserahkan manusia bumi ini padamu…”

Tiba-tiba salah satu gundukan karang terbuka, ada pintu rahasia rupanya. Cahaya yang menyilaukan dari dalam, hanya terdengar suara-suara lengkingan yang memekakkan telinga. Lama-kelamaan makin terlihat jelas, belasan orang wanita sedang tertawa-tawa, terlihat bahagia, mereka sepertinya sedang bercanda. Tapi mereka tidak biasa. Wanita-wanita ini tak punya kaki, mereka putri duyung dengan sisik yang berkilauan dari perut hingga ekornya.

Salah satu putri duyung bergerak keluar dari ruangan itu. Mungkin dia Elanoura. Seperti belasan putri duyung yang lain, sisik-sisiknya berkilauan dan rambutnya menari-nari mengikuti gelombang air laut. Tapi Elanoura ini tidak asing. Iya aku mengenali wajah ini. Dia gadis berkacamata yang sering memakai pakaian tidur itu. Dan dia, mengedipkan sebelah matanya, memberikan isyarat padaku.

***

“Seperti biasa Bu, saya pesan nasi dan kakap goreng.” Aku memesan makanan pada ibu penjual di warung bambu.

Eh, tapi sepertinya ada yang tidak setuju dengan pesananku, mukanya terlihat masam, dia memberi isyarat agar aku mengganti menu makanan yang kupesan.

Advertisements

2 Responses to “Elanoura”

  1. nui 14 October 2010 at 18:47 #

    weeeh,, ga perlu ddongengin,,,, q dah baca ndiri..
    lo ddongengin mlh molor tar..hahaha

    heheeemm,,, ni fakta pa cerita duank mz??huwahaha,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: