Warak Ngendog

10 Aug

Aku pulang. Setelah sekian lama, akhirnya, aku pulang juga. Aku kembali melihat sawah. Aku kembali melihat sungai. Melihat gunung. Menghirup segarnya udara. Merasakan hawa dingin di kulitku. Menginjakkan kaki di tanah ini, tanah kelahiranku. Kalau saja bisa tertawa, tentu mereka akan tertawa. Sawah, sungai, tanah, juga gunung Merbabu yang beridiri kokoh di hadapanku, pasti akan menertawakanku..

Aku dulu begitu angkuh, sombong, ingin cepat-cepat pergi meninggalkan desa ini, desa yang waktu itu ku pikir tak kan memberiku masa depan. Sedangkan jauh di sana, di sebuah kota yang lain, harapan dan cita-citaku tinggi tergantung. Sayangnya harapan itu terlalu tinggi, sekian lama ku mendaki, namun aku tak mampu menggapainya. Aku jatuh dan putus asa. Hingga akhirnya aku sampai pada pilihan ini. Pilihan untuk pulang. Berharap semoga masih ada harapan di desa kecil ini.

Hai sungai, apa kabarmu? Lama ya kita tidak bertemu. Semua di desa ini telah berubah. Bahkan sungai yang kini dingin airnya membasahi kakiku pun tak lagi seperti dulu. Ironis memang, karena aku masih saja sama, masih seperti dulu, belum berarti apa-apa. Dulu di sungai ini, sehari sebelum puasa, banyak orang berkumpul untuk sebuah tradisi. Padusan, kalo orang jaman dulu bilang. Mandi dengan niat mensucikan diri tepat sehari sebelum bulan puasa di mulai. Aku ingat, orang-orang dewasa yang berendam di hulu sungai, sementara aku dan anak-anak kecil lainnya, telanjang bulat, berlarian menyusuri jalan kecil di atas tanah liat di antara rimbun bambu, hingga sampai pada tebing setinggi lima meter itu. Kemudian dari puncak tebing yang menjorok, kami melompat, terjun bebas, sementara di bawah kami muara sungai yang mencekung dalam. Duuummm, bunyi yang menggema dari dinding-dinding tebing ini tiap kali kami menceburkan diri ke air. Tapi kini, sehari sebelum puasa, sungai ini sepi, tak ada orang, tak ada anak usia belasan yang melompat dari tebing itu. Hanya seekor burung seperti bangau berwarna putih, burung kuntul yang berdiri dengan satu kakinya di atas batu besar di bawah sana.

Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Suara lembut Maher Zain melantunkan Thank You Allah memecahkan keheningan di puncak tebing ini. Sebuah sms ku terima.

Pengirim: Mira
08564033100

Mas, Mira minta maaf kalo selama ini ada salah. Semoga bulan Ramadhan ini bisa membawa berkah untuk kita semua. Amin

Ku masukkan kembali handphone ke saku. Entah kenapa aku merasa tidak perlu membalas sms tadi. Mudah, Mira. Sangat mudah untuk bilang, iya aku memaafkanmu tapi terus terang, tidak mudah untuk bisa melupakan semuanya. Terlalu menyakitkan. Bahkan hal-hal yang dulu menyenangkan pun kini terasa pahit untuk diingat.

Setahun kemarin, aku masih melewati puasa bersamamu. Dugderan. Iya, aku ingat setahun kemarin kamu memaksaku untuk melihat dugderan. Ritual budaya di Semarang menjelang bulan puasa. Tidak tanggung-tanggung, seharian kita berada di antara keramaian. Kamu bilang ingin melihat semua prosesi dari awal hingga akhir. Mulai dari drum band taruna akpol, tari-tarian warak ngendog anak-anak sekolah, hingga bunyi-bunyian bedug dan meriam pertanda bulan puasa segera tiba. Kita juga ikut mengarak warak ngendog raksasa dari balaikota hingga Masjid Agung Jawa Tengah. Benar-benar hari yang melelahkan tapi aku sangat senang waktu itu.

“Ini untukmu” sambil kau sodorkan dua tanganmu, sebuah mainan dari kertas berbentuk hewan dan sebutir telur asin di kedua tanganmu.

“Apa ini hewan kok aneh banget, kambing bukan, naga juga bukan” jawabku.

“Ini warak ngendog, sengaja ku beli untukmu.”

“Kalau gitu aku endognya saja, waraknya buat kamu saja ya” cepat ku ambil telur asin di tanganmu.

Sementara aku mengupas telur asin, kamu sibuk dengan warak ngendogmu. Tak henti-hentinya kamu membanggakan hewan mainan dari kertas warna-warni itu. Kamu bilang, hewan ini cuma ada di Semarang. Orang-orang menyebutnya warak, hewan imajinasi perpaduan tiga budaya besar. Leher yang panjang seperti onta, mewakili budaya Arab. Kepala seperti naga untuk etnis China, dan bentuk badannya yang berkaki empat menyerupai kambing untuk budaya Jawa. Aku sendiri heran, bagaimana bisa ada bentuk hewan seperti itu, yang lebih aneh lagi hewan itu bertelur dan telurnya ku makan saat itu. Secuil kenangan manis bersamamu.

Hanya sampai setahun yang lalu kenangan manis bersamamu, karena beberapa bulan setelah itu semua tak lagi indah. Sukar dipercaya, mengingat hubungan kita yang sudah cukup lama. Bukan lagi hitungan minggu atau bulan, melainkan tahun. Sejak awal kuliah kita sudah bersama.

“Mas, sepertinya aku sudah tidak bisa berharap banyak dari hubungan ini. Aku lelah menunggu. Aku butuh kepastian, dan sayangnya kamu tidak bisa memberikan kepastian itu.”

Kepastian. Kalau kepastian itu soal mencintai, pasti aku mencintai kamu. Kalau kepastian itu soal setia, pasti aku akan setia kepadamu. Aku juga pasti ingin, bahkan sangat ingin menikah, menjalani masa tuaku, menghabiskan sisa usiaku bersamamu. Namun bukan kepastian itu yang kau minta.

“Dengan kondisimu saat ini, apa kamu bisa memberi kepastian, kamu bisa menjamin hidupku akan bahagia bersamamu. Ini bukan soal aku dan kamu saja. Tapi masa depan, kalau kita punya anak nanti, aku ingin mereka juga mendapat jaminan hidup yang baik. Aku lelah menunggu. Aku butuh seseorang yang mapan.”

Iya, kamu butuh seorang yang mapan. Iya aku sadar tidak cukup hanya sekedar cinta, baik, juga setia, kamu butuh seorang yang mapan, dan aku masih belum bahkan jauh dari kata mapan. Sudah hampir dua tahun usahaku mencari pekerjaan, namun sampai saat ini belum juga nasib baik berpihak padaku. Aku belum bisa memberimu jaminan hidup bersama seperti kau inginkan, dan sepertinya kau sudah lelah menunggu, bahkan mungkin sudah berpikir tak ada yang bisa diharapkan dariku.

Bagaimana kamu tidak lelah, bagaimana kamu tidak putus asa, sedangkan aku pada akhirnya pun sampai pada titik ini, aku menyerah. Aku pulang. Berharap masih ada titik cerah di sini. Entah apa yang akan ku kerjakan di sini, bahkan aku belum punya bayangan. Mungkin aku akan coba berternak, atau menggarap sawah, atau membuat usaha yang lain, apapun itu untuk melanjutkan hidup. Semoga kau pun bisa melanjutkan hidupmu, menemukan orang yang tepat untukmu, Mira.

“Dulu sungai ini ramai tiap kali menjelang puasa. Saya kangen masa-masa itu, mungkin saya masih SD waktu itu.” Suara seorang wanita menyadarkanku dari lamunanan panjangku.

Seorang wanita muda dengan kerudung dan baju terusan panjang. Ditangannya, beberapa rantang yang disusun menjadi satu.

“Kamu…”

“Saya Marmi, adik kelas Mas waktu SD dulu. Pasti sudah lupa ya…”

“Ah nggak, saya masih ingat kok, cuma rada pangling saja. Kamu apa kabar? Kerja dimana? Atau jangan-jangan sudah menikah?” tanyaku bercanda, sambil kuulurkan tanganku mengajaknya bersalaman.

“Baik..” pelan Marmi menangkupkan kedua tangannya, mengangkatnya setinggi dada sambil tersenyum. Aku pun dengan segera menarik tanganku dan melakukan hal yang sama sepertinya. “Saya cuma bantu-bantu mengajar di SD kita dulu, maklumlah saya cuma kuliah di dekat-dekat sini saja, saya kan nggak mampu untuk kuliah jauh seperti Mas”

“Ah kamu, kuliah jauh-jauh juga nyatanya nggak menjamin, malah saya akhirnya balik lagi kan ke desa ini, dan belum jadi apa-apa” jawabku, sementara Marmi hanya tersenyum dan mengangguk.

“Mas, kalau mau, besok kan sudah puasa, gimana kalau ikut mengajar ngaji anak-anak kecil di mushola”

“Iya, saya mau, saya juga kangen suasan Ramadfhan di desa.” jawabku mantab.

“Saya duluan Mas, mau ngirim buat bapak di sawah,” sambil ditunjukkannya rantang yang dibawanya, “ Assalamualaikum”

“Waalaikumsalam” jawabku, dan wanita berkerudung ini segera berlalu menyusuri pematang sawah.

“Marmi…” seruku agak berteriak, Marmi menoleh, “Nanti malam tarawih di mushola kan? Kita berangkat bareng ya…”lanjutku. Sementara Marmi hanya tersenyum dan mengangguk, kemudian kembali berjalan cepat menyusuri pematang sawah.

gambar warak ngendog http://sarangburungpipit.blogspot.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: