Bambu Runcing

3 Aug

“Saya jadi langganan Bu Asih itu karena jahitan ibu rapi, dan tepat waktu, tapi kalo hasil jahitannya kayak gini, nggak rapi, waktunya mulur, salah ukuran, saya malas menjahitkan baju di sini lagi!”

“Maaf Bu Dian, ini di luar kesengajaan, sekali lagi maaf”

“Saya nggak mau tahu. Pokoknya baju saya yang lain harus beres dan nggak ada masalah kayak gini.”

Meskipun pandanganku tertuju pada buku pelajaran yang ada di depanku, tetapi aku tidak bisa konsentrasi membacanya. Pikiranku melayang, mengikuti percakapan di ruang tamu, yang baru saja ku dengar dari balik dinding kayu ini. Kasihan ibu, ini salahku.

Krekkk

Gawat. Dasar bodoh. Kenapa aku ceroboh sekali? Bisa-bisanya aku menginjak kaca mata ibu. Pasti ibu akan marah besar padaku.

Benar-benar hari yang sial. Capek setelah pulang sekolah, sudah harus menguras bak mandi. Baru saja selesai, baru saja berniat nonton tv sudah harus disuruh-suruh lagi. Mengantarkan jahitan ke langganan ibu. Celakanya aku menginjak kaca mata ibu sewaktu naik ke atas meja, mengambil bungkusan jahitan di atas rak tadi. Frame nya patah, kaca nya pecah.

“Ayo Mas…”

Hah, Randhu. Kulihat Randhu, adikku yang masih TK ini sudah nyengir di depan pintu, memamerkan dua gigi serinya yang ompong. Pasti ibu yang menyuruhnya untuk ikut denganku, mengantarkan jahitan ke langganan ibu. Randhu memang selalu merepotkanku. Tiap pagi aku harus berangkat awal untuk mengantarkannya dulu ke sekolah. Setelah pulang sekolah, ada saja ulahnya yang membuatku kesal. Mengganggu istirahat siangku, memaksaku mengajaknya jalan-jalan dengan sepeda tua ku. Aku juga harus selalu mengalah tiap kali berebut remot tv. Pernah suatu kali aku sangat marah padanya, ku jewer kupingnya hingga ia menangis. Bagaimana aku tidak marah kalau buku tulisku penuh dengan coret-coretan pensil warna. Herannya ibu malah menyalahkanku, katanya aku yang sembarang meletakkan barangku.

Semoga saja Randhu tidak tahu aku telah merusakkan kaca mata ibu. Cepat-cepat ku sembunyikan kaca mata yang patah dan serpihan kaca di antara bungkusan sisa-sisa kain yang tak terpakai. Aku bergegas, menggandeng Randhu, memboncengkannya dengan sepeda tuaku, mengantarkan jahitan ke beberapa langganan ibu.

“Aku mau pakai baju tentara untuk karnaval nanti. Biar seperti pahlawan yang berperang melawan penjajah. Merdeka. Merdekaaa!” oceh adikku.

“Sudah jangan berisik, jangan usil, nanti kita jatuh, jalannya licin.” Sahutku.

Sebenarnya bukan karena jalan di kampung ini yang becek setelah kemarin di guyur hujan, aku meminta Randhu untuk tetap tenang, tetapi karena aku memang sedang malas meladeni ocehannya. Randhu ingin memakai kostum tentara pada karnaval nanti. Biasanya tiap tahun ada karnaval di jalan sepanjang alun-alun untuk memperingati hari kemerdekaan. Tiap sekolah berpartisipasi dengan mobil hiasnya, termasuk TK nya si Randhu. Karena keinginan Randhu inilah, memakai kostum tentara, rencanaku punya sepatu baru gagal.

“Tolong Damar ngerti ya, Ibu belum ada uang lebih untuk membelikan Damar sepatu baru, apalagi adikmu dari kemarin-kemarin kan merengek-rengek terus, pengen banget memakai baju tentara untuk karnaval nanti”

Ah ibu, selalu saja menuruti permintaan Randhu. Ibu sudah janji membelikanku sepatu baru awal semester ini, tapi nyatanya sampai hari ini aku masih memakai sepatu bututku itu. Sepatu kets warna hitam yang sudah tidak lagi hitam. Lebih parahnya sepatu yang sebelah kanan sol nya sudah hampir terbuka. Aku harus berhati-hati tiap kali memakainya takut terlepas bagian bawahnya. Padahal rencananya satu minggu lagi aku akan ikut lomba lari peringatan HUT RI tingkat SMP se-kotamadya. Dengan sepatu bututku? Rasanya tidak mungkin. Teman-teman di kelasku saja sering mengejekku tiap kali pelajaran olah raga. Kata mereka sepatuku sudah tak layak pakai, harus di musiumkan.

Makam kampung Wanamukti. Sebuah areal pemakaman yang hanya dipagari dengan tanaman perdu kulewati sepulang mengantarkan jahitan. Aku berhenti sejenak, masuk ke dalam, dan duduk di depan sebuah makam. Makam bapakku. Setahun kemarin bapak meninggal. Aku kangen bapak.

Setahun kemarin tak sesulit ini, pak. Aku selalu ingat, bapak selalu mengajak kami jalan-jalan. Sekedar untuk makan bersama di sebuah rumah makan. Baju, tas juga sepatu selalu dibelikan, tanpa pernah aku memintanya. Tapi kini semua berbeda, Randhu pun kini sudah sekolah, aku harus banyak mengalah. Semua keinginanku sekarang tak mungkin bisa terturuti semuanya. Iya, aku tahu, sejak bapak meninggal, ibu harus berjuang mati-matian untuk kami, untuk aku, untuk Randhu. Untuk biaya sekolah, untuk makan sehari-hari, ibu berjuang sendirian.

“Ini kuburan mbah kakung?” Randhu menunjuk ke sebuah gundukan tanah.

“Iya..”aku mengangguk menegaskan.

Sebuah gundukan tanah yang lain, disebelah makam bapakku. Sama seperti makam bapakku dan yang lainnya, hanya gundukan tanah tanpa nisan di sela-sela pohon kamboja. Bedanya, sebuah besi dengan bagian atas dari seng berbentuk bendera tertancap di salah satu ujungnya. Mungkin semula bendera itu berwarna merah putih. Kini hanya sebuah seng yang telah berkarat. Orang-orang bilang kakekku adalah pejuang.

Cerita yang dulu diceritakan kakek kepada bapak, kemudian bapak ceritakan padaku, kini kuceritakan pada adikku. Sepertinya dia sangat senang diceritakan tentang perjuangan kakek melawan penjajah Jepang. Randhu terlihat sangat bersemangat. Sebenarnya Randhu itu anak yang lucu dan menyenangkan, tentunya saat tidak merepotkanku. Kuceritakan bagaimana kekek ikut pertempuran lima hari di semarang. Tak hanya itu saja, cerita-cerita perjuangan rakyat Indonesia, mulai dari Jenderal Sudirman hingga Diponegoro. Bukan hanya mereka yang berjuang menggunakan senjata api atau senjata tradisional, bahkan mereka yang berjuang hanya dengan senjata bambu.

“Bambu runcing?”

“Iya, bambu runcing..”

Tiga lembar uang seratus ribuan ada di tanganku. Uang pembinaan dari sekolahku, selain piala yang kudapatkan tentunya Ternyata aku tak butuh sepatu baru untuk memenangkan lomba lari tingat SMP se-kotamadya. Dengan bermodal sepatu butut yang sebelumnya kubawa dulu ke tukang sol sepatu, aku berhasil menjadi juara satu.

Ibu pasti akan senang, tak perlu mengeluarkan uang lagi untukku membeli sepatu. Dengan tiga ratus ribu ini aku akan punya sepatu baru, juga kostum tentara untuk adikku. Aku senang, akhirnya aku bisa juga jadi anak yang berguna, bisa meringankan beban ibu.

Di sebuah toko pakaian dan mainan anak-anak, manequin-manequin kecil dengan kostum-kostum unik. Baju-baju adat, baju polisi, baju dokter, juga kostum superhero untuk anak-anak ada disini, termasuk kostum tentara yang diinginkan adikku.

“Ini kan baju yang kamu inginkan untuk karnaval nanti, baju tentara?” tanya ku.

“Iya…” jawabnya, girang sekali dia, “Tapi Randhu pengen beli yang lain aja Mas..” katanya, “ Kita beli kaca mata baru untuk ibu ya…”

Di antara deretan orang-orang yang memenuhi pinggiran jalan sepanjang alun-alun, aku dan ibuku menunggu rombongan TK adikku lewat. Itu dia barisan anak-anak kecil dengan baju-baju yang unik. Anak-anak dengan pakaian adat berbagai daerah, anak-anak dengan kostum polisi, dokter, guru dan masih banyak yang lain. Adikku berjalan di depan, memimpin rombongan, dengan kaos berwarna putih dan celana pendek hitam, lipatan kain sarung yang mengikat pinggangnya, serta sepuah pita merah putih yang mengikat kepalanya. Sebuah tongkat bambu setinggi kepalanya dengan ujung runcing di tangan kanannya. Aku seorang pejuang dengan bambu runcing katanya. Iya, tanpa baju tentara kau tetap seperti pahlawan, Randhu.

“Randhu…Randhu…”

Aku dan ibu melambaikan tangan, dan berteriak-teriak memanggil namanya. Ibu terlihat sangat senang dan bangga. Begitupun aku. Aku bangga pada Randhu adikku. Aku senang bisa belajar tentang arti sebuah pengorbanan darinya. Aku pun belajar tentang kejujuran. Selain itu, aku senang karena hari ini, ibu terlihat cantik dengan kaca mata barunya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: