Pesan Terakhir

16 Jul

“Tahun ini mudik tidak?”

Mudik? Perhatianku tertuju pada layar lcd di sudut kedai kopi ini. Menikmati sebuah iklan sirup yang sedang muncul di layar tadi, yang tiba-tiba membawaku pada sebuah kerinduan. Iya, sebentar lagi bulan Ramadhan. Tak terasa sudah beberapa tahun ini aku melewati bulan puasa seorang diri.

Kembali kualihkan pandanganku pada layar laptopku. Ada satu buah pesan baru di dalam akun facebookku. “Aku akan Menikah” judul dari pesan itu. Ku lihat nama pengirimnya, nama seseorang yang sudah pasti ku kenal. Karin Rahmasari.

Hampir satu tahun kau tak pernah mengirimkan pesan lagi Karin. Tiba-tiba mataku pun menjadi basah dan hangat. Ku biarkan saja air mata ini menetes dengan sendirinya. Aku menghela nafas dalam-dalam, kemudian tersenyum. Ada bahagia sekaligus kesedihan dalam senyumanku.

Karin. Rasanya baru kemarin kita bertemu untuk terakhir kali. Baru kemarin aku berpamitan padamu sebelum berangkat ke kota ini. Tapi ternyata itu sudah lama, sudah hampir lima tahun. Padahal waktu itu kau masih terlihat seperti gadis kecil, yang selalu bersembunyi di balik senyum malu-malumu, bersembunyi di balik kerudung kecilmu itu. Sesekali kau bersuara, tentunya hanya kalau ditanya saja. Aku baru menyadari kalau kini kau sudah dewasa, sudah hampir menikah saja. Mungkin waktu yang telah mengubahmu, mendewasakanmu, Karin, gadis kecilku.

Aku ingat, waktu kecil dulu kamu pernah berdiri lama di depan etalase kaca tiap kali melewati toko mainan itu. Memandang sebuah boneka panda. Matamu berbinar tiap kali melihatnya. Hanya memandang dan tak pernah mengatakannya pada mama dan papa. Padahal kalau kamu bilang, tentu mereka tak keberatan untuk membelikannya untukmu. Dalam hati aku tertawa, ah biarkan saja pikirku, toh mainanmu sudah banyak. Aku iri waktu itu karena kau selalu mendapatkan hadiah dari papa tiap kali rapormu bagus. Bukan hanya bagus, bahkan kau selalu mendapatkan peringkat satu di kelasmu. Hingga akhirnya kau tak lagi memandangi etalase kaca itu, boneka panda itu sudah tak ada lagi di sana, sudah ada yang membelinya. Aku tahu kau sedih karenanya, tapi papa dan mama tak pernah tahu itu. Beberapa bulan kemudian kau menangis dan memelukku erat, saat aku membawa pulang boneka panda yang sama persis seperti di toko itu, oleh-oleh liburan catur wulan waktu itu. Begitu banyak kenangan bersamamu, saat-saat puasa menunggu bedug magrib tiba di sekitar boulevard UGM. Saat-saat lebaran berkumpul dengan keluarga. Dulu kita begitu dekat Karin.

Ku lihat lagi pesan-pesan di inboxku. Ini bukan pesan yang pertama darimu, sudah berkali-kali kau mengirimkan pesan untukku. Menjelang puasa, menjelang lebaran, juga saat kau akan di wisuda, kau selalu memintaku pulang. Apalagi setiap bulan Agustus, kau tak pernah lelah mengirimkan pesan untukku. Iya, memintaku pulang untuk merayakan hari yang special, ulang tahun papa, ulang tahun mama, juga ulang tahun pernikahan mereka. Kebetulan masing-masing terjadi di tanggal 15, 16 dan 20 Agustus. Sudah menjadi kebiasaan keluarga untuk merayakan ketiganya di tanggal 20 Agustus, tanggal pernikahan mama dan papa. Jangankan pulang, aku bahkan tak pernah membalas pesanmu satu pun. Bukan apa-apa, aku malu Karin, aku malu. Untuk sekedar membalas pesanmu saja aku malu. Semua tak seperti yang kujanjikan dulu. Aku masih sama, aku seorang yang gagal.

Subject: Aku Kecewa
Tanggal: 10 Agustus 2009
Pengirim: Karin Rahmasari

Kau sangat mengecewakan. Bahkan untuk kesempatan terakhirpun kau melewatkannya. Semua sudah terlambat. Aku tak akan pernah bisa memaafkanmu. AKU MEMBENCIMU. SELAMANYA!!!
Besok papa dimakamkan. Aku tak peduli lagi, kamu mau pulang atau tidak!!!
Aku lelah, ini adalah terakhir kali aku mengirimkan pesan untukmu…

Subject: Cepat Pulang, Papa kritis
Tanggal: 1 Agustus 2009
Pengirim: Karin Rahmasari

Mas, ku mohon kali ini pulanglah. Jantung papa kumat lagi. Sekarang papa di R.S Sardjito. Kondisinya kritis. Aku nggak mau kamu nyesel Mas. Pulanglah sebelum terlambat. Papa, Mama kangen. Mama juga sekarang kurus karena mikirin kamu. Mereka selalu menanyakanmu. Apa kamu tega kalau sampai papa tak bisa melihatmu untuk yang terakhir kalinya. Pulanglah Mas…

Karin, kamu berhak membenciku. Aku pantas untuk itu. Seandainya waktu itu aku pulang, sebelum Allah memanggil papa, tentu semua tidak akan seperti ini. Mungkin papa bisa sehat kembali. Atau paling tidak aku masih sempat meminta maaf padanya. Tapi kini semua sudah terlambat. Aku malu Karin. Untuk pulang, untuk bertemu denganmu, bertemu dengan mama, aku malu Karin. Jujur, aku pun kangen, aku kangen sama kamu, kangen sama mama. Tapi aku sudah tidak punya nyali lagi untuk bertemu kalian. Pasti klian menyalahkanku atas samua yang terjadi, tapi aku terima itu. Aku sadar ini memang kesalahanku.

Anak macam apa aku ini? Kamu benar Karin, aku sangat mengecewakan. Sebagai anak pertama, sebagai anak laki-laki, aku sangat memalukan. Aku gagal. Aku gagal menjadi contoh yang baik untukmu. Aku gagal memenuhi harapan papa dan mama. Telah banyak yang mereka korbankan untukku. Aku tahu bagaimana kecewanya mereka waktu itu. Tiba-tiba saja aku memutuskan berhenti dari kuliah, aku kabur dari rumah, tanpa pernah sempat berpamitan pada mereka. Waktu itu, aku begitu yakin bahwa aku akan berhasil dengan karier bermusikku ini. Tapi aku salah, aku masih sama saja, aku gagal, aku malu, Karin.

“Kumohon jangan pergi, kamu nggak mau bikin papa mama tambah kecewa kan Mas?”

“Justru itu Karin, aku harus pergi, aku belum akan pulang sebelum aku berhasil, tolong jaga papa dan mama. Kamu harus berhasil Karin, jangan kecewakan mereka.” Ku seka air mata di pipimu sambil kubetulkan letak kerudungmu dan ku cium keningmu seperti yang sering kulakukan dulu, “Aku harus pergi Karin, tolong jaga papa dan mama…”

Aku ingat, itu adalah percakapan terakhirku saat berpamitan padamu Karin. Apa kamu masih ingat? Waktu itu, di beranda kost kamu, kita terisak, kita berpelukan, kamu menangis sejadi-jadinya, mencegahku untuk pergi. Kamu tak pedulikan orang-orang di jalan yang melihat kita waktu itu. Kamu bilang kepergianku adalah suatu kesalahan. Ternyata, kamu benar, semua yang kulakukan adalah kesalahan. Aku tak pernah berhasil. Aku tak pernah membahagiakan papa dan mama. Dan, kesalahan terbesarku, aku tak pernah sempat meminta maaf kepada papa.

Subject: Aku akan menikah
Tanggal: 16 juli 2010
Pengirim: Karin Rahmasari

Mas, sudah berkali-kali aku memintamu pulang. Saat ulang tahun mama, ulang tahun papa, ulang tahun pernikahan mereka, tiap kali menjelang puasa, lebaran, juga saat aku di wisuda, aku ingin kamu ada di sini, tapi kamu nggak pernah pulang. Bahkan membalas pesanku pun tidak.

Yang paling menyedihkan, sebelum papa tutup usia pun kamu tak ada di sisinya. Saat papa dimakamkan pun kamu juga tidak ada.

Mas, dua minggu lagi, 1 Agustus 2010 nanti aku akan menikah. Ini pesan terakhir papa, papa pengen kamu yang jadi wali nikah ku Mas, ngegantiin papa. Kumohon pulanglah Mas.


Subject: Aku Pulang
Tanggal : 16 Juli 2010
Penerima : Karin Rahmasari

Iya Karin, InsyaAllah, Aku akan Pulang

Semarang, 16 Juli 2010

Advertisements

2 Responses to “Pesan Terakhir”

  1. kiminuklir 17 July 2010 at 00:00 #

    membuat saya haru…
    ini kisah nyata, mas?

    • yuya16 17 July 2010 at 05:50 #

      ini cerpen kok…moga2 ga sampe kejadian..amin 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: