Panas Kini dan Nanti

1 Jul

terik, menyengat, panas, kering, dahaga
keluh, kesah, sumpah, serapah
itu sekarang…
saat matahari seratus empat puluh sembilan juta kilo meter di atas kepala
lalu bagaimana nanti?
saat matahari hanya sejengkal di atas kepala
masihkah bisa mengeluh?
masihkah bisa berkesah?
masihkah bisa bersumpah serapah?
bahkan tak yakin, masih sempatkah untuk berpikir
untuk berteduh…
sejauh berlari
takkan kutemui
tempat berteduh melindungi diri
hanya hamparan luas, penuh sesak manusia cemas akan nasibnya

belum cukup sampai di situ
saat ku terlempar dalam jurang sesalku
suatu kepastian untuk orang sepertiku
sebelum menuju kesejukan abadiku, harapanku

sepertujuh puluh
hanya sepertujuh puluh panas api yang kutemui di bumi
panas yang mampu membuat kulitmu melepuh
panas yang bahkan membuat mereka berserakan, matang, hangus hilang bentuk
hanya sepertujuh puluh
sepertujuh puluh panas abadi jurang penyesalan
dan akankah aku masih bisa mengaduh?

kadang ingin aku menutup mata
menutup telinga
menutup hati dan rasa
tenggelam dalam kepura-puraan, ketidaktahuan akan keniscayaan
tapi aku tak bisa
hati kecil yang bicara
mau tidak mau
suka tidak suka
akan ku icip panas itu juga
dan aku takut…
satu harapan dalam lubuk hati terdalam
ijinkan aku mengicip sejukmu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: