Medali

1 Jul


Ini sudah hampir sebulan, mungkin orang-orang sudah lupa, tapi aku tidak. Iya, sebulan kemarin tim Thomas Uber gagal membawa pulang piala dari Stadium Putra Malaysia. Bukan hal yang baru memang, atau malah orang indonesia sebenarnya sudah terbiasa dengan kegagalan-kegagalan itu tapi masih tetap semangat untuk memeriahkan event yang ada tiap dua tahun sekali itu meskipun pada akhirnya sudah tahu bahwa kita sulit untuk membawa pulang piala. China terlalu kuat.

Piala Uber. China. Selalu saja menyisakan kenangan pahit. Bukan saja karena sejak 1998 kita selalu gagal merebut Uber, atau karena sejak tahun itu China selalu berhasil berdiri di podium tertinggi, ada luka lama yang belum bisa terobati. Cukup senang tahun ini Korea Selatan berhasil mencurinya. Sedikit mengurangi luka itu, paling tidak bukan China yang mendapatkannya. Sepertinya aku terlalu sentimen dengan China. Iya, memang demikian adanya. Aku selalu kalah oleh China.

***

Agustus 2004

Sakit melihatmu ada di sana. Goudi Olympic Hall, Athena. Duduk di antara rombongan orang-orang berkaos merah lengkap dengan segala atribut untuk meberi semangat, kontingen China.

“Chai Yun…Chai Yun…Chai Yun…” gemuruh suara meneriakkan nama Chai Yun di sela-sela tepuk tangan penonton dan bunyi-bunyian tongkat plastik yang saling dipukulkan.

Chai Yun, pemain muda China yang sedang menanjak. Beberapa bulan yang lalu saja dia menjadi penentu tim nasional China, merebut piala Thomas dari Indonesia, 3:2. Lebih parahnya, aku adalah orang yang berhasil dikalahkannya.

Sekarang pun kondisinya tak jauh berbeda. Sebentar lagi bendera China akan dikibarkan, lagu kabangsaan China akan bergema memenuhi ruangan stadion ini. Aku kalah. 15:9, 10:15, 16:14. Rubber set yang sangat melelahkan. Aku sudah mati-matian memberikan perlawanan namun Chai Yun terlalu tangguh dan aku sudah tak muda lagi. Dalam penampilan terakhirku, aku gagal mewujudkan impian menjadi juara dunia, gagal mendapatkan medali emas olimpiade. Lagi-lagi aku kalah.

“It is for You”

Aku menoleh. Seorang anak laki-laki dengan kaos merah tim nasional China, mungkin usianya lima tahun, menghampiriku. Disodorkannya sebotol air mineral. Aku tersenyum padanya. Aku pun berhenti mengelap keringat yang membanjiri seluruh tubuhku, ku raih botol air mineral itu.

“Thank You…” kataku.

“Namanya Hendra. Hendra Febrian.” seru seorang wanita yang sudah berdiri di belakang anak laki-laki tadi.

“Rosiana…”

“Sengaja ku berikan nama Indonesia, agar Hendra selalu ingat bahwa dia juga memiliki darah Indonesia dari ibunya. Apa kabarmu Hen?”

Seketika aku tenggelam dalam kenangan masa lalu, hampir-hampir tak mendengar jelas pertanyaanmu.

Rosiana Febrian. Seseorang yang tadi ku lihat duduk bersama rombongan kontingen China, kini tepat di hadapanku. Enam tahun yang lalu, terakhir aku menatapnya sedekat ini, terakhir aku berbicara padanya sedekat ini.

“Apa tidak ada cara yang lain? Apakah kamu memang harus pergi?” kata-kataku di air port waktu itu.

“Tidak ada.”

“Kenapa?”

“Karena aku ingin medali emas olimpiade, Aku ingin jadi juara All England. Aku ingin membawa kembali Uber ke tanah air.”

Sebenarnya tanpa bertanya pun aku sudah tahu jawabannya. Karena memang itu yang kau impikan dari dulu. Kau sangat ingin mematahkan dominasi China dalam perebutan piala Uber. Kau bilang, kita sama-sama manusia, kita sama-sama makan nasi, tapi bagaimana bisa China begitu mudahnya meraih Uber lima kali berturut-turut, sedangkan kita untuk bisa meraihnya empat tahun terakhir ini harus berjuang mati-matian. Bahkan sekarang China berhasil mengambilnya lagi dari tangan kita.

Satu-satunya cara adalah, aku harus berangkat ke China, aku akan mengikuti pola latihan di sana. Beberapa tahun lagi pasti Uber menjadi milik kita. Kau sangat berapi-api saat mengatakannya, dan aku pun tak bisa banyak bicara, aku percaya. Aku tak bisa mencegahmu berangkat waktu itu.

Dua tahun, empat tahun, hingga enam tahun. Kenyataannya berbeda. Tak pernah Uber kembali ke indonesia seperti keinginanmu dulu. Uber masih milik China. Bahkan dirimu pun akhirnya menjadi milik China. Setahun setelah kepergianmu, ku kira itu hanya kabar burung saja, hanya rumor di antara para pemain. Kau tiba-tiba memutuskan berhenti, menggantung raketmu, menangguhkan impianmu akan medali emas, juara dunia, All England, begitupun dengan piala Uber. Semua hanya omong kosong. Yang lebih menyakitkan dan sulit untuk ku terima, sebuah email darimu, undangan pernikahanmu dengan seorang pemain muda China, Chai Yun.

Tentu aku tak bisa menyalahkanmu untuk semua ini. Kau bebas memutuskan semuanya. Aku sama sekali tak memiliki hak atas dirimu. Satu penyesalanku, aku tak sempat menyampaikan perasaanku terhadapmu. Jauh, sangat jauh. Lama, sangat lama aku memendamnya, saat kau masih atlet muda yang baru masuk pelatnas waktu itu, aku sudah memiliki rasa ini terhadapmu. Hanya saja aku menunggu saat yang tepat. Aku terlalu yakin dan percaya padamu, suatu saat kau akan kembali dari China, dan aku akan mengatakannya padamu. Namun sayang kau tak pernah kembali, dan aku tak pernah punya kesempatan untuk itu.

Kini aku melihatmu lagi dengan kondisi yang berbeda. Seorang ibu untuk seorang anak bernama Hendra dari seorang juara dunia, Chai Yun. Aku kalah oleh Chai Yun, bahkan dalam urusan cinta.

“Apa kabar mu Hen?” kau mengulangi pertanyaanmu, menyadarkanku dari lamuananku.

“Ah, aku baik, selamat untuk kemangan Chai Yun.” jawabku mencoba tersenyum.

“Terimakasih…” dan kau pun berlalu, mengikuti anakmu yang sudah berlari menuju kerumunan orang-orang yang sedang memberi selamat untuk Chai Yun untuk kemenangannya atas diriku menjadi juara dunia.

***

“He is my coach but I look up to him as my uncle. He is a responsible coach and I am very lucky to have him as my coach. And I dedicate this medal for him, Hendra Gunawan”

Seorang remaja mengacungkan medali emasnya ke arahku dalam sebuah wawancara. Aku tersenyum, melambaikan tanganku padanya. Aku bangga padanya. Dia berhasil merebut emas dalam Junior Badminton Championship di Kuala Lumpur untuk Indonesia. Terlebih dia memiliki nama yang sama denganku, Hendra. Setidaknya itu yang disisakan oleh Rosiana untukku.

Semarang, 6 Juni 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: