Luluh

1 Jul

Mas Bram, lihat Mas, siapa yang aku ajak kemari, Gilang…Gilang Putra Bramantyo. Ganteng kan? Nggak kalah sama kamu. Matanya, itu mata kamu mas. apalagi senyumnya, nyaris nggak ada bedanya dengan senyum kamu.

“Sudah kuduga, kamu pasti datang ke sini…” sesosok wanita berjalan ke arahku.

Anak kecil yang ada di pangkuanku berlari memeluk pemilik suara yang datang menghampiriku.

“Mama…”

“Iya sayang…” membalas pelukan dan menciumi pipi si anak kecil.

“Lima tahun yang lalu, terakhir kali ku lihat wajah itu, orang yang kucintai di sini, sebelum ia dikuburkan…” aku membuka suara.

“Iya dan lima tahun yang lalu pula, ku temukan orang untuk ku cintai, kamu, di sini…” jawabnya, sebelum dia terdiam sejenak dan mulai berkata lagi, “maafkan aku, membuatmu tersiksa dalam kondisi ini, lima tahun ini.”

***

Dalam isakku, lima tahun yang lalu, di atas sebuah pusara, 40 hari setelah kematiannya.

Mas Bram…Kenapa Mas Bram tega ninggalin aku…sendiri…Mas Bram ingat, Mas Bram janji…kita akan tinggal bersama…bahagia…dalam satu rumah mungil yang nyaman, kita akan adopsi seorang anak untuk melengkapi kebahagiaan kita…Mas…Mas Bram…

“Pasti Mas Bram bahagia memiliki seorang sepertimu…”

Ku lihat seorang wanita menghampiriku. Aku berusaha menahan isakku, menghapus air mataku.

“Namaku Astri, Mas Bram sudah cerita banyak tentangmu.” sambil mengulurkan tangan padaku.

“Aneh..” sambil menjabat tangannya.

“Apanya yang aneh?”

“Hampir semua teman Mas Bram, temanku juga, tapi aku tak mengenalmu. Emmm…aku ingat kamu juga datang waktu pemakamannya, juga peringatan 3 hari, hingga 7 hari di rumah Tante Mer.”

“Iya…aku teman sekolahnya dulu, semasa SMA di kota kelahiran dia.” setelah kuberikan anggukan tanda mengerti, dan dia pun melanjutkan lagi kata-katanya, ” Aku kerja di kota ini sekarang, semenjak beberapa bulan yang lalu. Kebetulan tadi ada tugas kantor di dekat sini, jadi aku ingin mampir sejenak ke rumah Tante Mer, kasihan dia sendiri sekarang.”

“Iya…makanya aku sekarang tinggal bareng Tante Mer, dia sudah menganggapku seperti anaknya sendiri, akupun demikian, Ibunya Mas Bram berarti Ibuku juga.

***

“Eh…Nak Astri…kok bisa bareng datangnya?” seru seorang wanita yang sudah berumur, menjemput kami di teras rumahnya.

“Kebetulan tadi ketemu di makam Mas Bram, Tante.” jawab Astri.

“Oh…baguslah kalau sudah kenal, berarti Tante nggak usah ngenalin Astri ini ke kamu, gimana Astri baik kan, cantik lagi?” tanya Tante Mer padaku.

“Eh iya Tante…”

“Sebentar ya, kalian duduk dulu, Tante bikin minum dulu ya buat kalian”

Astri yang mulai membuka percakapan, dia banyak cerita tentang Mas Bram semasa SMA dulu. Anehnya dia juga mengetahui banyak tentangku, bahkan hubunganku dengan Mas Bram, padahal untuk yang satu ini kami terbilang cukup tertutup.

Tak lama kemudian, Tante Mer sudah datang dengan 2 gelas teh hangat dan kue kering.

“Sambil ngobrol, nih Tante bawain teh anget dan kue kering, hayuk biasanya juga kalau ada makanan langsung direbut, ini kenapa gara-gara ada Astri jadi malu-malu ya, hayuk dicoba nak Astri” seru Tante Mer.

“Iya Tante…”

Ku hirup dalam-dalam aroma teh hangat, di gelasku, pikiranku melayang ke masa-masa dimana menghabiskan waktuku bersama Mas Bram. Dia sangat suka teh hangat dengan sedikit gula, apalagi saat sore-sore seperti ini.

“Astri ini tunangan Bram, rencananya mereka menikah tahun ini…”

Uhuk…uhuk…uhuk…

Aku tersedak…sebagian teh di gelasku tumpah di bajuku.

“Hati-hati dong kalo minum, tumpah kan jadinya, sini tante bikinin lagi ya…”

“Nggak usah Tante, aku nggak enak badan, sedikit pusing, aku ke kamar saja, mau istirahat.”

Mas Bram…Kamu jahat…

Aku pun tenggelam dalam tangisku…

***

Di sebuah pusat perbelanjaan.

“Kamu…Astri…untuk apa kamu ke sini…?”

“Aku coba hubungi kamu, sms, telepon, tapi nggak pernah ada respon”

“Untuk apa…Kamu mau menambah rasa sakitku…rasa sakit kehilangan orang yang kucintai, dan sekarang kamu menambahkan dengan kenyataan pahit yang tidak ingin aku dengar!”

Aku mecoba berjalan pergi menjauh darinya, tapi wanita bernama Astri ini menarik tanganku.

“Tolong jangan pergi, dengarkan aku, sebentar saja…”

Akupun diam menunggunya bicara kembali.

“Aku hamil, anak Mas Bram” sambil diletakkan tanganku di atas perutnya.

Seketika itu juga dunia seperti gelap di mataku, kakiku lemas, mulutku terkunci tak mampu bersuara. Aku benci kamu Mas Bram…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: