Imlek, Aku Pulang

1 Jul

Tidak ada alasan untuk kembali. Aku sudah sampai di sini. Takut pun, tak bisa kujadikan sebagai alasan untuk menghentikan langkah ini.

“Mas, kita sudah sampai kan? Ayo turun..”
“Eh..iya..” aku tersadar dari lamunanku.
Tak lama setelah kami turun, taksi putih yang kami naiki tadi pun segera melaju pergi. Namun, sepertinya jiwaku tertinggal di sana, ikut melaju pergi, enggan berada di sini.
“Mas Hendra, ayo! Buruan!”

Ah Sarah. Dia senang sekali. Dia sudah berlari kecil, tidak sabar  mencari objek untuk diabadikan dengan kamera sakunya, sedangkan aku masih saja diam di sini. Melihatnya dari luar pagar. Iya, memang sudah lama sekali ia ingin mengunjungi tempat ini. Mengunjungi kotaku, tanah kelahiranku. Tapi aku selalu saja menghindar, mengganti topik pembicaraan tiap kali ia mengutarakan keinginannya untuk mengajakku kembali ke kota ini. Toh akhirnya dia berhasil, setelah delapan tahun, akhirnya kini aku pulang juga.

Kelihatannya bangunan ini masih sama, tak banyak yang berubah. hari ini terlihat lebih semarak, lebih meriah. Iya, seminggu lagi imlek.  Lampion-lampion berwarna merah yang menggantung. Lilin-lilin besar berwarna merah yang menyala dan asapnya yang menyebar ke sekiling. Serta bau yang khas, dupa yang dibakar. Khas Klentheng. Beberapa remaja terlihat berlatih wushu di pelataran paving di hadapanku. Semuanya adalah hal-hal yang kutakutkan untuk kutemui selama ini. Namun ternyata, aku juga merindukannya. Aku tersenyum untuk semua itu.

“Wen..Han Wen..” seseorang di antara kerumunan orang yang berlatih wushu berteriak, dan melambaikan tangannya padaku.
“Koh Jimmy..”

Han Wen. Ini kali pertama kudengar nama itu lagi setelah delapan tahun tentunya. Koh Jimmy, seseorang yang tadi melambaikan tangan padaku berlari kecil, datang menghampiriku, dan langsung memelukku. Aku pun tak kuasa menahan haru. Aku balas memeluknya. Tiba-tiba mataku pun menjadi basah, berat dan hangat.

“Kemana aja Wen, ndak ada kabar..” ucapnya dengan medog khasnya.
“Saya di Jakarta Koh..”
“Kebetulan sekali,” Koh Jimmy tersenyum senang, “Adeline pulang dari Australia, Adeline mau imlek disini..”
“Adeline..”
“Iya, hari ini Adeline mau datang ke sini. Mungkin sebentar lagi nyampe” serunya sangat bersemangat sambil memegang kedua pundakku, sementara aku hanya bisa diam melihatnya meninggalkanku kembali ke kerumunan remaja yang berlatih wushu tadi.
“Adeline..”

Hal yang kutakutkan selanjutnya..

Adeline. Dulu, gadis kecil itu selalu menungguiku di tempat ini. Di sudut klentheng Tay Kak Sie, Gang Lombok. Umurnya dua tahun lebih muda dari aku, saat itu usianya baru delapan tahun. Sejak saat itu dia menungguiku berlatih wushu. Aku dan dua kakakku, Hendry dan Handy berlatih wushu disini bersama teman-teman sebayaku, Koh Jimmy lah yang melatih kami. Koh Jimmy bilang aku paling berbakat di antara anak-anak yang lain. Meskipun begitu, jiwaku berontak, aku tidak suka wushu. Semata-mata ini kulakukan untuk papaku. Adeline lah yang menjadi penyemangatku, dia rela menungguiku setiap harinya hanya agar aku mau berlatih wushu.

Papa..Apa kabarmu? Mama, Koh Hen, Koh Han, aku kangen..Maafkan aku..

“Kamu mikirin apa Mas, dari tadi kok nggak semangat sepertinya, bukannya seharusnya kamu senang?”
“Nggak..aku nggak mikirin apa-apa..”

Sarah sudah menggandeng tanganku, mengajakku berkeliling di koridor yang serba merah ini. Sesekali ia mengambil foto bagian-bagian klenteng ini yang menurutnya menarik. Pikiranku kalut. Aku takut.

“Koh Wen..Adel kangen..kangen banget..” seseorang terisak.

Seseorang telah memelukku dari belakang, erat, sangat erat. Memelukku seperti waktu itu. Seorang wanita, berkulit putih, berambut panjang, bermata sipit. Seseorang yang dulu sering menungguiku berlatih wushu saat aku kecil. Lebih dari itu, hingga usiaku sembilan belas tahun, delapan tahun yang lalu, dia tetap mendampingiku. Kurasakan kemejaku basah, sesuatu menembus, hingga terasa hangat di punggungku. Aku hanya berdiri diam, menahan sesuatu yang hangat di mataku ini agar tidak jatuh. Sementara kulihat Sarah, hanya tersenyum. Iya, dia sudah tahu semuanya, tentang masa laluku, termasuk Adeline. Kucoba mengendurkan dekapan tangan-tangan mungil ini, namun berat, sangat erat. Seakan pemilik tangan-tangan ini tak ingin melepaskanku.

“Ini Sarah, calon istriku..” baru setelah kukatakan itu, Adeline melepaskan pelukannya padaku.

Sarah mengulurkan tangannya, meski kulihat agak ragu Adeline menatapku kemudian menjabat tangan Sarah. Dua wanita yang pernah dan masih ada dalam hidupku sekarang kini ada di hadapanku, berjabatan tangan. Kami pun duduk di salah satu bangku di koridor klentheng ini.

“Tante Mei, Koh Hen, Koh Han, semua kangen sama Koh Wen”
“Papa?” tanyaku.
“Om Hans..sudah meninggal Koh..setahun yang lalu..”
“Papa..”

Kali ini aku benar-benar tidak bisa menahan air mataku. Aku terisak hingga pundakku berguncang naik turun . Sarah menggengam tanganku, menenangkanku.

***

Plaaaakkkk

Sebuah tamparan keras di pipiku. Panas. Sangat panas.

“Selamanya Papa ndak isa terima pilihanmu itu!”
“Tapi Pa..”
“Papa kecewa! Kalau tahu akan seperti ini lebih baik Papa ndak pernah punya anak seperti kamu. Lebih baik kamu mati dari dulu dimakan anjing!”

Aku rasa memang benar. Lebih baik aku dari dulu mati dimakan anjing. Itu lebih mudah, daripada aku harus mengalami perang batin seperti ini.

Namaku Hendra Indarto. Seperti itulah yang tertera di akte kelahiran, papaku Hans Indarto, mamaku Mei Lin. Tapi mereka memanggilku Han Wen. Meski tidak hitam, tapi aku tak seputih mereka, dan mataku juga tidak sipit seperti mereka. Kalau saja mereka tidak menemukanku, ada kemungkinan aku memang akan jadi santapan anjing jalanan. Seseorang meninggalkanku di depan pintu rumah mereka, Papa dan Mama, yang kemudian menjadi orang tuaku.

Bukan karena aku merasa tidak cocok antara fisikku dengan budaya Tionghoa. Toh selama ini aku nyaman menjalaninya. Aku paling suka belajar bahasa Mandarin. Kata Koh Jimmy aku paling jago Wushu. Aku tidak ada masalah hidup di lingkungan, sekolah yang semuanya bermata sipit, kita sama-sama manusia tak ada yang beda, aku bisa bertahan bahkan selalu dapat peringkat di kelas. Aku ikut kelompok barongsai. Aku suka liong, lampion, petasan. Itulah sebabnya papa menaruh harapan besar padaku, dia sangat sayang padaku. Sering dia membanggakanku di depan teman-temannya, meski aku tak mewarisi darah Tionghoa tapi aku mewarisi budaya Tionghoa. Tapi aku tetap merasa ada yang salah dengan diriku, dengan keyakinanku. Aku tak mau sembahyang di klentheng lagi. Aku tak mau membakar dupa lagi.

Bukankah akan beda ceritanya kalau seseorang tak meninggalkanku di depan pintu rumah mereka. Bagaimana kalau aku diletakkan di depan pintu Bli Made. Apakah aku akan sembahyang di pura? Atau kalau akau diletakkan di depan pintu rumah seorang romo, ataupun rumah ustad atau kyai, tentunya akan berbeda ceritanya. Pilihanku sudah mantab, hatiku sudah memilih, aku ingin salat, aku ingin puasa.

Dua tahun aku menyembunyikannya. Hanya Mbok Darmi, pembantu di rumah yang tahu. Dia yang dulu sering kuminta membangunkanku menjelang sahur saat bulan puasa. Hingga akhirnya semua sudah memungkinkan untukku, aku sudah punya pekerjaan sampingan di sebuah EO, itu bisa kuandalkan sementara untuk membiayai sisa kuliahku sekitar dua atau tiga tahun kedepan. Itu adalah pilihan terburuk kalau akhirnya memang aku harus pergi dari rumah, meninggalkan keluargaku.

***

“Koh Wen pulang ya. Tante Mei pasti senang. Dia sangat rindu. Kangen sama Koh Wen..” Adeline memintaku.

Permintaan yang mengingatkanku pada permintaannya delapan tahun yang lalu, di sebuah peron stasiun. Aku tak bisa melupakan, kejadian saat itu, semua masih jelas di ingatanku.

“Koh Wen jangan pergi. Kamu tahu Koh, Tante Mei nangis terus mikirin kamu, Om Hans juga. Koh Hen, Koh Han, mereka semua sayang sama kamu…”
“Aku ndak isa, Adel..Aku harus pergi. Papa sudah ndak mau nerima aku lagi di rumah..”
“Kalau begitu bawa aku Koh..bawa aku..aku ndak mau jauh dari kamu..”
“Aku ndak bisa..kita ndak isa berdua lagi…kamu pulang ya, Adel..”
“Kenapa? Kenapa ndak isa? Apa karena sekarang kamu muslim? Kalau perlu..kalau perlu..aku juga bisa belajar salat..aku juga bisa puasa demi kamu.. ”
“Bukan demi aku Adel. Kamu pulang Adel..” aku berbalik dan melangkah pergi, meskipun itu berat.

Bunyi peluit memekik di peron stasiun Tawang itu. Keretaku sudah hampir berangkat. Tapi langkahku terhenti. Seseorang memelukku dari belakang, erat, sangat erat. Dia terisak. Punggungku basah oleh air matanya. Aku tak bisa menunggu, kurenggangkan dekapan tangannya, aku harus pergi. Maafkan aku Adeline.

“Sampai kapanpun aku tetap cinta..aku tetap sayang sama kamu Koh..” Adeline berteriak.

Aku tetap melangkah menuju pintu keretaku waktu itu, tak ingin menengok lagi, membiarkan beban di mataku ini jatuh dengan sendirinya.

Seperti halnya hari ini, aku pun tak bisa menahan air mata ini untuk jatuh. Setelah lama terisak, dan Sarah tetap menggenggam kedua tanganku. Aku mulai bisa mengendalikanl emosiku, menenangkan diri dan menerima kenyataan ini.

“Koh Wen pulang ya..” Adeline kembali meminta.
Kulihat Sarah mengangguk dan tersenyum, mengusap punggung tanganku.

***
Rumah ini pun masih sama, tak ada yang berubah. Semua masih seperti saat kutinggalkan duu. Masih ada foto keluarga di ruang tamu yang terus kupandangi . Fotoku, Koh Hen, Koh Han, Mama, Papa..

“Papa..Maafkan Wen..”
“Wen, kamu ndak salah. Itu sudah jadi pilihan kamu..dan perlu kamu tahu sampai meninggalnya pun papa sayang sama kamu, begitupun Mama, sangat sayang..dan tak akan pernah berubah..”
“Mama..”aku terisak dalam pelukan Mami.

Orang yang sangat kusayangi yang sudah delapan tahun ini tak kutemui. Aku larut dalam tangisku, begitupun mama. Kami berpelukan, lama, tanpa kata. Hanya isak kami yang terdengar. Kupuaskan rindu yang selama ini tertahan.

“Mama cuma minta..kamu pulang ke rumah ini ya. Wen?”
Aku hanya diam, kemudian mengangguk..
“Iya Ma..Wen pulang lagi ke rumah..”

***

Dalam taksi di perjalanan menuju bandara Ahmad Yani.

“Adeline menitipkan surat ini” Sarah menyerahkan lipatan kertas putih kepadaku.

Koh Wen..
Sampai kapanpun, Adel tetap akan mencintai Koh..dan itu tak akan berubah..Tapi sekarang Adel tahu, Koh Wen sudah menemukan orang yang tepat, Sarah. Dia wanita yang tepat untuk Koh Wen, tolong jaga dia dan jangan kecewakan dia. Adel harus berterimaksih sama Sarah, dia yang udah mempertemukan Koh Wen sama Adel dan juga Tante  Mei. Sarah yang sudah menghubungi Adel. Dia ingin agar Koh Wen bisa merasakan kembali keluarga yang lama hilang.
Seperti janji Koh sama Tante Mei, minggu depan Koh harus pulang..meski Koh Wen nggak merayakan imlek lagi..nggak ada salahnya untuk berkumpul bareng keluarga, sama Koh Hen, Koh Han, mereka semua pasti senang.
Semoga rencana pernikahan kalian berdua bulan depan lancar..jangan lupa mengundang kami semua..kalau pun nggak diundang..kami tetap nekat akan datang..
Salam untuk Sarah.

Adeline.

Semarang, 12 Februari 2010

Advertisements

2 Responses to “Imlek, Aku Pulang”

  1. bintang berkisah 11 February 2013 at 10:47 #

    saya suka dengan alurnya… cerita yang mengesankan!
    Membaca cerpen tahun 2010 ini membuat sy berpikir, you’re becoming better day by day… :)))

    • yuya16 15 February 2013 at 11:07 #

      Makasih ya, mudah-mudahan bisa terus belajar menjadi lebih baik 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: