Ice

1 Jul

Dari awal aku sudah tahu, ini akan menjadi sesuatu yang istimewa, sesuatu yang tak akan pernah kulupa. Evan Novacek, tidak ada yang tidak tahu tentangnya. Semua mengenalnya. Juara bertahan figure skating berpasangan empat tahun berturut-turut, dan jika semua sesuai rencana ini akan menjadi yang kelima baginya, dan pertama kalinya bagiku.

“Peserta selanjutnya…Tatiana dan Evan Novacek…” suara wanita menggema dari pengeras suara menyebutkan namaku dan dia, diikuti riuh tepuk tangan dan teriakan penonton yang memenuhi Ice Land Stadion.

Suasana yang semula riuh kemudian manjadi hening ketika nama Evan terdengar dari pengeras suara tadi, sepi, sunyi, seolah mereka tersihir oleh kemunculan sesosok pria yang meluncur ke tengah lapangan es. Begitupun lampu-lampu di sekeliling arena turut membangkitkan suasana. Terpusat pada seorang saja, Evan Novacek, mengikuti geraknya, arahnya, kemanapun dia meluncurkan diri. Terlebih musik orkestra yang menggema, mengiringi gerak tubuhnya, mebuatnya terlihat sangat megah.

Aku masih bediri di pinggir lapangan, menunggu giliranku untuk mendampinginya. Terpukau mengagumi suatu bentuk kesempurnaan. Iya, Evan Novacek begitu sempurna di mataku dan tentunya di mata gadis-gadis yang lain yang selalu memimpikannya di tiap tidur mereka, memimpikan untuk bisa menari, meluncur di atas es bersamanya. Sebentar lagi mereka akan menjadi sangat iri kepadaku, karena aku yang akan menjadi pasangannya dalam kompetisi figure skating berpasangan ini. Bagiku, dalam pakaian ketat berwarna hitam itu, Evan yang memiliki darah Rusia terlihat sangat laki-laki. Sangat jelas lekuk-lekuk tubuh terlatihnya yang menjadi pujaan para wanita. Apalagi setiap gerakannya di atas lapangan es, gerakan anggun, indah, namun tetap nampak garang menggoda di mataku.

Evan telah memutari lapangan dengan beberapa lompatan split yang mulus, dan kini dia melakukan biellman spin di tengah lapangan, berputar dengan kaki kiri sebagai titik pusat rotasi. Sementara kaki kanannya diangkat kebelakang dan kedua tangannya meraihnya membentuk suatu pola segitiga. Dia terus berputar dengan ritme yang terjaga sesuai alunan musik pengiringnya. Saat semakin melambat berarti kini giliranku masuk ke arena. Aku meluncur ke arahnya, memutarinya. Aku bahagia, sangat bahagia, untuk pertama kalinya tepuk tangan yang riuh kurasakan, mereka menyambut kedatanganku. Kurasakan seluruh lampu sorot kini terpusat kepadaku. Aku merasa semakin berkilau dalam pakaian silver ini. Sempurna.

Kami meluncur beriringan, saling mendahului bergantian. Goresan di lapangan es seperti pilinan yang teratur di pinggir lapangan. Sebelum sampai di ujung, axel jump, lompatan di udara dengan dua setengah rotasi dilakukan bersama. Gerakan yang indah karena kami melakukannya dengan sempurna, dengan pendaratan yang mulus juga. Nyaris aku seperti bayangan dari Evan. Saat pendaratan yang hampir bersamaan bisa dibayangkan bagaimana riunya sorak sorai penonton untuk kami berdua.

Evan memegang pinggangku. Dan…Hup…dia mengangkatku tinggi. Dengan satu tangan kanannya di pinggangku, aku seperti capung melayang di udara, membuka sayap-sayapnya, berputar-putar mengikuti putaran Evan, pelan, menuju pusat lapangan. Dengan sedikit hentakan, dan aku sudah melompat, meluncur menjauhi Evan, saling berlawanan. Ini bagian yang sulit, lagi-lagi axel jump bersama bahkan dua kali secara berututan, sulit karena kali ini kami berjauhan, diagonal di sudut-sudut lapangan. Di sinilah hati kami yang berbicara, menentukan kapan waktu tepatnya. Karena kesalahan sedikit saja akan merusak keindahannya. Bisa jadi aku atau dia yang melakukan kesalahan, terlambat untuk beberapa detik saja. Namun ternyata, sempurna.

Setelah saling menjauh kami kembali meluncur ke tengah bersamaan. Lampu sorot terpusat pada kami berdua. Gerakan-gerakan tubuh, mengisyaratkan dua insan yang tak mampu membendung rindu setalah lama tak bertemu. Jujur ini adalah saat paling bahagia, saat wajah evan tepat di hadapanku, bibirnya hampir menyentuh wajah dan leherku. Iingin sekali kurasakan kecupan itu, yang selama ini kupendam dalam latihan-latihanku bersamanya. Tapi tidak kulakukan. Setidaknya masih bisa kurasakan hangat nafasnya di kulitku. Aku sudah merasa cukup untuk itu. Karena aku tak ingin berharap lebih dari nya. Dia adalah bintang lapangan es yang sedang bersinar, sedangkan aku hanyalah pemula. Bahkan kalau bukan karena Yuna, senior di klub kami cidera, pasangan Evan untuk meraih emas hingga empat kalinya, aku takkan meluncur bersamanya saat ini.

“Sebentar lagi kita akan mengakhirinya dengan camel spin…” Evan berbisik di telingaku dengan aksen khasnya.

“Belum…” jawabku.

“Maksud kamu?” masih dengan gerakan mencumbuku.

“Plan B..”jawabku pendek.

“Tapi kita belum pernah melakukannya? Aku tidak yakin…”

“Gold Medal…aku ingin jadi juara…”

“Tapi…”

“Kumohon…”

“Baiklah…” jawabnya lirih.

Evan mengangguk, sorot matanya tajam menatapku, dingin sedingin es, dan aku takut untuk menatapnya. Dua tangan evan di pinggangku. Dalam beberapa detik saja, tubuhku seudah terbang diudara, berputar-putar, bahkan aku lupa berapa kali putaranku. Sementara Evan, meluncur mengejarku. Tidak biasa, karena dia melompat, quadruple axel, empat kali putaran di udara dengan kedua tangannya mendekap di dadanya. Gerakan yang sulit bahkan untuk skater professional sekalipun. Pendaratanku mulus, namun tidak dengan Evan, hampir tergelincir, tapi dia berhasil mengatasinya dan sudah meraih tubuhku untuk gerakan terakhir, pair camel spin, bertumpu dengan satu kaki dan berputar searah, dengan badan saling berhadapan seperti dua angasa yg dilanda asmara. Kembali tepuk tangan dan sorak sorai penonton menggema di stadion ini. Senyum Evan adalah senyum terindah yang pernah kulihat selama ini.

***

Dalam sebuah press conference

“Bagaimana perasaan anda, Tatiana, untuk keempat kalinya memperoleh medali emas female figure skating?” pertanyaan oleh beberapa wartawan di ruangan itu.

“Tentu saya sangat senang, saya yakin akan berhasil menjadi juara unutk keempat kalinya.” jawabnya mantab.

“Apakah anda tidak berniat kembali berkompertisi di figur skating berpasangan?” sahut wartawan yang lain.

“Sebenarnya saya sangat rindu untuk turun ke kelas berpasangan juga, apalagi pertama kali saya mendapat medali emas adalah di figur skating berpasangan, itu sangat berkesan, namun sampai sekarang saya belum bisa menemukan pasangan yang memiliki kemampuan seperti Evan Novacek.”

“Soal Evan Novacek, apakah anda tahu keberadaannya dimana sekarang?” tanya wartawan itu lagi.

“Tidak…terakhir kali saya bertemu…lima tahun lalu seusai kompetisi…bahkan dia menghilang saat penerimaan medali…”

“Gosip yang beredar, Evan Novacek mengalami cidera karena dipaksakan melakukan gerakan yang sulit dalam kompetisi lima tahun yang lalu?”

“Emmmm…saya rasa tidak begitu, saya yakin meskipun gerakan lima tahun lalu memang sulit, tapi Evan bisa mengatasinya, saya sangat tahu kalau dia mantap dengan gerakan itu, tidak mungkin dia seyakin itu kalau gerakan itu beresiko baginya, bahkan menciderai dirinya. Kemungkinan dia kembali ke Rusia…”

Tatiana meninggalkan ruangan press converence dengan memberikan senyum lebar, dan lambaian tangan kepada semua juru foto dan wartawan di ruangan itu. Diangkat tangan kirinya, menunjukkan medali emas yang baru saja diterimanya. Jelas terpancar kebahagiaan di matanya.

Begitupun dengan seluruh peserta press converence, wartawan, kameramen ataupun penggemar-penggemar Tatiana juga meninggalkan ruangan satu persatu. Mereka ikut bahagia atas kemenangan Tatiana untuk kesekian kalinya. Tinggal seseorang yang juga mulai beranjak dari tempat duduknya. Bibirnya tersenyum kecil, mengingat saat terakhirnya meluncur bersama Tatiana, dan terakhir kali meluncur dalam hidupnya.

“Demi kamu…Tatiana…” bisiknya lirih.

Lelaki asing itu tertatih, berjalan dengan tongkat penyangga di tangan kanannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: