Gerimis

1 Jul

Gerimis. Bunga Desember. Kartu Nama

Seperti halnya hari ini, gerimis membasahi kuntum bunga desember berwarna merah jingga itu. Bergoyang-goyang pada tangkainya yang kecil panjang namun tetap kokoh, dan sebuah kartu nama di tanganku.

Adrian Belgrade
Creative Editor
Indigo-Adv
081328413169

Ternyata bunga desemberku merekah untuk kelima kalinya semenjak kau berikan kartu nama ini, dan entah sudah berapa juta titik-titik gerimis membasahi bumi, pun membasahi hatiku. Lima tahun. Benarkah sudah selama itu? Iya. Bunga desemberku selalu setia pada waktunya, dan begitupun aku, setia pada waktuku. Selalu mengingatmu, terlebih untuk hari-hari seperti ini, di kala gerimis di bulan Desember. Aku mengingatmu selama ini, kau yang memaksaku untuk menyimpan secuil kenangan tentangmu.

***

Gerimis. Malam. Kedai Kopi

Kalau bukan karena gerimis aku tak akan ada di sini malam ini. Duduk sendiri di sudut kedai kopi yang temaram.

Lama. Ini akan lama. Hujan tak akan segera reda. Sedangkan coklat panasku tinggal setengahnya saja.

“Sendirian?” suara seorang lelaki.

Asing. Tentu saja suara asing itu milik seseorang yang asing pula. Dia menghampiriku. Baru pertama kali ini aku melihatnya. Seorang laki-laki dengan penampilan cukup rapi. Kemeja putih lengan panjang bergaris tipis yang digulung hingga siku. Celana panjang hitam formal. Sebuah tas ransel hitam menyembul di balik punggungnya. Sekilas wajahnya menampakkan senyum yang berbeda, yang mencuri perhatianku di dalam ruangan yang temaram ini.

“Boleh saya duduk di sini?” lanjutnya, tanpa menunggu jawabanku dia sudah menarik kursi di depanku, duduk di hadapanku.

“Namaku Adrian” dia mengulurkan tangannya dan aku terpaksa membalas uluran tangannya. menjabat tangannya. Namun tak ada kata keluar dari mulutku. Aku hanya mengangguk tersenyum padanya. Senyum yang terpaksa.

Hingga satu jam berikutnya, dia mendominasi semuanya. Aku hanya mendengarkan dia banyak bercerita. mengeluarkan gurauan-gurauan yang sebenarnya tidak begitu lucu tapi kembali memaksaku untuk tersenyum, atau tertawa kecil. Tapi tak ada kata keluar dari mulutku. aku hanya diam.

“Sepertinya hujan sudah reda, aku harus pergi” aku beranjak dari tempat dudukku.

“Tunggu…” dia berusaha mencegahku.

“Ya…”

“Boleh saya tahu nama kamu, atau no telpon kamu, mungkin kita bisa bertemu lagi lain kali?”

Aku tersenyum, menggelengkan kepalaku..

“Baiklah mungkin tidak sekarang, ini kartu nama saya, kalau ada waktu kamu bisa hubungi saya.”

Aku kembali tersenyum, dan mengangguk, berlalu meninggalkannya dengan kartu namanya di tanganku.

Namaku Airin. Besok aku akan menikah, dengan laki-laki yang tak ku kenal, pilihan kedua orangtuaku. Itulah kata-kata yang ingin aku ucapkan sedari tadi di kedai kopi itu. Tapi tak bisa keluar dari mulutku.

***

“Mama…” suara gadis kecil membuyarkan lamunanku. Malaikat kecilku, gadis kecil berusia empat tahun dengan pita merah muda di kepalanya.

“Iya sayang…”

“Mama sedang liat apa?”tanyanya.

“Bunga desember sayang, lihat di sana yang warnanya merah, cantik kan? Seperti kamu?” ku masukkan lagi kartu nama ini ke dompetku. Segera ku gendong gadis kecilku, kuperilhatkan bunga desember yang bergoyang-goyang tertimpa gerimis hujan.

Adrian, mungkin tahun depan nanti, aku akan kembali melihat gerimis, bunga desember dan kartu namamu. Cukuplah itu yang bisa ku lakukan. Hanya itu yang bisa kulakukan. Memang tidaklah penting, tapi cukup bermakna untukku. Seseorang asing yang pernah hadir dalam hidupku untuk satu jam saja namun membekas selamanya. Pernahkah kau mengingatku Adrian. Ah bahkan kau pun tak tahu namaku, pasti kau sudah lupa padaku.

***

“Segelas coklat panas ukuran sedang untuk mas-mas yang menunggu seorang wanita berteduh, berlindung dari gerimis hujan” waiters meletakkan segelas coklat panas di meja seorang laki-laki.

“Ah mbak ini bisa saja…tahu aja mbak…” jawab lelaki itu.

“Semua orang di kedai kopi ini juga tahu, sudah lima tahun ini, mas Adrian selalu datang ke kedai kopi ini untuk menunggu kedatangan seorang wanita yang akan berteduh dari gerimis hujan.”

“Iya…dan dia tak kunjung datang…”

Semarang, 6 Desember 2009

Advertisements

2 Responses to “Gerimis”

  1. kolomkiri 6 July 2010 at 08:27 #

    grimis mengundang…heee…salam kenal…

  2. yuya16 6 July 2010 at 08:49 #

    yah itu mah laguuu…iya salam kenal juga dari Yuya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: