Di Warung Yu Sri

1 Jul

“Kopinya mana? Lama bener! Jangan lupa yang manis Yu!” Teriak seorang laki-laki, kasar. Mungkin sesuai dengan perawakannya yang berfisik kasar pula. Wajah yang garang dengan kumis dan jambang tak beraturan, badan yang gempal berotot, bukan karena rutinitas di tempat fitness atau gym, tetapi gempal berotot karena nasib hidup yang mengharuskan dia bekerja sebagai sopir truk pengangkut pasir, sudah tugasnya pula bersama beberapa laki-laki lain untuk mengangkut dan menurunkan pasir-pasir itu dari truknya.

“Sabar Mas Jo…baru juga dibikin. Nanti kalau kurang kenthel, kurang manis, marah-marah lagi.” Jawab seorang perempuan dengan logat jawa yang kental sambil mengaduk kopi panas dalam gelas besar bertatak dan diletakannya di meja depan si laki-laki tadi. Tidak hanya logat jawanya saja yang kental, wanita yang berumur 30an itu pun mengenakan pakaian yang menunjukkan kejawaannya. Dengan kebaya dan kain menutupi tubuhnya. Tapi jangan bayangkan kebaya semacam buatan Annie Avantie, hanya kebaya biasa yang sering dijual di pasar-pasar, bukan puluhan juta, mungkin tidak sampai Rp.50.000,00. Kain yang menutupi bagian bawah tubuhnya pun asal menutupi saja, tidak diperhatikan keindahan dan kerapian. Namun bagi beberapa orang laki-laki yang sering berkunjung di warung itu, pemandangan ini menjadi berbeda, pemandangan yang sedikit membangkitkan hasrat. Bagaimana tidak, wajah perempuan yang dipanggil Yu Sri ini tidaklah jelek, dan cara berpakaian sederhananya itu justru menggugah gairah. Kebaya yang menempel di tubuhnya seakan terlihat kekecilan untuk tubuhnya yang montok itu. Seakan apa yang ditutup di dadanya meronta-ronta untuk keluar dari himpitan kain yang sempit itu. Terlebih sesuatu yang bulat diperut, pusarnya, dan sebagian perutnya yang putih itu dibiarkan menjadi tontonan para lelaki yang haus belaian wanita.

“Yu, aku minta nasi pecel, sing pedes yo! Ndak usah pake lauk, aku lagi kere.” Seru seorang laki-laki lain yang baru datang dan kemudian duduk di sebelah laki-laki yang memesan kopi. Posturnya lebih kecil dari lelaki sebelumnya, namun untuk wajah dan nasib sepertinya tidak jauh beda.

“Piye Jo, kapan mangkat?” tanya laki-laki itu pada orang disebelahnya.

“Bingung aku Mar, memang susah kalau banjir begini, lihat saja jalanan macet, bos ku pasti ngamuk-ngamuk. Harusnya aku sudah sampai Surabaya tiga hari yang lalu, malah sekarang masih di sini. Persediaan duit juga sudah mulai menipis.” Jawabnya.

“Lha kamu enak, bawa pasir, aku…aku bawa sambako, kalau kelamaan mandeg ning kene iso bosok kabeh, ndak laku dijual. Emang banjir bikin susah, gara-gara jalan pada bolong jadi macet kayak gini.” Protes lelaki bernama Mardi yang dipanggil dengan Mar, yang kemudian dia melanjutkan lagi “Eh Mulan wis lewat belum Jo?”

“Heh Jo…ditanya kok nggak jawab, Mulan wis lewat belum?”tanyanya lagi sambil memperhatikan yang diajak bicara.

“Oh pancen otak ngeres yo koyo ngene iki. Yu…mbok biasa saja kalau nguleg bumbu sambel, itu pantat kemana-mana, goyang kiri-goyang kanan, ini lihat si Karjo matanya sampe melotot ngeliatin kamu Yu.“

“Ya biarin tho ya…terserah yang punya pantat, mau geol kiri, mau geyol kanan ya terserah. Kalian juga nggak rugi tho. Ni dengerin lagu kesayanganku lagi diputer di radio. Kalau mau ikut joget ya silakan.” Jawab perempuan itu

sambil membesarkan volume radio di dekatnya dan mengalunlah lagu dangdut koplo Cape Deh yang saat ini lagi heboh di kampung-kampung.

“Bukannya gitu Yu, cuman…masak Yu Sri ndak kasian sama kita-kita ini, sudah lama nggak dapet jatah dari istri, jatah kasur, lha gimana mau dapet jatah kalo kita masih lama ngendon di sini gara-gara banjir.” Protes si Mardi yang didukung si KarJo yang mesam-mesem malu karena aksinya kepergok kawannya.

“Nih pecelnya, yakin ndak pake lauk?”
“Ndak usah Yu, lagi kere.”
“Huh alasan, kalau memang bener duitnya sudah habis ya bisa saja aku kasih gratis, tapi kalian ini kan laki-laki nggak bener, banyak bohongnya, tadi aja bilang kere, nggak punya duit, tapi masih saja nanyain si Mulan.” Jawab Yu Sri.

“Gimana lagi udah nggak tahan Yu, butuh pelampiasan aku ini.” Karjo menimpali.

“Daripada sama Mulan, mbok sama aku wae, biar janda gini aku ini masih jos gandos lho.” Ucap Yu Sri menggoda dua lelaki didepannya.

“Ah nggak ah, resikonya gede, nanti malah minta dikawini bisa dibunuh aku sama istriku, mending sama Mulan saja.” Jawab Mardi.

“Yo wis kalo nggak mau.” Dengan wajah cembeut kembali ke belakang sibuk dengan radionya yang terdengar kresek-kresek, mencari frekuensi yang pas.

Sesaat kemudian, datang seorang lelaki muda ke warung Yu Sri itu. Meskipun dengan baju lusuh berdebu tapi masih menampakkan kerupawanan dari sang pemiliknya.

“Kulo nuwun, permisi…” sambil celingukan mencari yang punya warung.

“Saya pesen rames, pake tempe saja lauknya, minumnya air putih.” Pintanya sopan juga dengan aksen jawa yang kentara.

“Aduh-aduh Gusti, ngimpi opo tho aku semalem, kok tiba-tiba ada mas-mas ganteng datang ke warungku. Sepertinya doaku dikabulkan. Tiap malem aku berdoa biar ketemu yang ganteng-ganteng. Aku bosen tiap hari ketemu sopir-sopir kayak kalian, udah item-item, keringetan suka ngutang juga.” Ucap yu sri dengan mata berbinar-binar, sambil melirik ke dua
lelaki sebelumnya dan hanya dibalas cibiran oleh keduanya.

“Loh, bu saya pesennya cuma sama tempe saja kok, ini malah ada telur, minumnya juga bukan teh manis, air putih saja.” Tanya lelaki muda kebingungan.

“ah, nggak apa-apa, itu bonus dari saya, tapi jangan panggil bu, yu…yu sri aja manggilnya ya…saya kan masih cantik, masih keliahatan muda, iya tho”jawab Yu sri masih dengan binar-binar kebahagiaan di matanya.

“Eh iya makasih, Yu…Yu Sri.”

Mardi dan Karjo yang dari tadi memperhatikan akhirnya membuka suara juga, “ Ati-ati lho mas, Yu Sri ini janda lagi butuh laki…”

“Hus, sudah jangan didengarkan, mas nya ini namanya siapa, terus mau kemana?” Yu Sri memotong ucapan Mardi.

“Saya Yusuf, sebenarnya saya ikut temen saya yang sopir truk, mau ke Jakarta, mau cari kerja, tapi malah macet kayak gini jalannya” jawab lelaki muda itu.

“Emang mau kerja apa Mas, dipikir gampang nyari kerja di Jakarta.” Karjo mencibir.

“Yah saya nggak tau juga, saya cuma keluaran pesantren di desa sana.”

“Nah kan belum tau, nanti kalau jadi gelandangan gimana di Jakarta? Sudah Mas Yusuf ikut saya saja, saya butuh temen di sini, Bantu beres-beres, atau beli sayuran di pasar, lagian biar saya ada temennya, saya kan sendiri, saya sering takut lho kalau malem-malem sendirian nggak ada yang nemenin.” Bujuk Yu Sri dengan nada manja.

Yu Sri kembali berbicara sendiri di depan Mardi dan Karjo, “ Duh Gusti, dulu kyai di kampung bilang Nabi yang paling bagus rupane itu Nabi Yusuf, lha ini ada mas-mas namanya Yusuf kok ya gantenge ra ketulungan, seperti artis, yang sering nyanyi dangdut, Saipul Jamil.

Sementara Mardi dan Parjo hanya saling pandang dan memberikan senyum mengejek pada Yu Sri. Sebentar kemudian wajah dua lelaki ini jadi ikut sumringah ketika yang mereka tunggu datang juga.

“Hai hai hai semuanya, apakabar nih…pasti udah pada kangen banget ya sama Mulan, iya kan, iya tho, iya dong, tapi sorry seribu sorry, Mulan udah nggak level lagi sama kalian, beda kelas…” ucap kemayu sesosok manusia dengan balutan busana yang sexy mengumbar aurat, kaos ketat yang membuat dadanya penuh menonjol keluar, serta rok yang sangat mini.

“Ah Mulan kok gitu, Mas Mardi sudah kebelet nih, sudah nggak tahan lagi, pentungan Mas Mardi udah tegang nih, butuh serpis.” Mardi menggoda dengan mengedip-ngedipkan matanya dan berusaha mencubit pantat Mulan. Sementara Yu Sri dan Yusuf hanya melihat dengan pandangan tidak nyaman.

“Ih apa sih, jangan pegang-pegang, ntar pacar Mulan marah,” berusaha menghindar.

“Halah siapa sih pacarnya, sopir truk mana lagi, lagian berani bayar berapa sih dia, aku berani dua kali lipatnya.” Karjo ikut semangat berusaha mencubit pantat Mulan hingga Mulan meronta dan terdorong ke arah lelaki muda bernama Yusuf tadi.

“OMG…Yu…Yu Sri…ini siapa sih kok guanteng buanget…guantengnya pol polan…” seru Mulan kaget ketika melihat ke arah Yusuf, dan tangannya pun kini sudah berusaha menggerayangi wajah Yusuf yang berusaha menepisnya, terlihat tidak nyaman karenanya.

“Jangan diganggu, ini Mas Yusuf, dia orang baik-baik, anak pesantren, kalau kamu macem-macem sama dia, aku seret kamu keluar dari warungku!” ucap Yu Sri dengan nada marah.

“Ih apa-apaan coba, Mas yusufnya juga ga masalah kan ya, malah seneng ya dibelai-belai Mulan yang cantik.” Sambil terus menggoda Yusuf yang merasa salah tingkah karenanya.

“Maaf, tolong jangan dekat-dekat Mbak, dosa, bukan muhrimnya.” Yusuf memohon.

“Aduh makin suka deh, jadi laki mbok ya yang kayak gini, jual mahal, nggak seperti kalian yang ngobral burung kemana-mana.” Ucap mulan sambil melirik ke arah dua lelaki yang tadi menggodanya.

“Ya udah deh, kalau Mas Yusuf nggak mau, pasti masih malu ya, yakin deh ntar juga bakal nagih kalo udah Mulan service, sekarang Mulan ada janji sama om-om yang ada di Rumah Makan Serba Eco seberang jalan tuh, pokoknya kalau Mas Yusuf pengen dapet service, buat Mas Yusuf Mulan kasih gratis, Mulan tunggu ya di Rumah Makan seberang jalan.”

Sambil mencubit pipi Yusuf dengan gemes.

“Udah sana pergi!” Yu Sri masih sewot.

Mulan pun berlalu meninggalkan warung Yu Sri dengan langkahnya yang kemayu melenggak-lenggokkan pantatnya ibarat seorang model, berjalan di sela-sela mobil-mobil yang terjebak macet di jalan. Rambutnya yang dicat warna merah itu terurai, dikibas-kibaskan kesana kemari layaknya bintang iklan shampo.

“Gila jaman sudah edan, mana di tv artis laki-laki ganteng pacaran sama laki juga, di sini laki-laki pada doyan bencong, makin susah jadi perempuan, saingannya banyak.” Yu Sri ngomel-ngomel, “eh Mas Yusuf nggak apa-apa kan, itu bencong memang kurang ajar.”

“Bencong?” Yusuf kebingungan.

“Iya Mulan itu bencong, sama kayak Mas Yusuf punya…burung.” Ucap Yu Sri mesam-mesem, nggak kalah genit daripada Mulan.

“Tapi kok, punya…” Yusuf ragu untuk melanjutkan kata-katanya, sambil menyentuh dadanya.

“Susu…” potong Karjo.

“Iya…susu…hehehe” ucap Yusuf lirih, agak malu.

“Ya memang jaman sudah edan tho Mas, gara-gara teknologi apa gimana gitu, bencong-bencong disuntik-suntik biar punya susu, mau montok kayak apa tapi itu kan palsu, kayak punyaku ini lho asli lebih manteb.” Sambil membusung-busungkan dadanya di depan para lelaki ini. Terang saja Mardi dan Karjo tambah ngiler melihatnya sementara Yusuf semakin salah tingkah, bingung anatara pengen melihat ke arah Yu Sri atau menunduk saja.

“Tapi kok, mas-mas ini pada nggodain Mbak…eh…Mas Mulan…?”

Mardi dan Karjo malah tertawa cengengesan.

“Namanya juga lagi butuh, Mas nya belum pernah kawin ya, kalau sudah ngrasain tidur sama cewek pasti bawaanya pengen lagi…pengen nagih terus…Lagian nggak cuma kita saja, laki-laki laen juga pada doyan sama bencong” jawab Karjo cuek.

“Tapi kan Mulan tadi…bencong…”

“Yang penting kan ada lubangnya…lubang ini…lubang ini…”Mardi menimpali, sambil menunjukan ke mulut dan pantatnya.

“Lubang apa lagi…lubang hidung…lubang telinga…” Yu Sri sewot menimpali penjelasan dua lelaki itu. “Sudah Mas…jangan didengerin, dua orang ini memang laki-laki nggak bener, ntar Mas Yusuf ketularan lho, terus jadi keterusan buang-buang duit buat bencong-bencong kayak Mulan.” Yu Sri cemas

“Oh dapet duit juga ya Mulan itu…” tanya Yusuf.

“Lha ya iya, namanya juga kerja, muasin nafsu laki-laki bejat kayak gini, seperti pelacur Mas…tapi ini bencong…laki…kalau dapet sopir-sopir truk kayak gini ya ga seberapa, tapi kalau kebetulan ketemu om-om yang tajir ya dapet duitnya banyak.”jawab Yu Sri semangat, sementara Yussuf hanya mengangguk-angguk paham.

“Kalau aku jadi kamu ya…sudah aku samperin si Mulan, mana tadi dibilang mau diserpis gratis, kalau kita mah harus bayar, enak ya punya wajah ganteng, nasib-nasib…” Karjo memelas.

“Betul itu…mumpung gratis…aku jamin…bakal nagih…uenak tenan pokokke…” Mardi memprovokasi.

“Gitu ya Mas…”

“Hahaha…sudah nggak usah ditahan lagi…jadi orang baek itu rugi…nggak bisa ngrasain yang enak-enak…lagian kamu ini kan sudah gede tho…udah sering…gini tho, tiap pagi…” Karjo menambahkan, sambil tanganya dikepalkan digerak-gerakkan naik turun memberi kode.

Sementara Yusuf hanya tersenyum malu pada dua orang itu.

“Udah Yu…berapa ini semuanya…”Tanya Yusuf kepada Yu Sri.

“Buat Mas Yusuf gratis aja deh…kalau ada waktu sering-sering kesini ya Mas…” pinta Yu Sri dengan senyum lebarnya.

“Wah makasih banyak lho Yu…iya…saya bakal mampir lagi kalau ada waktu, sekarang saya mau nemuin Mulan…”jawab Yusuf dan berlalu meninggalkan warung Yu Sri.

Sementara Yu Sri hanya bengong, tak mampu bicara, kaget dan kecewa karena jawaban Yusuf tadi. Apalagi ketika melihat Yusuf menyebrang jalan menuju Rumah Makan tempat Mulan berada. Sedangkan Mardi dan Karjo meski agak kaget juga tapi mereka tertawa puas, karena provokasi mereka berhasil, berhasil membuat seorang laki-laki baik-baik jadi tidak bener seperti mereka.

***
Beberapa hari kemudian,

“Yu…Yu Sri…apa kareba neh…laris ga jualannya” seru Mulan masih dengan gaya kemayunya waktu sampai di warung Yu Sri.

“Biasa aja…” balas Yu Sri sedikit tidak ramah mungkin karena masih kesal gara-gara kasus Yusuf kemarin.

“Yu Sri…ini saya mampir lagi…sekarang nama saya Yessi…Yusuf Seksi…” tiba-tiba seseorang muncul dari belakang Mulan mencubit lengan Yu Sri, dengan gaya bicara yang tak kalah kemayu, serta pakaian yang tak kalah sexy juga dibanding Mulan.

Dan Yu Sri sekali lagi hanya bengong dan tak mampu bicara atas penampakan di depannya.

Advertisements

2 Responses to “Di Warung Yu Sri”

  1. niam 13 April 2011 at 20:14 #

    Apapun bisa terjadi di dunia ini…
    Yg lurus bisa belok,,yg belok bisa lurus,tergantung kekuatan kita untuk menahan godaan duniawi…

    Makna spt Itulah yg dpt aku ambil dr cerpen ini…

    • yuya16 14 April 2011 at 04:06 #

      terimakasih nieam sudah berkenan membaca :), semoga bermanfaat hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: