Berdua di Suatu Senja

1 Jul

Mengirimkan Senja untukmu

Kita berdiri di bawah langit yang sama
Kita berdiri di atas bumi yang sama
Tapi tidak dengan senja kita
Meski matahari kita pun adalah sama

Senjaku adalah rasaku
Ku ingin kau tahu itu
Memandangi senjaku

Akan ku ambil sepotong senja
Membungkusnya dengan kado terindah
Hadiah ku untukmu

Dewi Nurmala
dewi.malam@gmail.com

***

from: sepatu_gilang@yahoo.com
subject: senjaku

Dewi…cukup lama ya…13 tahun…
ini senja ku sebulan yang lalu, saat malam tahun baru..beruntung aku bisa menemukan mu lagi dan bisa mengirimkan senja ini untukmu..apakah ini senjamu dulu?

Gilang Saputra
0811287988

lampiran file: berdua di suatu senja.jpg

Berulang kali ku baca sebuah pesan di emailku sore ini…dan berulang kali pula aku memastikan pengirimnya adalah seseorang yang bernama Gilang Saputra.

Emh…Aku menghirup nafas, panjang dan dalam. Kemudian kulepaskan dengan sebuah senyuman. Susah, sangat susah untukku mengungkapkan rasa ini. Terlalu indah. Aku tidak bisa berhenti menggeleng, tersenyum, menghela nafas, dan sesekali memejamkan mata.

Gilang. Lama. Iya sangat lama. Tiga belas tahun. Dan, aku tidak pernah mengira akhirnya bisa kutemukan dirimu lagi. Apa kabarmu Gilang? Kamu dimana sekarang?

***

Seketika ingatanku terbang ke masa lalu, saat masih duduk di bangku SMP, saat aku masih berseragam putih biru. Satu buah bendel majalah dan setumpuk amplop warna-warni kini ada di atas mejaku.

Majalah MOP, aku bahkan sekarang sudah lupa singkatan dari apa MOP itu. Yang jelas waktu SMP dulu, tiap awal bulan adalah hari-hari yang ku tunggu, karena tiap awal bulan inilah majalah-majalah MOP ini sampai ke sekolahku. Waktu itu MOP sudah segalanya untukku, aku sangat bangga menunjukkannya pada keluargaku di rumah tiap kali mendapatkannya. Bahkan aku harus berlari-lari kegirangan hanya agar bisa sampai rumah secepatnya, untuk memamerkan majalahku itu tentunya. Tidak pernah terpikirkan kalau ternyata ada banyak majalah-majalah untuk remaja seusiaku di luar sana, dan tentunya lebih bagus dari MOP. Maklumlah aku tinggal di pelosok, sebuah desa kecil yang jauh dari keramaian di kabupaten Magelang. Di kaki gunung Merbabu, yang biasanya selalu mendadak ramai dikunjungi anak-anak sekolah dari kota untuk camping tiap kali liburan catur wulan.

Setumpuk amplop warna-warni, surat menyurat, sahabat pena. Ah itu sangat jaman dulu sekali ya. Belum tahu ada istilah email, facebook, atau twitter, jangankan handphone, telepon rumah saja tidak punya. Aku ingat banget pernah suatu hari aku harus naik angkutan desa ke kecamatan sambil membawa sebuah radio. Untuk menyambangi sebuah telepon umum, dengan modal koin-koin seratusan rupiah, hanya untuk request lagu pada sebuah radio kesayanganku itu.

Gilang saputra. Satu buah nama yang tertulis pada amplop warna-warni itu. Nama yang sama seperti yang ada di majalahku. Satu buah foto 3×4 hitam putih di antara foto-foto yang lain di sebuah halaman majalah MOP, rubrik sahabat pena. Foto seorang remaja laki-laki berseragam putih dengan rambut belah tengahnya. Gaya rambut yang mengingatkanku pada idolaku pada masa itu, Jimmy Lin artis mandarin itu.

Nama: Gilang Saputra
TTL: Semarang, 2 April 1985
Sekolah: SMP 5 Semarang
Alamat: Jl.Indra Prasta 14 semarang
Hobby: sepak bola, bermain gitar, naik gunung, memancing, surat menyurat

Ah tentunya bukan karena informasi yang standar itu yang membuatku memutuskan untuk mengirimkan surat padanya. Alasanku tentu karena melihat foto wajahnya. Meskipun cetakan majalah pada kertas buram itu tidak begitu jelas, tapi aku masih bisa melihat aura kegantengannya. Atau mungkin sebenarnya wajahnya biasa saja, hanya saja dia beruntung karena foto-foto yang lain lebih burem dibanding fotonya, sehingga pandanganku langsung tertuju padanya. Dan mulailah kami berbagi cerita, tentangku, teman, sekolah, desa, bahkan gunung. Namanya juga anak-anak, apa saja diceritakan. Agak geli bercampur malu juga kalau diingat-ingat karena terlalu banyak hal tak pentingnya untuk dibagi.

Ku buka sebuah amplop berwarna biru. Tak ada kertas surat di dalamnya. Hanya sebuah foto. Suatu senja di pantai Marina. Mungkin itu judul yang tepat untuk foto itu. Langit yang berwarna kemerahan di atas laut yang tenang. Beberapa baris kalimat di balik foto itu.

Untuk Dewi
Dewi, aku mengirimkan senja di pantai Marina untukmu. Kapan kamu akan mengirimkan senjamu, di gunung Merbabu? Aku menunggu kiriman senjamu.
Gilang Saputra

Iya..aku ingat, aku pernah berjanji akan mengirimkan senja di gunung Merbabu untuknya. Tapi belum sempat ku lakukan. Suatu senja, bukan di kaki, atau di lereng Merbabu, tetapi di puncaknya. Di atas tanah berpasir yang lapang, yang jika sekali saja angin bertiup pasti akan memaksaku melindungi mata dan wajah dari serangan debu-debu pasir itu. Sebuah puncak di mana ku bisa melihat hamparan edelwise seperti permadani putih yang luas. Sedangkan jauh di depan sana langit yang memerah, memayungi dua sahabat Merbabu, Sumbing dan Sindoro yang berdampingan. Mereka, berdua di suatu senja. Senja itulah yang ingin ku kirim untuknya, namun ternyata malah dia yang mengirimkannya unutkku. Ah tiba-tiba aku sangat rindu pada senjaku yang dulu. Rindu kampung halamanku.

Senja di pantai Marina. Iya ini surat terakhirnya yang kuterima. Setelah itu, tak pernah lagi kudapati kiriman surat darinya. Meski beberapa kali aku mencoba mengirimkan surat untuknya, namun tak pernah ada balasan, entah terkirim entah tidak. Hingga akhirnya aku menyerah, berhenti dengan sebuah janji yang belum ku penuhi. Janji untuk mengirimkan senjaku.

***

Dua tahun yang lalu, nasib membawaku ke sini. Kebetulan sekali aku ditempatkan kerja di Semarang. Tentunya yang terlintas pertama kali di benakku adalah, kamu dan senjamu, dan itulah yang pertama ku tuju. Ku cari keberadaanmu Gilang, Indra Prasta 14, namun bukan dirimu, tetapi sebuah bangunan baru, sebuah tempat bimbingan belajar yang kudapati. Aku putus asa, hingga hari-hariku pun sering habis di tempat ini, tempat kau memandang senjamu dulu.

Satu minggu yang lalu, kudapati puisi dan namaku di sebuah halaman surat kabar. “Mengirimkan Senja untukmu”, semata-mata ku tulis karena aku tiba-tiba merasa sangat rindu padamu saat aku berada di senjamu ini. Di hari yang sama, seseorang mengirimkan sebuah senja ke emailku.

Pesan terkirim
To: Gilang Saputra
0811287988
Aku sedang berdiri, memandang senjamu yang dulu.

Tak lama kemudian…

Pesan diterima
From:Gilang Saputra
0811287988
Tunggu aku, aku segera menuju senja kita nanti.

***

Aku dan kamu, seperti mereka, Sumbing Sindoro, berdua di suatu senja…

Semarang, 9 Februari 2010

terimakasih untuk foto: berdua di suatu senja
foto oleh: Harum Sekartaji
http://harumanis.multiply.com/

Advertisements

2 Responses to “Berdua di Suatu Senja”

  1. jendelakatatiti 1 July 2010 at 15:28 #

    Senja yang indah….http://Jendelakatatiti.wordpress.com.

    • yuya16 1 July 2010 at 15:46 #

      iyah senja meamng indah 🙂 makasih udah mampir ya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: