Anak Bintang

1 Jul

Magelang, 27 Januari 2010

Jam sepuluh pagi. Jam kunjungan telah dimulai. Aku dan belasan orang lainnya beriringan memasuki pagar besi yang baru dibuka oleh penjaganya. Beberapa diantaranya aku sudah hafal muka-mukanya, bahkan ada juga yang sudah ku kenal. Maklumlah hampir tiap minggu selama tiga bulan ini aku rutin mengunjungi tempat ini. Kadang kami sering ngobrol selama menunggu jam besuk tiba.

Suasana di dalam tidak jauh beda dengan di luar pagar besi tadi. Memang halamannya tidak seluas di luar. Pohon-pohonnya pun tidak serindang di luar, tapi udara di sini sama sejuknya. Mungkin bukan karena pohon-pohon itu, tetapi memang karena kota Magelang yang letaknya di dataran tinggi membuatnya tetap terkesan sejuk. Bangunan-bangunan serba putih dengan jendela-jendela yang besar berteralis, arsitektur tempo dulu, saling terhubung dengan koridor-koridor panjang. Membuat suasana tempat ini menjadi misterius dan tak bersahabat. Anehnya, aku mulai merasa nyaman berada di tempat ini. Aku mulai betah. Gila. Ini memang gila. Bagaimana mungkin aku seorang yang waras bisa merasa nyaman berada di tempat ini. Sedangkan tempat ini dibuat khusus untuk mereka yang tidak waras. Untuk mereka yang gila. Atau jangan-jangan ketidakwarasan pun sudah ada dalam diriku.

Bangsal C15. Di antara orang-orang yang tidak biasa, orang-orang yang menatapku dengan pandangan mengancam dan curiga, seorang wanita kurus dengan rambut sebahu duduk di sebuah kursi di pinggir jendela. Pandangannya kosong. Pelan aku melangkah menuju tempat dia duduk, kemudian duduk tepat di sebelahnya. Dengan kedua tangan, ku genggam, ku elus kedua punggung tangan yang ada di atas pangkuannya. Namun dia tidak bereaksi. Tetap diam dengan pandangan mata yang kosong.

Kartina. Dulu dia kakakku. Sedari dulu aku sudah malu memiliki seorang kakak bernama Kartina. Sejak aku kecil dia sudah berada di rumah sakit ini, RSJ Prof. dr. Soeroyo Kota Magelang. Selama dua puluh tahun ini hanya beberapa kali aku ikut menjenguknya, itu pun karena aku dipaksa. Tak ada alasan yang lain, aku memang malu memiliki seorang kakak yang gila. Aku menganggapnya tak pernah ada. Seolah-olah aku hanyalah seorang anak tunggal dalam keluargaku, tanpa seorang kakak. Aku menikmatinya, sama sekali tak pernah merasa bersalah. Namun kini keadaannya berbeda, tiap minggu aku selalu mengunjunginya, karena aku menyayanginya.

“Kamu anak bintang…”

Begitulah tiap kali senja tiba, saat nampak satu bintang kemerah-merahan di langit sebelah barat. Kartina selalu mengucapkannya dan menunjuk ke arah bintang berwarna merah itu. Bukan hal yang aneh bukan, karena dia memang gila.

Aku sudah bilang berkali-kali kan kalau ini gila? Sekali lagi ini memang gila. Kegilaan ini dimulai sekitar tiga bulan yang lalu. Bukan, mungkin sejak dua puluh tahun yang lalu, sejak aku terlahir ke dunia, hanya saja aku baru menyadari kalau ini benar-benar gila sejak tiga bulan yang lalu.

***

Semarang, 1 November 2009

Tidak seperti biasanya, ibu bapakku sudah duduk di teras rumah ketika aku pulang kuliah. Sepertinya mereka memang sengaja menunggu kedatanganku. Bukan hal yang biasa, pasti ada sesuatu, karena memang selama ini aku jarang ngobrol santai dengan kedua orang tuaku. Mungkin karena jarak usia kami yang sangat jauh, makanya kami tidak begitu dekat. Tapi aku tahu kalau meraka sayang padaku, dan begitupun aku juga menyayangi mereka. Hanya saja waktu itu ku pikir mereka terlalu sayang pada Kartina kakakku yang gila itu, sehingga jarang meluangkan waktu untukku. Kartina yang menyebalkan.

“Madia..”, bapak memulai membuka percakapan, dan terus terang aku sudah merasa aneh, kikuk dan canggung, “Sudah saatnya Kamu tahu, Kamu..bukan anak kandung bapak dan ibu..”

Hampir pingsan aku ketika mendengar kata-kata itu dari bapakku. Bagaimanapun ini sulit diterima. Meski selama ini aku tak begitu dekat dengan mereka tetap saja sulit mempercayai bahwa aku bukan anak kandung mereka. Pantas saja mereka lebih sayang pada Kartina, tentu karena aku bukan anak kandung mereka. Lantas aku anak siapa? Apakah aku dipungut dari panti asuhan? Ataukah seseorang meninggalkanku di depan pintu rumah mereka? Atau aku ditemukan di jalanan?

“Kamu anak Kartina…” ibuku menyahut.

Gila. Sepertinya lebih mudah menerima kenyataan bahwa aku dipungut dari panti asuhan, atau aku ditinggalkan di depan pintu rumah ini oleh ibu kandungku daripada kenyataan bahwa aku adalah anak dari Kartina. Anak dari seorang yang selama dua puluh tahun ini kuanggap sebagai kakak dan aku malu mengakuinya karena dia gila. Namun kenyataan yang berbicara, aku memang bukan adiknya melainkan aku anak dari seorang yang bernama Kartina dan dia gila.

***

Kartina ibuku, lantas siapa ayahku?

“Kamu anak bintang…”

Selalu itu yang dikatakan Kartina, ibuku, di saat senja saat sebuah bintang berwarna kemerahan sudah terlihat di langit sebelah barat. Pasti ada sesuatu dengan bintang itu, tapi apa? Apakah ayahku bernama Bintang? Siapakah Bintang? Tak ada informasi yang tersisa. Bahkan kakek nenekku yang sebelumnya ku anggap sebagai kedua orang tuaku pun tak punya petunjuk yang kubutuhkan mengenai keberadaan ayahku. Mereka hanya diam. Ekspresi muka mereka berubah seketika tiap kali kutanyakan hal itu.

Harus ku temukan Si Bintang keparat itu. Pasti karena dia, ibuku gila. Karena dia aku pun hampir gila. Aku tak akan meminta apa-apa. Hanya satu keinginanku, dia harus tahu bagaimana kondisi ibuku saat ini, bagaimana gilanya ibuku, bagaimana gilanya aku, dan syukur kalau akhirnya dia bisa gila juga.

***

Sleman, 28 Januari 2010

Sebuah surat undangan merah muda mengantarkanku ke tempat ini. Bangunkerto, Turi, Sleman, Yogyakarta, alamat yang tertera pada undangan ini. Di rumah ini akad nikah semestinya dilangsungkan, 3 April 1990.

Halaman yang luas, tanpa paving atau semen, hanya tanah terbuka dengan dua pohon rambutan rindang di ujung-ujungnya membuat suasana desa ini semakin terasa. Aku duduk di sebuah sofa dengan pinggiran ukiran kayu yang serasi dengan isi ruang tamu ini. Meja, lemari, dinding penyekat, serta meja akuarium yang semuanya terbuat dari kayu dengan ukiran yang indah dan sepertinya mahal. Dari jendela dapat kulihat kebon salak yang luas. Khas Jogja, khususnya daerah Sleman.

“Kamu Madia? Bagaimana kabar bapak dan ibu Harsono?” tanya seorang laki-laki sambil menjabat tanganku, dan dia tersenyum.

Sialan umpatku dalam hati. Bahkan dia tahu namaku.

“Baik..kabar kakek dan nenek baik..sehat alhamdulillah..” jawabku terbata.

Laki-laki ini, mungkin umurnya empat puluh tahunan duduk tepat di hadapanku. Wajahnya bersih, dengan sorot mata yang meneduhkan, tutur katanya halus dan senyum yang sangat tulus. Bukan itu yang aku harapkan. Akan lebih mudah kalau laki-laki yang ada di depanku berpenampilan sangar, mungkin seperti preman dan cara bicara yang kasar. Tentu itu akan lebih mudah.

Ternyata efek penampilan kalem laki-laki ini memang luar biasa. Padahal dari rumah sakit tadi, selama 1 jam perjalananku ke tempat ini, aku sudah mempersiapkan semua makian, segala sumpah serapah untuknya. Tapi sekarang, semuanya seakan hilang dari ingatanku, lenyap, meluruh.

Setelah mencoba untuk bicara namun ternyata memang tetap tak bisa, akhirnya ku letakkan sebuah amplop warna merah muda di atas meja. Di ambilnya kemudian dibukanya amplop itu. Sebuah undangan pernikahan. Aku yakin dia pun masih ingat dengan undangan itu. Sebuah undangan dengan nama mempelai pria, Aris Wardoyo dan mempelai wanita Kartina Harsono. Iya, laki-laki di hadapanku ini adalah Aris Wardoyo. Tadinya ku pikir dia akan kaget, menunjukkan penyesalan, atau mungkin menangis, meminta maaf. Tapi ternyata tidak, lagi-lagi dia hanya tersenyum kepadaku.

Keparat, umpatku dalam hati. Entah umpatan untukku atau untuk lelaki di depanku.

***

Semarang, 29 Januari 2010

Hanya ada belasan orang keluarga dekatku, mereka meninggalkan tempat ini satu-persatu. Tinggal aku sendiri di sini, di sebelah gundukan tanah yang masih baru. Gundukan yang masih merah.

Sementara di ufuk barat, senja pun memerah, satu bintang kemerahan yang hari ini terlihat sangat dekat. Penampakkan paling jelas yang pernah ku lihat. Seakan dia ikut mengantarkan kepergian pemujanya. Kepergian seorang Kartina yang telah mengakhiri hidupnya, membawa suatu rahasia yang tak pernah terungkap.

Semula ku pikir pencarianku akan berakhir kemarin di Sleman. Ternyata aku salah, Aris Wardoyo bukan lah bintang itu. Pernikahan yang seharusnya terjadi 3 April 1990, batal. Aku telah berada di perut Kartina, sebelum Aris Wardoyo pulang dari perantauannya, sebelum pernikahan itu jadi dilangsungkan. Kini, aku tak akan pernah tahu siapa ayahku, mungkin aku memang anak bintang. Bintang Keparat.

foto RSJ Prof. dr. Soeroyo Magelang. cr: http://historianews.blogspot.com/

Semarang, 29 Juni 2010

Advertisements

4 Responses to “Anak Bintang”

  1. khafadho 14 July 2010 at 00:55 #

    apa benar ini sebuah kisah nyata tentang dirimu sobat ? ceritanya bikin aku merinding.

    • yuya16 14 July 2010 at 06:37 #

      oh ini fiksi kok mas :), makasih ya dah sempatin baca

  2. khafadho 14 July 2010 at 01:37 #

    kisahnya sedikit mirip dengan Puisiku Yang berjudul “Lelaki Jahannam” masuk aja ke “http://khafadho.blogspot.com/2010/07/lelaki-jahannam.html”

    ini adalah sebuah fenomena yang sering terjadi dalam masyarakat kita. dan kita pun akan menyadari bahwa Islam telah memberikan ajaran bagaimana hidup mulia… Allah berfirman “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” Al-Isra’ ayat 32. sebab zina akan merusak nasab. sang anak tidak bisa dinasabkan kepada bapaknya. dan keadaan ini tentu saja akan menyiksa psikologis sang anak.

    dalam kerusakan moral bangsa seperti ini masihkah kita menutup mata dan mengenyahkan islam, yang sejatinya Islam adalah agama fitrah.

    mari kitak perjuangkan bersama syariat islam di negri ini untuk ke depan lebih baik

  3. yuya16 14 July 2010 at 06:51 #

    iyah mari kita perjuangkan, nanti saya mampir untuk baca puisinya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: