Alina

1 Jul

Namaku Alina. Sudah pasti kalian semua tidak mengenalku. Aku berani bertaruh untuk itu. Tapi aku juga berani bertaruh kalau kalian mengenalnya. Dia, artis yang paling banyak dibicarakan belakangan ini. Dia artis terkenal. Terkenal bukan saja banyak dikenal, akan tetapi terkenal adalah yang paling banyak dikenal. Entah kalian memanggilnya dengan sebutan apa, tapi aku memiliki panggilan sayang untuknya, Muna. Tiap hari wajahnya muncul di televisi, dalam sinetron, iklan, terlebih infoteintment. Apalagi sekarang dia mencoba mencari peruntungan jadi penyanyi juga. Memang sih sekarang belum ada niatan untuk terjun juga di dunia politik, masih laku jadi artis. Kita lihat saja nanti, beberapa tahun lagi, semoga nasib buruk keartisan tidak mebuatnya membantingkan stir ke dunia politik. Lantas, apa hubungannya denganmu Alina? Mungkin itu pertanyaan yang sekarang ada di benak kalian. Iya kan?

Namaku Alina. Ups, sepertinya aku tadi sudah mengatakannya pada kalian. Tak apalah, aku hanya takut kalian lupa namaku. Wajar, karena orang tak pernah mengenalku sepertinya. Aku bukan artis, bukan pemain sinetron, bintang iklan, ataupun penyanyi. Aku hanyalah asisten pribadi, atau kalau ingin menggunakan kata yang tepat untuk menunjukkan derajat kastaku, aku hanyalah kacung, babu, untuk si artis tadi.

Tapi jangan salah, jangan berpikir aku akan meratapi nasibku ini sebagai babu. Tidak, aku sama sekali tidak menyesal. Aku sama sekali tidak merasa hina. Justru aku merasa bangga. Merasa memiliki andil untuk keberhasilannya, hingga dia akhirnya bisa jadi terkenal seperti sekarang ini. Bahkan kalau dipikir-pikir, kalau bukan karena aku, dia bukan siapa-siapa.

Semua terjadi karena ku telah jatuh cinta, pada seorang laki-laki tentu saja. Seorang vokalis band papan atas, band kenamaan negeri ini dengan nama band yang mengingatkanku pada tokoh pahlawan impianku semasa kanak-kanak dulu. Impian kami berdua. Impian ku bersama lelakiku sang vokalis band papan atas. Yuri, sama halnya seperti Muna, itulah panggilan sayangku untuknya.

Aku mencintainya jauh sebelum Yuri menjadi seterkenal ini. Sebelum dia dielu-elukan, menjadi pujaan para wanita, aku telah mencintainya. Hingga akhirnya dia menjadi vokalis band papan atas, dan aku tetap mencintainya. Hanya saja tidak mungkin untukku sebagai orang biasa untuk menggapainya. Kita berbeda. Dia terlalu tinggi. Aku butuh sesuatu, aku butuh perantara.

Yuri butuh seseorang yang luar biasa. Vokalis band papan atas selayaknya bersanding dengan artis papan atas juga. Artis ternama, terkenal dan terlaris. Dan Muna adalah orang yang tepat. Tidak susah untuk membuat Muna terkenal di dunia keartisan. Wajah yang cantik, senyum yang mempesona serta mata yang indah. Belum lagi postur tubuhnya, sangat proporsional, sempurna. Sintal, dengan kaki-kakinya yang jenjang. Para lelaki tak berotakpun akan ternganga, berdecak kagum, menelan ludah, melihat wanita yang memiliki kesempurnaan, cantik, sexy, tapi sama seperti mereka, Muna pun tak berotak. Bodoh.

Apakah kalian semua berpikir, untuk sampai pada puncak kariernya, Muna mengupayakan sendiri? Dia yang merencanakan, memiliki impian? Tidak! Karena Muna bodoh. Dan akulah sang perencana. Demi satu tujuanku, Yuri, vokalis band papan atas, pujaanku.

Semua orang kagum dan terpesona oleh kecantikan Muna. Begitupun Yuri. Tujuanku semakin dekat. Belakangan Yuri sering main ke rumah Muna. Mereka sering jalan, ngedate berdua. Itu artinya semakin sering pula aku bisa melihat wajah Yuri, semakin dekat dengan Yuri kembali. Karena dimana ada Muna, disitu selalu ada aku. Sudah kubilang kan, Muna itu bodoh, untuk urusan pesan makanan, atau bahkan hari ini memakai baju apa, dia akan tergantung pendapatku. Sekali lagi Muna bodoh.

Muna..Muna..kasihan dirimu. Cantik, sexy, tapi tak memiliki otak. Terkadang aku sering mempermainkan dia. Bukan kadang lagi sebenarnya, sering aku mempermainkan dia. Menganggapnya sebagai bahan lelucon. Hiburan tersendiri bagiku. Tololnya, dia tak pernah tahu. Pernah suatu kali kusuruh dia marah-marah tak jelas tiap kali ketemu wartawan, ku bilang untuk menaikkan pamor. Hingga akhirnya dia kebingungan sendiri untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan setelahnya. Dan aku bisa tertawa sepuasnya ketika melihat pemberitaan tentangnya di televisi.

Aku agak sedikit tersinggung ketika banyak orang berbicara mengenai ulahnya belakangan ini. Muna mengumpat-umpat di salah satu situs jejaring sosial. Tidak! Dia tidak melakukannya. Dia bahkan tak mungkin berpikiran sejauh itu. Bukan dia, karena akulah pelakunya. Sudah ku bilang Muna itu bodoh. Untuk mengirim sms menggunakan handphone saja dia sudah kebingungan. Pasti aku yang turun tangan. Apalagi kalau harus berurusan dengan internet, facebook atau twitter, otaknya tidak akan sampai. Kita tunggu saja apalagi yang akan kulakukan untuk menghancurkan Muna, kalian tunggu saja pemberitaan-pemberitaan dia di televisi sebentar lagi.

Sekarang, sepertinya orang-orang mulai tak bersimpati lagi pada Muna. Begitupun Yuri. Artinya aku memiliki kesempatan besar atas seorang Yuri. Saat Yuri mulai bosan, akulah yang akan mengambil alih. Aku akan merebut Yuri dari Muna. Sedangkan Muna hanya bisa melihatnya saja, tak mampu berbuat apa-apa. Dia akan terpuruk saat aku kan pergi bersama Yuri. Tanpa aku, tanpa Yuri, dia bukan siapa-siapa.

Tiinn Tiinn

Suara klakson mobil membuyarkan lamunanku. Yuri sudah datang. Dia pasti bermaksud menemui Muna. Satu sentuhan terakhir kuberikan di pipiku. Sempurna. Aku bahkan lebih cantik dari Muna. Segera kubereskan meja riasku, sekali lagi kulihat diriku di cermin. Aku lebih cantik dari Muna.

“Tunggu sebentar…” sahutku sambil berlari membukakan pintu untuk Yuri.

“Kamu cantik sekali hari ini, Muna…”

“Tentu saja..tapi mulai sekarang, jangan panggil aku Muna! Panggil aku Alina!

Semarang, 5 Januari 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: