Tentang Burung dan Pohon Kersen (Cerpen)

11 Jan

Tentang Burung dan Pohon Kersen

(Dimuat di Femina 2-8 Januari 2016)

Oleh: Surya Prasetya

iig

Kalau saja tak ada kelap-kelip bara dari rokok yang kauisap, mungkin keberadaan kita tak akan terdeteksi. Aku sendiri heran, bagaimana bisa kita betah duduk berlama-lama di bawah pohon dengan penerangan seadanya ini. Berebut oksigen dengan daunnya-daunnya yang rimbun. Berkali-kali harus kuhalau dan kutepuk nyamuk-nyamuk yang berterbangan dengan dengingnya yang menyebalkan di sekitar telingaku. Tak apalah. Mungkin untuk yang terakhir kali.

Untuk menghayati malam, katamu. Kau selalu seperti itu. Kalimat-kalimat yang keluar dari mulutmu sering kali tak terduga, yang membuatku harus terdiam beberapa detik untuk memikirkannya. Dan seperti biasa aku selalu gagal mencernanya. Seperti juga aku selalu gagal menolak ajakanmu untuk menghayati malam. Aku lupa kapan kita memulainya. Seingatku sejak usia kita belum mencapai sebelas, kita sudah sering melakukan ritual menghayati malam seperti ini. Sejak kau mulai memanggilku dengan nama burung itu.

Tadinya memang tak terbiasa, bahkan aku keberatan karenanya,  namun kini aku malah sering merindukannya.  Aku rindu bagaimana caramu memanggilku dengan nama itu.

“Pipit. Nama yang cantik. Seperti burung.” katamu.

Sampai sekarang aku masih tidak mengerti di mana letak cantiknya burung pemakan biji-bijian yang sering menjadi musuh petani itu. Lidahmu yang cadel yang membuatmu tak bisa mengucapkan namaku dengan benar. Mungkin karena kau merasa tak nyaman sehingga kau memilih memanggilku dengan panggilan yang menurutmu lebih mudah. Entahlah, aku tak pernah tahu bagaimana rasanya menjadi cadel. Sejak masih kanak-kanak, aku sudah mahir mengucapkan kalimat “ono laler mencok ning lor rel sepur”1). Sedangkan kamu sampai duduk di bangku sekolah dasar masih sering diolok-olok karenanya. Aku masih ingat waktu itu guru bahasa Indonesia sering memintamu maju ke depan kelas untuk membacakan penggalan novel. Teman-teman selalu menertawakan caramu melafalkan huruf “R”. Dan sampai hari ini pun kamu masih belum bisa mengucapkan kata Fitri, namaku, dengan lancar.

Ada yang menyebutnya pohon talog. Ada juga yang menyebutnya pohon ceri. Kau menyebutnya dengan cara yang berbeda, pohon kenangan. Rasanya memang tepat kalau kau menamai pohon kersen di taman samping rumahmu dengan nama “pohon kenangan”. Begitu banyak hal yang sudah kualami bersama pohon kersen ini. Mungkin bukan hanya kenanganku saja, bisa jadi pohon ini juga menyimpan kenangan banyak orang. Pada pohon kersen yang setinggi atap rumahmu ini ada kenangan ayahmu yang selalu rajin memangkas dahannya agar tidak melanggar kabel listrik dan telepon, ibumu yang tiap pagi menyapu halaman untuk membersihkan rontokan daun layu dan buah-buah kersen yang jatuh membusuk, kakakmu dan bocah-bocah lain yang kerap melompat-lompat untuk meraih ujung cabang pohon kersen kemudian memetik buahnya yang telah memerah. Pada pohon kersen ini, mungkin ada juga kenangan burung-burung liar. Sering kulihat kutilang, cucak hijau, pleci, dan beberapa burung lain yang hinggap kemudian memakan buahnya. Namun satu yang pasti, pada pohon kersen ini ada kenangan burung pipit kecil.

Aku tidaklah seperti kutilang, cucak rowo, atau pleci dengan nyanyiannya yang riuh. Aku adalah burung pipit kecil yang lupa caranya berkicau.  Sebut saja aku pengecut. Aku lebih sering duduk di bangku taman di bawah pohon kersen ini daripada harus melihat ibuku menangis.  Aku lebih sering melarikan diri ke bawah pohon kersen ini daripada menjadi samsak pelampiasan kekesalan ayahku setelah bertengkar dengan ibu. Aku lebih sering bersembunyi di bawah pohon kersen ini daripada menjadi sasaran lemparan asbak karena rokok yang tak tersedia atau kopi yang belum siap di meja. Ibuku yang sering menjadi sasaran lemparan asbak. Dia juga yang selalu menjadi samsak.

Hampir di tiap pertengkaran mereka, kuhabiskan waktuku di bawah pohon kersen ini. Sampai malam menjelang, aku masih duduk di sini menatap langit kelam. Suatu hari kudapati dirimu sudah ada di salah satu sisi bangku taman. Malam semakin gelap. Kita sama-sama bertahan. Tak peduli dengan angin malam yang semakin sepoi. Masing-masing diam. Sibuk dengan pikiran di kepala masing-masing. Hari terus berganti. Kamu selalu ada tiap kali aku mendatangi pohon kersen ini. Lama-lama aku terbiasa menikmati keheningan malam bersamamu.

Aku selalu nyaman saat bersamamu, seperti burung kecil yang berlindung dari terpaan angin di sela-sela dedaunan yang rimbun. Kamu layaknya pohon besar yang tenang. Melindungi di kala malam, teduh di saat siang. Keheninganmu membuatku tidak perlu mencemaskan ceritaku menarik atau tidak agar kau tetap tinggal. Aku juga tidak perlu memusingkan tentang rangkaian kata yang indah. Begitu juga aku tidak perlu memikirkan tentang rima dan pilihan kata. Di sampingmu aku hanya ingin diam.

Itu semua adalah cerita yang telah lewat. Sudah bertahun-tahun yang lalu ayah meninggalkan rumah. Tak ada lagi pertengkaran. Tak ada lagi asbak rokok yang melayang. Dan tak ada lagi luka memar. Semestinya ibu bahagia. Namun perkiraanku salah. Ibu masih sering menangis sendiri. Begitu juga aku, masih sering mengunjungi pohon kersen ini.

Malam kelulusan SMP menjadi hari terakhir kuhayati malam bersamamu. Orang tuamu mengirimkan kau pada pamanmu untuk melanjutkan SMA di ibukota. Kupikir tiga tahun kemudian kau akan kembali. Dengan sabar aku menunggumu di bawah pohon kersen ini. Ternyata aku salah. Kau melanjutkan kuliahmu di sana. Tiga tahun berhasil kulewati, pasti empat tahun juga akan bisa kuatasi. Tapi ternyata lagi-lagi aku salah. Setelah lulus kuliah kau pun bekerja di sana. Pada keheningan malam di bawah pohon kersen ini aku merindukanmu.

Setelah hampir sepuluh tahun, kamu kembali. Kamu memutuskan keluar dari perusahaan yang menghidupimu demi mewujudkan impianmu menjadi penulis. Pilihanmu tidak salah. Novel pertamamu memiliki angka penjualan yang bagus di pasaran. Sekarang kau sedang mempersiapkan novel keduamu. Di bawah pohon kersen ini kau memberi ruang pada tokoh-tokoh di kepalamu. Kini giliranmu yang memintaku untuk menemanimu. Tentu saja aku tak menolaknya. Ini semacam nostalgia bagiku. Hampir sepuluh tahun aku merindukan saat-saat seperti ini.

Penulis itu tak jauh bedanya dengan pelukis, begitu ibuku terus mengingatkan. Semua akan ada masanya. Akan ada kedaluwarsanya. Bisa jadi sekarang masih dipuja-puja, tapi siapa yang akan tahu di tahun-tahun berikutnya. Tak ada yang bisa menjamin. Dan ayahku adalah seorang pelukis.

“Kudengar kamu sedang dekat dengan salah seorang editor di penerbitmu. Siapa namanya?”

Entahlah. Lidahku terasa kelu saat mengucapkan pertanyaan itu. Ada sakit yang tiba-tiba mencubit di ulu hati. Sakitnya sama seperti ketika kau menanyakan kabar laki-laki itu.

“Edwin apa kabar?”

“Baik. Dia menitipkan salam untukmu.”

Ini seperti pembelaan diri. Pertanyaanku terlempar karena pertanyaanmu sebelumnya. Namun kemudian aku merasa bersalah karenanya. Aku takut kalau usaha mempertahankan diri ini justru melukaimu.  Aku tak bermaksud untuk itu.

Hening. Sepertinya pertanyaanku telah berhasil melumpuhkanmu. Kita masing-masing diam. Hanya angin malam yang tiba-tiba berembus semakin sepoi. Cardigan tipisku tak mampu untuk menahan dinginnya udara. Seandainya ada sebuah api unggun, jaket tebal, atau pelukan, mungkin akan cukup untuk menghangatkan. Sial. Kenapa dalam keadaan seperti ini justru kata “pelukan” terlintas di pikiranku? Entah apa yang sedang terlintas di pikiranmu. Kamu sibuk membuat kelap-kelip bara rokokmu tetap menyala.

“Namanya Dara.” Akhirnya kamu yang membuka percakapan. Memecah keheningan.

“Dara. Nama yang cantik. Seperti burung.”

Pastilah perempuan bernama Dara itu begitu istimewa. Sejak kembalinya kamu ke kota ini, aku adalah saksi dari perjalanan hidupmu. Aku yang selalu membaca draft-draft novelmu. Aku yang rajin mengumpulkan cerpen-cerpenmu yang dimuat di surat kabar. Aku juga yang menemanimu memberi ruang pada tokoh-tokoh di kepalamu. Aku pun tahu perempuan-perempuan yang berusaha mendekatimu.

“Kamu seperti pohon kersen ini. Rimbun. Banyak buahnya.”

“Maksudnya?”

“Banyak burung-burung yang datang tapi aku tak pernah tahu burung macam apa yang kau izinkan untuk membangun sarang di dahanmu.”

Kamu tertawa. Aku masih menerka-nerka bagian mana dari kalimatku yang salah ucap. Kuingat-ingat lagi. Siapa tahu ada yang salah makna.

“Sekarang kamu pandai bermetafora. Mau jadi penulis juga?”

Aku tak menjawab. Hanya tersenyum. Getir. Kamu memang seperti pohon kersen yang rimbun dan banyak buahnya. Tak heran jika kemudian perempuan-perempuan itu datang padamu dan berlomba menaklukkan hatimu. Namun selama ini yang kutahu kamu selalu sendiri. Semua tidak berhasil mengisi ruang di hatimu. Aku selalu bertanya-tanya perempuan seperti apa yang masuk kriteriamu. Dan sekarang aku sudah menemukan jawabannya.

“Ternyata burung itu bernama Dara. Dia yang akan membangun sarang di dahanmu.”

“Sebenarnya aku ingin burung yang lain. Sayangnya burung pipit kecil itu lebih memilih hidup dalam sangkar daripada membangun sarang di dahanku.”

Jawaban yang kudengar terasa menyesakkan. Begitu juga sesak yang tiba-tiba kurasa di jari manisku. Seminggu yang lalu seseorang melingkarkan cincin pertunangan di jariku. Laki-laki itu bernama Edwin. Dia adalah pilihan ibuku. Edwin yang pegawai negeri sipil. Edwin yang bukan pelukis. Bukan penulis.

Keterangan

1) Ada lalat hinggap di utara rel kereta

 

 

Advertisements

Kemboja Kelopak Empat (Cerpen)

10 Nov
Kemboja Kelopak Empat
Oleh: Surya Prasetya

dimuat di Femina 25 April 2015

IMG_20150424_233034 (1)

Pada kemboja kelopak genap, ada rahasia yang tak terucap, ada doa yang terus dipanjat, ada harapan yang digenggam erat.
Jadi seperti ini rasanya dirajah. Membiarkan jarum menari-nari di kulit dan sesekali mengoyak daging. Lima menit pertama terasa perih dan panas. Menit-menit berikutnya tetap saja perih dan panas. Sudah lama aku ingin menato tulisan ini di dada kiriku. Membuatnya tercetak abadi, dekat dengan jantungku.
Sudah siap? Begitu tanya Wandy sambil tersenyum lebar, seniman tato di Jogja yang selama tiga bulan ini selalu kusambangi studionya. Butuh tiga bulan untuk membuatnya menjadi seperti teman akrab hingga bisa kupercayakan kulitku dijadikan kanvasnya. Bukannya aku ragu dengan desain tato yang kuinginkan, aku mantap, semantap hati ini memilih penghuninya. Aku hanya perlu merasa nyaman agar eksekusinya lancar dan hasilnya memuaskan.
“Sudah siap?” kali ini Wandy kembali mengulangi. Area bakal tato di dada kiri membuatku harus membuka kemejaku. Dadaku sudah dibersihkan dengan alkohol. Aku mengangguk. Aku sudah tak punya pilihan lain lagi. Kutarik napas panjang kemudian memejam. Nyaring bunyi mesin tato terngiang di telingaku. Kemudian kurasakan jarum itu berputar mengebor kulit dadaku. Aku hanya bisa mengumpat dalam hati. Ingin memaki tapi tidak bisa. Ingin memukul dan menendang tapi tak mungkin kulakukan.
Ini adalah salah satu dari daftar apa yang harus aku lakukan sebelum mati. Satu jam perjalananku dari Hongkong sampai ke Macau dengan menggunakan kapal ferry Turbo Jet. Tujuanku adalah bangunan tertinggi di Macau, Macau Tower. Jantungku berdetak kencang ketika lift mulai naik. Semakin tinggi semakin kencang degupnya. Hingga akhirnya aku berdiri di lantai ke-61, puncak tertinggi. Debar di dada itu kemudian berubah menjadi cemas dan ketakutan ketika kemudian tali-tali pengaman itu terpasang di tubuhku. Terlambat untuk kembali. Aku harus melangkah ke depan. Berat. Kedua kakiku membatu. Badanku terasa dingin. Napasku memburu seolah baru berlari sprint. Yang kulihat hanya titik-titik kecil jauh di bawah sana yang kemudian kabur. Konsentrasiku buyar. Kurentangkan kedua tangan. Aku tak punya pilihan lain.
AAAKKK..
Aku berteriak sekencang-kencangnya, seperti teriakan terakhir yang tersisa. Aku menjatuhkan diri. Tak sampai lima detik tubuhku sudah sampai di bawah. Tubuhku terpental-pental. Kemudian menggantung lemas pada seutas tali besar itu. Aku masih hidup. Aku baru saja melompat dari bungee jumping setinggi 233 meter, tertinggi kedua di dunia. Dan aku belum mati.
Ujian ketinggian ternyata tidaklah seberapa dibanding ujian pertama. Tadinya kupikir asal punya alat-alat menyelam semuanya akan beres. Tinggal pakai kemudian menceburkan diri di laut. Tak perlu keahlian berenang karena yang dibutuhkan adalah tenggelam. Tapi ternyata tidak semudah yang dibayangkan.
Butuh waktu berbulan-bullan hingga akhirnya aku mendapatkan lisensi menyelam. Entah sudah berapa kali aku hampir mati tenggelam di kolam sedalam 7 meter karena tak mampu mengatasi kepanikan saat latihan.
Desember selalu seperti ini. Hujan deras hampir sepanjang hari. Desember gede-gedene sumber, begitu katamu dulu. Tak heran hujan selalu lebat di bulan kedua belas ini. Namun kali ini bunyi derasnya hujan tak mampu mengalahkan bisingnya jarum tato yang berputar.
Aku mencoba mengalihkan pikiranku dari rasa sakit yang kurasa. Benakku terbang ke masa kecil di bulan Desember yang selalu basah. Tanah yang coklat. Sangat coklat. Basah tapi tidak becek. Pada tanah itu tercetak tapak-tapak. Jejak kaki kecil tanpa alas kaki, diikuti jejak sandal jepit yang juga kecil di sekitar tiang lampu jalan raya.
Perceraian orang tua yang membuatku terdampar di tanah coklat itu. Di desa itu, mama menitipkanku pada kakek nenek yang tinggal tak jauh dari rumahmu.
“Tidak usah takut. Pegangnya dari atas. Tidak akan menggigit.”
Hati-hati kupegang serangga itu. Aku takut menyentuh kakinya yang berduri. Sementara kamu malah membiarkannya merayap pelan di telapak tanganmu. Aku merinding. Musim penghujan seperti ini serangga sebesar ibu jari itu banyak bermunculan. Lepidiota stigma nama latinnya, ampal kamu menyebutnya. Dari larva di dalam tanah berubah menjadi serangga bersayap keras dengan bentuk muka yang agak menyeramkan. Ampal Kebo, kaunamai serangga yang ada di telapak tanganku.
“Hitam legam, sama sepertiku.” Kau mengucapkannya dengan bangga seolah kulitmu yang gelap karena terbakar oleh matahari adalah sebuah pencapaian hidup. Sementara serangga yang bersayap putih yang kaunamai Ampal Kaji kauberikan padaku. Aku tak perlu bertanya, tapi sepertinya kamu sengaja memilihkan Ampal yang sama pucatnya dengan kulitku. Kita beradu balap dengan dua hewan itu layaknya karapan sapi di Madura. Sayangnya ampalku sama sepertiku, lambat. Ampal Kebomu yang menjadi juaranya.
“Pacaran teruuus..” teriak segerombolan bocah sambil melempari kita dengan bluluk, calon buah kelapa sebesar telur ayam. Kemudian kaukejar salah satunya. Kautumbangkan bocah itu di tanah. Kaupuntir kerah lehernya. Bocah itu pulang sambil menangis.
Mereka selalu seperti itu, mengolok-olokku yang selalu mengikutimu. Dari tempat setinggi empat meter itu kamu melompat ke kedung sungai. Tubuhmu masuk ke air kemudian hilang. Mataku berkeliling mencari-cari di mana kamu akan muncul. Aku takut kehilanganmu. Katanya cekungan sungai yang tenang itu sedalam lima meter. Aku percaya saja. Tak mau membuktikannya. Aku selalu seperti itu. Mengikutimu dan hanya mengikutimu. Kamu lompat dari ketinggian empat meter, kamu menyelam di kedalaman lima meter, sementara aku hanya melihatmu.
“Kono koe pasaran wae, ojo ning kene..” celutuk seorang bocah. Mereka tak pernah menerima keberadaanku. Aku hanya bisa melihat mereka mengejar layang-layang, memutar gasing, dan membunyikan mercon bambu. Kakiku terlalu lemah untuk berlari mengejar layang-layang. Tanganku tidak terampil untuk memutar gasing. Dan aku tak punya nyali untuk menyalakan api pada sumbu mercon bambu. Aku hanya diam mendengar ejekan mereka. Tangisku tertahan. Bantal yang basah di kamar tidur yang kemudian menjadi saksi bagaimana aku meratapi kelemahanku.
“Kenapa pohon kemboja di kuburan daunnya lebih sedikit dan bunganya lebih banyak daripada yang di tanam di halaman rumah?” suatu hari aku bertanya padamu ketika kita memasuki sebuah pemakaman untuk mencari ampal.
Kamu menggeleng sambil melempar senyum jenakamu. Senyum yang mengisyaratkan bahwa pemiliknya enggan memikirkan sesuatu yang rumit.
“Yang aku tahu, bunga kemboja itu cantik. Putih sepertimu.” Aku yakin pipiku sudah berubah memerah. Seperti bunga kamboja merah yang menjadi tanaman hias di halaman rumah.
“Kamboja kelopak empat..” katamu nyaris tak terdengar. Matamu awas memandangi segerombol bunga putih itu. Tanpa aba-aba, kau sudah memanjat dan memetik satu bunga. Begitu turun, kauberikan bunga itu untukku. Aku bingung. Aku tak tahu harus kuapakan dengan kemboja kelopak empat itu.
“Buatlah permohonan. Kemboja kelopak empat akan mengabulkan permintaanmu.”
“Aku tak tahu harus meminta apa?”
“Kamu bisa meminta agar bocah-bocah itu tidak lagi mengejekmu. Atau kamu bisa meminta agar diberi keberanian, untuk melompat, untuk menyelam. Agar kamu tak takut menyalakan mercon, tak tak takut pada jarum suntik. Apapun!” kau menyebutkan sebagian dari begitu banyak ketakutanku. “Pikirkan baik-baik, dan buatlah permohonan dalam hati!” lanjutmu.
Aku menurut. Kugenggam sekuntum kemboja putih. Kusematkan di dadaku. Mataku terpejam. Kubuat permohonan seperti yang kaupinta di dalam hatiku.
Ini sudah seminggu sejak kedatanganku ke studio Wandy. Waktunya untuk membuka plastik penutup tatoku. Selama seminggu aku harus menahan rasa gatal di dadaku. Pelan kaubantu membukanya. Sempurna. Seperti yang kuinginkan. Nama seseorang dengan latar kemboja kelopak empat telah terukir di dadaku. Namamu yang tertulis di sana. Seperti yang kubilang, aku mantap menuliskan nama itu abadi di kulit dadaku. Dekat dengan jantungku.
“Bocah-bocah yang dulu sering mengejekmu pasti tidak akan percaya. Kau berhasil melewati semua  ujian ini.”
Aku masih ingat betul hari itu, saat masih mengenakan seragam putih merah.  Aku harus lari kesana-kemari ketika petugas puskesmas datang ke sekolah. Kemudian seorang guru menangkapku dan memengang tanganku. Aku terus meronta. Kemudian kamu datang dan ikut memegang tanganku. Seketika aku tenang. Kurasakan jarum suntik menembus lenganku. Tapi aku bisa menahannya karena tatapan matamu yang meyakinkanku. Anak-anak sekelas mengejekku. Mereka tertawa karena ketakutanku.
“Ini semua karena kemboja kelopak empat.” katamu sambil tersenyum.
Aku mengangguk mengiyakan. Sesungguhnya aku tak terlalu peduli dengan orang-orang yang mengejekku karena ketakutan dan kelemahanku. Yang aku butuhkan hanya kamu selalu ada di sisiku, seperti halnya kamu yang telah menemaniku melompat setinggi 233 meter di Macau, menyelam sedalam lebih dari 10 meter di Raja Ampat, dan menato dadaku dengan tulisan namamu.
Satu hal yang tak pernah kuceritakan padamu. Pada kemboja kelopak empat itu aku tak pernah meminta untuk berani melompat, atau menyelam. Begitu juga aku tak pernah meminta untuk tidak takut pada jarum. Pada kemboja kelopak empat itu aku hanya punya satu permohonan, kau akan selalu ada di sisiku.

Sastra Afrika di Indonesia Dramatic Reading Festival 2015

10 Nov
SAMSUNG CSC

Sangkala membaca naskah lakon Dua Perempuan Bersaudara karya Shinta Febriany di IDRF 2015.

SAMSUNG CSC

Lilo Acting School membaca naskah lakon Kang Sarpin Minta Dikebiri karya Ratih Kumala di IDRF 2015.

Membaca selalu identik dengan kegiatan yang individual, namun tidak demikian di Indonesia Dramatic Reading Festival. Kegiatan membaca bisa dilakukan dengan bekerja sama. Tidak hanya itu saja, membaca pun bisa menjadi sebuah tontonan.

Selama dua hari, tanggal 4 dan 5 Nopember 2015 telah digelar Indonesia Dramatic Reading Festival (IDRF) 2015. IDRF adalah festival pembacaan naskah lakon yang diselenggarakan setahun sekali. Seperti tahun sebelumnya, IDRF yang ke-6 ini juga digelar di Lembaga Indonesia Prancis, Yogyakarta. Meski bukan dalam jumlah yang sangat besar, IDRF selalu memiliki massa penontonnya sendiri.

Tahun ini IDRF menggunakan “Alih Wahana” sebagai dasar penulisan naskah lakon. Seperti novel yang kemudian diadaptasi menjadi film, atau puisi yang dijadikan lirik lagu, di IDRF 2015 naskah lakon yang ditulis berangkat dari karya sastra yang berupa cerita pendek.

Bekerja sama dengan Biennale Jogja XIII yang menyelenggarakan pameran bersama seniman-seniman dari Nigeria, pada IDRF 2015 juga mengenalkan karya sastra dari benua Afrika. Dua buah cerpen yang digubah menjadi naskah lakon merupakan karya sastrawan dari Ghana dan Malawi.

Pada hari pertama kelompok teater Sangkala dari UNY tampil apik membaca naskah lakon karya Shinta Febriany yang berjudul Dua Perempuan Bersaudara. Naskah lakon tersebut hasil gubahan dari cerpen penulis Ghana, Ama Ata Aidoo, yang diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono. Selain Sangkala, pembaca naskah lakon di IDRF 2015 dari Lilo Acting School.

Terdapat juga nama Bagus Sumartono, Febrinawan Prestianto, dan Ratih Kumala sebagai penulis naskah lakon di IDRF 2015. IDRF diselenggarakan untuk memberikan ruang bagi penulis-penulis naskah lakon di Indonesia.

Rully Shabara Mengolah Suara di Biennale Jogja XIII

10 Nov

Salah satu yang menarik perhatian pada pembukaan Biennale Jogja XIII pada 1 Nopember 2015 lalu adalah adanya panggung tertutup serba merah. Di panggung tersebut ditampilkan karya seni Doremino milik Rully Shabara yang terbiasa mengolah suara manusia sebagai medium kreasinya.doremino3

Berbeda dengan karya seni kebanyakan, yang menjadi objek untuk Doremino adalah sekumpulan manusia. Ada belasan orang yang berperan sebagai instrumen bunyi dan suara. Dengan perintah tertentu, bunyi-bunyi tersebut dapat diatur volume dan temponya. Selain itu bunyi satu instrumen juga bisa ditiru oleh instrumen lainnya. Bahkan satu bunyi tertentu dapat memicu munculnya bunyi yang lain, seperti efek domino.

Sebagian besar karya yang ditampilkan pada Biennale Jogja kali ini berbasis interaksi. Begitupun dengan karya seni Doremino. Pengunjung diberi kesempatan menjadi komposer sekaligus konduktor dengan instrumen-intrumen hidup tersebut untuk membuat sebuah komposisi musik.

Doremino terbilang sukses menarik perhatian. Terbukti selama satu jam digelar, banyak pengunjung mencoba menjadi konduktor. Beberapa pengunjung adalah warga negara asing dan terlihat menikmati karya seni interaktif ini.

Untuk pengunjung yang belum sempat memainkan Doremino, tetap bisa terlibat di karya seni Rully Shabara lainnya yang berjudul Cari Padu.

Seperti tema Biennale Jogja XIII yaitu Hacking Conflict yang ingin meretas perbedaan, dalam karya seni Cari Padu pengunjung akan dibagi menjadi beberapa kelompok yang diibaratkan dengan partai. Tiap partai harus menentukan “suara-suara” apa yang akan mewakili mereka. Puncaknya pada tiap Jumat pukul 19.00 WIB semua partai akan dikumpulkan menjadi satu. Rully Shabara akan bertindak sebagai konduktor memimpin paduan suara yang bersifat spontan tersebut.

Rencananya Cari Padu akan dimainkan pada tanggal 6, 13, 20, 27 November 2015 dan 2 Desember 2015. Tidak harus yang memiliki suara merdu, setiap suara boleh turut serta dalam karya seni ini.

Bagi yang ingin terlibat dalam karya seni Cari Padu dapat memperoleh informasi di booth Cari Padu yang ada di Jogja National Museum selama pameran Biennale Jogja XIII berlangsung. Biennale Jogja XIII digelar sampai tanggal 10 Desember 2015. Info mengenai Biennale bisa dilihat di akun twitter @BiennaleJogja.

Lelaki Jambu Air (Cerpen)

18 Feb

Lelaki Jambu Air

Dimuat di Femina 11-17 Oktober 2014

Oleh: Surya Prasetya

jambu

“Pesawatmu boarding jam berapa?”

“Satu jam lagi.”

Sayup-sayup azan magrib bersahutan. Motor yang kutumpangi melaju kencang. Mungkin pengemudinya takut terlambat.  Mau tak mau tanganku mencengkeram erat pegangan di samping kanan kiri sedelnya.  Kucondongkan tubuhku ke depan.  Aku takut kalau-kalau  terlempar ke belakang. Ah, seandainya waktu bisa melambat.

Entah parfum merk apa yang dipakainya. Kuhirup dalam-dalam. Mencoba mengidentifikasi aroma yang menguar dari tengkuknya. Aku tidak terlalu yakin, tapi bau ini mengingatkanku pada aroma yang kukenal. Segar. Aroma jambu air.

Aku tersenyum geli membayangkan ide yang terlintas. Mulai sekarang aku akan memanggilnya lelaki jambu air. Tapi setelah kuingat-ingat, bukan hanya aroma yang tercium dari tubuhnya, bentuk hidungnya juga menyerupai jambu air. Begitupun warna bibirnya, semenggoda buah yang semu merah itu.

Aku tak pernah menyangka sebelumnya, lelaki jambu air akan menjadi terlihat semenarik itu.  Dia memiliki senyum yang mau tak mau memaksaku untuk membalasnya. Aku telah mencuri senyum itu diam-diam semalam saat makan bersama usai kujemput dia di bandara. Begitupun juga saat sarapan tadi pagi.

Baru kali ini aku mengalami acara makan yang mendebarkan. Konsentrasiku bukan pada  tiap suapan yang  masuk ke mulut. Perhatianku tersita pada wajah laki-laki jambu air di depanku. Matanya yang besar dan jernih sibuk mengamati foto-foto yang diambilnya dengan kamera handphone. Sesekali dia tersenyum ketika mendapati sesuatu yang mungkin dianggapnya lucu. Sesekali itu juga aku tersenyum membalas senyumnya. Begitu terus hingga berkali-kali. Mungkin dia akhirnya tersadar kalau tengah kuamati. Saat diangkat wajahnya dan kedua mata itu menatapku, buru-buru kualihkan pandangan. Aku tak mau tertangkap basah dalam usaha curi-curi pandang.

“Kita sudah sampai.” Katanya tadi pagi saat tiba di parkiran kawasan pantai. Meski mata ini belum melihat wujudnya, namun aroma laut telah tertangkap oleh hidungku.

Dalam hatiku ada ketidakrelaan. Sebentuk rasa nyaman tumbuh ketika kududuk memboncengnya di sedel belakang. Ingin kuperlambat waktu ketika kami bisa sedekat itu.

“Seriusan kamu bawa sekop?” Matanya sedikit melotot melihatku mengeluarkan sekop dan ember kecil dari dalam ransel. Bukan itu saja, masih ada sendok, garpu, dan pisau roti. Aku hanya mengangguk sambil menyeringai kecil. Mengiyakan pertanyaannya.

“Besok aku akan ke pantai, kamu mau ikut?” tanyanya semalam.

Tanpa pikir dua kali aku langsung mengiyakan tawarannya.  Gila. Mungkin ini sedikit gila. Tak pernah ada dalam sejarahku mengiyakan ajakan ke pantai dari seseorang yang tak begitu kukenal secara langsung. Ini adalah kali pertama aku bertemu setelah empat tahun mengenalnya.

Aku harus mengucapkan terima kasih pada kemajuan teknologi. Kami terpisah jarak dua kota Jogja dan Surabaya. Internet yang mempertemukan kami. Ketika aku meneruskan kuliah di Jogja, dia justru harus kembali ke Jakarta karena pekerjaan.

Kami memiliki hobi berbagi kisah di dunia maya. Aku senang membagi tulisanku di blog. Sedangkan laki-laki jambu air ini membagi ceritanya melalui gambar. Dari dulu aku mengagumi foto-foto yang diunggahnya di blog pribadi. Dari komentar-komentar di tiap unggahan yang terkadang malah keluar dari topik, keakraban kami di dunia maya terjalin.

Agak heran ketika sekarang aku berada di dekatnya. Bagaimana bisa selama empat tahun ini tak pernah terlintas di pikiranku mengenai betapa menariknya laki-laki jambu air ini. Mungkin karena keadaan yang membuatku tak bisa melihatnya dengan cara yang berbeda. Aku hanya menganggapnya sebagai teman berbagi cerita di blog saja. Tidak pernah ada kesempatan menjadi lebih.

Sejak pertama kali mengunjungi blognya, aku tahu kalau dia memiliki pacar dari foto-foto yang miliknya. Saat itu pun aku juga sedang memiliki kekasih. Namun aku tidak terlalu peduli. Toh yang aku kagumi adalah karya-karyanya. Tidak ada urusan dengan statusnya.

“Aku akan sering datang ke Jogja. Adikku kuliah di sini.” Semalam ia membuka percakapan saat makan malam di lesehan sekitar Malioboro dekat tempatnya menginap.

“Azril?”

“Kok kamu tahu? Iya, dia keterima di UGM.”

Jangankan lelaki jambu air, aku  pun takjub dengan daya ingatku sendiri. Aku adalah pengingat yang baik untuk hal-hal yang tidak penting. Samar-samar masih kuingat seorang bocah bercelana pendek biru yang duduk di samping ibunya. Ada nama Azril di sisi kanan seragam putihnya. Itu adalah salah satu dari beberapa foto adik dan ibu dari lelaki jambu air yang diunggahnya di blog. Waktu cepat sekali berjalan. Bocah berseragam SMP itu sudah mau kuliah saja. Aku merasa beruntung karena masih bisa mengingatnya. Pertemuanku semalam layaknya pertemuan dua teman lama. Aku tidak asing dengan hal-hal yang dibicarakannya.

Dari semua yang kuingat, kehidupan di kampusnya dulu, gunung hutan dan lautan yang disambanginya, juga termasuk orang-orang yang menjadi bagian dari hidupnya, ada satu nama yang aku hindari. Aku berusaha keras untuk tak menyebut nama Karina Syakina Adam. Gila, lagi-lagi ini gila. Aku heran sendiri bagaimana bisa aku mengingat nama lengkap seseorang yang kukenal pun tidak. Karina adalah wanita yang dulu wajahnya sering ada di foto-foto milik lelaki jambu air. Sudah setahun ini lelaki jambu air tak lagi mengunggah foto kekasihnya. Aku bukannya tak ingin tahu seperti apa hubungan mereka sekarang, aku hanya tak ingin merusak momen kami berdua. Aku takut mendengar jawaban yang tak kuharapkan. Saat ini aku hanya ingin ada aku dan lelaki beraroma jambu air.

Setelah perjalanan lebih dari dua jam dari kota Jogja, kakiku yang pegal karena terlalu lama duduk akhirnya bebas merasakan deburan ombak. Telapak kakiku menikmati pasir putih kecoklatan yang basah. Sejauh mata memandang, biru yang terbentang.

Dalam sekejap saja lelaki jambu air sudah jauh dari jangkauanku. Dengan polaroid di tangan, dia hanyut dalam dunia yang dicintainya. Mataku mencoba mengikuti ke manapun laki-laki yang mengenakan tshirt dan jeans hitam itu pergi. Sayangnya pandanganku terbatas. Tubuhnya timbul tenggelam di antara celah-celah bebatuan karang. Tiba-tiba saja ada perasaan takut kehilangan.

Laki-laki jambu air itu sampai di atas batu besar. Dia meneriakkan namaku kencang. Dilambaikan tangannya padaku. Kubalas lambaian tangannya. Aku pun meneriakkan namanya. Tak kalah kencang. Dia meneriakkan lagi namaku. Lebih kencang. Aku tersenyum melihat tingkahnya. Seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru.  Dengan sebuluh bambu yang terbawa ombak dan entah datang dari mana, kugoreskan namanya di pasir basah, kemudian namaku, lantas kulingkari dengan bentuk hati.

Aku juga tak mau kalah dibanding lelaki jambu air. Bukan dia saja yang punya mainan. Di tepian pantai kusiapkan sekop, ember, garpu, sendok, dan pisau roti yang kubawa dari rumah. Di bayanganku sudah ada istana pasir dengan menara-menara tinggi beratap kubah-kubah bulat. Istanaku dikelilingi benteng panjang serupa tembok besar China.

Cekrek cekrek

Aku kaget. Lelaki jambu air sudah ada di belakangku. Selembar foto keluar perlahan dari kameranya. Dikibas-kibasnya foto itu. Kemudian dia tersenyum nakal kepadaku. Aku yakin dia mengambil gambar dari poseku yang berantakan. Terang saja. Banyak pasir di rambut, muka, dan tangan. Aku tengah sibuk dengan benteng istana pasirku.

“Mukaku jelek kan? Hapus! Hapus!”

“Nggak bisa lah, ini kan polaroid.” Katanya yang diikuti tawanya. Membuat mata besarnya itu menyipit.

Lelaki jambu air menggelengkan kepala sambi berdecak kecil memandangi istana pasir yang telah jadi.  Sesekali diarahkan bidikan polaroidnya. Dia pasti tak mengira pembicaraan saat makan malam kutanggapi dengan serius.

“Kalau kamu mau nyari foto terus aku ngapain?”

“Kamu bisa bikin istana pasir mungkin.” Jawabnya asal sambil mengunyah suapan ayam goreng.

Beberapa kali dia mengambil fotoku bersama istana pasir yang telah kubuat. Dia mengitari istana pasir. Berharap menemukan sudut yang tepat untuk fotonya.

“Tunggu jangan kesitu!” teriakku sambil menarik tangannya.

Terlambat. Lelaki jambu air telanjur melihat tulisan nama yang kugoreskan di pasir pantai tadi.

“Wah nama siapa yang kamu tulis?” lirikan matanya menyelidik.

Masih ada bentuk hati yang tinggal separuh beserta namaku. Sedangkan tulisan namanya hanya tersisa jejak yang sudah tidak terbaca karena tersapu ombak. Bahkan laut pun tak ingin dia tahu perasaanku.

Seharian bermain di pantai, kami pun kembali pusat kota. Mengapa waktu mendadak menjadi singkat saat kita sedang merasa bahagia? Dan kini aku sudah di perjalanan mengantarkannya menuju bandara untuk pulang ke Jakarta. Aku masih ingin mengulangi hari kemarin, hari ini, dan hari bersamanya. Kalau aku boleh meminta satu permintaan, Tuhan aku ingin waktu sekarang ini melambat.

“Kamu lihat bulan itu? Halomoon.” katanya sambil tetap mengemudikan motor. Kepalanya hanya sedikit menoleh ke samping.

Aku menoleh ke samping. Kulihat bulan malam ini sangat besar dan terang. Ada cincin besar yang melingkarinya. Kupandangi terus bulan yang seolah mengikuti ke manapun kami berjalan. Aku rasa bulan pun ingin tahu tentang apa yang akan terjadi setelah ini.

Apa yang akan terjadi setelah ini? Aku pun tak berani berandai-andai. Meski sudah empat tahun mengenalnya, ini baru pertama kali aku bertemu dengannya. Apakah ini cinta? Tidakkah ini terburu-buru untuk mengatasnamakan cinta? Bagaimana kalau aku tidak punya kesempatan bertemu dengannya lagi?

Motor masih melaju cukup kencang. Kukumpulkan nyaliku. Terserah dengan apa yang akan terjadi setelah ini. Kuberanikan diri untuk memindah genggaman tanganku dari pegangan di samping sedel ke pinggangnya. Kepalaku kurebahkan di punggungnya. Aroma jambu air yang terhirup semakin kuat. Kalau sampai ini yang terakhir kali aku bisa membauinya, akan kusimpan aroma ini dalam ingatan kuat-kuat.

Bulan bercincin masih mengikuti kami. Motor yang dikendarainya melambat seiring genggamanku yang semakin erat.

Yogyakarta, 19 Agustus 2014

Ambilkan Bulan Bu (cerpen)

20 Aug

Ambilkan Bulan

Oleh: Surya Prasetya

 blue eyes doll

“Oh Amelia gadis cilik lincah nian. Tak pernah sedih riang selalu sepanjang hari. Oh Amelia gadis cilik ramah nian. Di mana-mana Amelia temannya banyak..(1)”

“Siapa Amelia?”

“Aku tidak tahu.”

“Aku tidak suka Amelia.”

“Kenapa kamu tidak suka Amelia?”

“Karena temannya banyak. Temanku cuma satu, kamu Kania.”

***

Gadis kecil itu bernama Kania. Seminggu yang lalu usianya genap lima tahun. Ada perayaan ulang tahun yang meriah di rumahnya. Balon dan pita warna-warni menghiasi ruang tamunya. Banyak anak sebayanya yang diundang. Mereka adalah anak-anak dari teman-teman ibunya. Untuk sejenak Kania merasakan kemeriahan.

Seminggu telah berlalu. Tak ada lagi sisa-sisa kemeriahan pesta di rumah itu. Semua kembali sepi. Hanya Marni yang masih sibuk membuka kado dengan hati-hati. Dia tidak ingin merusak kertas-kertas pembungkusnya yang cantik itu.

Semestinya saat ini Marni masih belajar di bangku SMP. Kesulitan ekonomi yang memaksanya untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga di keluarga Sugiarta. Selain memasak dan membersihkan rumah, Marni punya tugas untuk mengasuh putri bungsu dari keluarga itu.

Setahun sudah dia bekerja di rumah itu, belum pernah sekalipun Marni melihat wujud tuannya. Dia hanya tahu sosok Sugiarta dari foto keluarga yang menghiasi ruang tamu. Di foto itu Kania yang masih bayi digendong oleh Mutia, ibunya. Dua anak remaja berdiri di depan Mutia. Mereka adalah Alan dan Sania, kakak dari Kania. Saat ini Sania telah kuliah, sedangkan Alan masih duduk di bangku SMA.

Rasa penasaran yang membuat Marni bertanya pada nyonyanya mengenai keberadaan Sugiarta. Itu menjadi pertanyaan terakhirnya. Marni kapok mendapati Mutia meradang karena pertanyaan itu. Bagi Marni tidak ada yang lebih dingin daripada tatapan mata Mutia yang selalu membuat nyalinya ciut dan kedua lututnya terasa lemas. Seminggu yang lalu kesialan menimpa Marni. Sekali lagi dia harus melihat tatapan dingin itu.

“Potong kuenya. Potong kuenya. Potong kuenya sekarang juga. Sekarang juga. Sekarang juga..”

Bersamaan dengan kemeriahan tamu undangan itu bernyanyi, Kania dibantu ibunya memotong kue ulang tahun yang berukuran lebih besar dari tubuhnya.

“Ayo Kania potongan kue pertama mau diberikan untuk siapa? Sudah pasti untuk yang Kania sayang dong.” Mutia berujar dengan lembut.

Semua undangan menatap penuh harap. Mereka begitu yakin kalau potongan pertama itu akan Kania berikan untuk ibunya. Mutia pun bersiap-siap untuk menerimanya. Sayangnya semua tak sesuai dengan harapan. Kania berbalik, diulurkan cawan berisi potongan kue tersebut untuk Marni yang berdiri di belakang ibunya. Hati Marni berbunga-bunga menerima potongan kue itu. Dia sudah tidak sabar mencicipi kue tart pertama dalam hidupnya. Namun kebahagiaan itu hanya sebentar. Wajahnya pucat seketika melihat lirikan mata sinis dari majikan perempuannya yang rambutnya selalu disasak tinggi itu.

“Ah, Kania ini memang tidak jauh beda dengan Mamanya. Dia sangat welas asih kepada rakyat jelata seperti pembantu saya ini.” seru Mutia sambil tertawa. Tawanya terdengar palsu.

Tak ada yang lebih jujur daripada hati kanak-kanak. Kania tidaklah salah jika memberikan kue itu untuk Marni. Bagi Kania, Marni lah yang tulus menyayanginya. Marni yang selalu ada untuknya. Marni juga yang selalu menemaninya.

Sudah menjadi kebiasaan di rumah itu untuk sarapan bersama. Mutia dan anak-anaknya duduk dalam satu meja. Sayangnya tidak ada kebersamaan dalam sarapan pagi mereka. Mereka sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.

“Ma..” Kania memanggil ibunya. Ibunya tak menyahut. Bahkan memberi isyarat dengan meletakkan telunjuknya di bibir. Dia meminta anaknya untuk diam. Mutia kembali berbicara dengan salah satu teman lewat telepon genggamnya.

“Kak Sania..” Kania memanggil kakak perempuannya. Tak ada jawaban.

“Kak Alan..” Kania memanggil kakak laki-lakinya. Juga tidak ada jawaban.

Kedua kakaknya lebih peduli pada telepon genggamnya. Mereka berdua sibuk menyentuh dan menggeser-geser layarnya. Sesekali mereka tersenyum sendiri. Sesekali mereka tertawa. Di meja makan itu, Kania kesepian.

Setelah acara sarapan yang sepi itu, rumah itu tambah sepi lagi. Mutia akan pergi bersama ibu-ibu sebangsanya dan baru kembali ke rumah saat Kania sudah terlelap. Sania pamit untuk kuliah namun entah dia benar sampai ke kampus atau tidak. Seringkali dia pulang ke rumah menjelang pagi dalam keadaan mabuk. Lain lagi dengan Alan. Sepulang sekolah dia akan langsung mengurung diri dalam kamar. Baginya tak ada yang lebih penting dibandingkan koneksi internet. Bahkan dia sering lupa makan dan mandi kalau sudah berselancar di dunia maya maupun bermain game online.

Sejak seminggu yang lalu Kania tidak lagi merasa sepi. Dia memiliki teman baru yang rambutnya pirang dan selalu dikuncir dua. Matanya yang biru dan selalu berkedip-kedip tiap kali tubuhnya digoyang. Namanya Isabela. Dari kesemua kado ulang tahunnya, hanya boneka bermata biru itu yang diinginkannyakan sedangkan yang lain ia berikan untuk Marni. Sudah pasti Marni girang bukan main. Baru kali ini dia mendapatkan begitu banyak hadiah. Pita rambut warna-warni, mainan, dan buku bacaan bergambar menjadi miliknya.

Seperti malam-malam biasanya, sebelum tidur Marni akan memeriksa kamar Kania yang terletak di lantai dua itu. Dia memastikan jendela sudah terkunci. Dibetulkan letak selimut Kania. Sebelum mematikan lampu kamar, Marni sempat meletakkan boneka berambut pirang itu di sisi Kania, kemudian diciumnya kening bocah kecil itu layaknya adik sendiri. Marni baru keluar kamar setelah memastikan Kania sudah tidur.

Satu hal yang Marni tidak tahu. Kania memiliki rahasia. Kania tidak benar-benar tertidur. Dia hanya pura-pura terlelap. Dia menunggu Marni keluar kamar untuk berbagi cerita dengan teman barunya.

“Apa kamu sudah tidur Kania.”

“Aku belum tidur Isabela.” Kania bangkit kemudian duduk di depan bonekanya. Dielusnya rambut pirang Isabela.

“Lihat bulan itu! Indah sekali..” tangan mungil Isabela menunjuk ke arah jendela.

“Iya kamu benar. Bulan itu cantik sekali seperti bola. Aku jadi ingat lagu yang dinyanyikan Mbak Marni untukku. Apa kau mau mendengarnya Isabela?”

“Iya, nyanyikan untukku Kania!”

“Ambilkan bulan, Bu. Ambikan bulan, Bu. Untuk menerangi tidurku yang lelap di malam gelap. Di langit bulan benderang. Cahayanya sampai ke bintang. Ambilkan bulan, Bu. Ambillkan bulan, Bu. Untuk menerangi tidurku yang lelap di malam gelap.. (2)” Kania menyanyikan lagu itu sambil menggendong Isabela menuju tepian jendela.

“Tidakkah bulan itu indah?”

“Iya, bulan itu indah. Bulat seperti bola yang bercahaya.”

“Tidakkah kamu ingin memilikinya?”

“Iya, aku ingin memilikinya. Besok akan kuminta mama untuk mengambilkannya untukku.”

“Bukankah mama kamu selalu sibuk? Dia baru pulang saat kamu sudah tertidur.”

“Kalau begitu aku akan meminta Mbak Marni mengambilkannya. Dia baik. Pasti mau mengambilkannya untukku.”

“Kenapa harus besok? Kenapa tidak sekarang? Tidak setiap hari bulan begitu cantik, bagaimana kalau besok tidak bulat sempurna? Bagaimana kalau besok bulan sudah tidak indah? Kau harus mengambilnya sekarang Kania.”

“Tapi aku tidak tahu caranya..”

“Lihatlah bulan itu! Aangkat tanganmu! Bulan itu begitu dekat Kania. Kamu tinggal menggapainya. Kamu tinggal memetiknya. Lantas kamu simpan di saku baju tidurmu. Mudah sekali bukan?

***

Tidak seperti pagi biasanya. Hari ini tidak ada sarapan bersama. Hari ini tak ada yang sibuk dengan telepon genggamnya. Mereka saling pandang satu sama lain. Ada kebingungan di wajah Mutia, Sania, dan Alan. Di kamar Kania mereka saling bertanya-tanya. Di mana Kania?

Kania hilang.

Pagi tadi saat Marni hendak membangunkan Kania untuk mandi pagi, gadis kecil itu sudah tidak ada di ranjangnya. Dicarinya Kania hingga ke kolong tempat tidur, di balik lemari. Tetap saja Kania tak ditemukannya. Hanya ada Isabela, boneka berambut pirang itu duduk di tepian jendela yang terbuka. Seingat Marni, semalam dia telah menguncinya. Bagaimana mungkin pagi ini mendapati jendela itu sudah terbuka. Rasanya tidak mungkin kalau Kania yang membuka kunci itu sendiri. Jendela itu terlalu tinggi untuk ukuran tubuh Kania yang mungil. Dengan harap-harap cemas, Marni melongok dari jendela. Kemungkinan terburuk Kania telah terjatuh dari lantai dua. Ada rasa syukur karena tak ditemukannya tanda-tanda seorang jatuh dari sana. Namun tetap saja Kania hilang.

***

Hari berganti hari. Minggu berganti Minggu. Semua kembali seperti semula. Sarapan pagi yang sepi karena setiap orang sibuk dengan telepon genggamnya masing-masing. Sesekali mereka tersenyum. Sesekali mereka tertawa. Seolah tak ada sejarah Kania dalam keluarga mereka. Tak ada rasa kehilangan yang terpancar.

Kalau ditanya siapa yang paling kehilangan akan sosok Kania, tentu saja Marni lah orangnya. Dia tak punya lagi seseorang untuk disuapi dan dimandikan. Dia tak punya lagi seseorang untuk didengarkan celotehnya. Dia tak punya lagi seseorang yang dikecupnya sebelum tidur. Dia juga tak punya lagi seseorang untuk dinyanyikan lagu anak-anak.

Namun pada suatu malam Marni kembali bernyanyi.

“Nina bobok oh nina bobok. Kalau tidak bobok digiit nyamuk.. (3)” ditimang-timangnya boneka kesayangan majikannya itu. “Apa kamu sudah tidur Isabela.”

“Aku belum tidur Marni..”

nb. cerpen ini saya tulis tahun 2010 dengan beberapa bagian yang saya edit kembali

Keterangan:

  • Lagu O Amelia ciptaan A.T. Mahmud
  • Lagu Ambilkan Bulan Bu ciptaan A.T. Mahmud
  • Lagu Nina Bobo – ciptaan NN

Panggilan Tak Dikenal (cerpen)

19 Aug

Panggilan Tak Dikenal

Oleh: Surya Prasetya

Hampir enam bulan aku bersembunyi di tempat ini. Di sebuah kamar sewa yang terletak di pinggiran kota, aku sekarang tinggal. Ruangannya kecil, hanya muat diisi kasur busa, lemari plastik, dan sepasang meja kursi. Aku memang tak butuh ruangan yang luas. Aku hanya butuh tempat untuk bersembunyi.

Bapak macam apa aku ini? Hampir setengah tahun meninggalkan anak dan istri. Irsyad, kamu sedang apa Nak? Aku masih ingat betul hari itu, saat aku harus berpamitan pada mereka.

“Pa, kalau pulang nanti bawain Irsyad mobil-mobilan yang bisa jalan sendiri ya.”

“Iya, Irsyad. Papa janji. Nanti Papa belikan mobil-mobilan yang paling bagus, tapi Irsyad nggak boleh nakal ya. Irsyad harus nurut sama mama.”

“Iya, Pa. Irsyad nggak nakal. Irsyad nggak akan bikin mama sedih.” Jawaban Irsyad terasa menohok bagiku. Bukan Irsyad yang membuat istriku sedih, melainkan aku. Aku tidak becus menjadi kepala rumah tangga.

Memang bukan keputusan sepihakku. Mira, istriku yang memintaku meninggalkan rumah untuk sementara. Dia tidak mau kalau harus sering-sering mendapatiku babak belur karena dihajar oleh orang suruhan bosku. Jangan sampai Irsyad melihat bapaknya jadi bulan-bulanan preman-preman itu.

Mira berharap, selama meninggalkan rumah, aku bisa sambil mencari uang untuk melunasi utangku. Rasanya tidak rela kalau dikatakan berutang. Seumur-umur aku tidak pernah utang untuk mencukupi hidup. Meskipun bukan termasuk keluarga yang berada, kami sudah bahagia dengan apa yang kami punya. Sayangnya nasib sial sedang menyambangiku. Aku dijebak. Aku dijadikan kambing hitam atas kerugian perusahaan. Mereka menuduhku menggelapkan uang sebesar enam puluh juta. Mereka merencanakannya dengan rapi sehingga semua bukti memberatkanku. Aku tak mampu membela diri.

Pilihannya hanya dua, kasus ini dibawa ke pengadilan atau aku mengembalikan uang. Kesempatan bebasku sangat kecil. Aku tak bisa membayangkan akan mendekam di penjara. Itu artinya aku akan menelantarkan keluargaku. Jalan satu-satunya aku akan mengambalikan uang itu.

Aku sudah menghubungi teman-temanku. Beberapa bisa memberikan pinjaman. Namun tetap saja belum terkumpul sebanyak yang kubutuhkan. Semua menjadi semakin sulit karena aku dipecat dari kantorku. Sudah ku masukkan lamaran ke beberapa perusahaan. Sampai sekarang belum ada panggilan. Sementara waktu ini aku menyambung hidup dengan bekerja serabutan di sebuah toko bahan-bahan bangunan.

 

***

Seperti biasanya, jam sepuluh malam aku tiba di kamar sewaku. Ingin rasanya segera membenamkan diri di atas kasur. Lelah setelah seharian bekerja kasar. Mengangkat-angkat semen, besi, dan bahan bangunan yang lain.

Beep beep beep

Baru kucoba memejamkan mata, telepon genggamku berbunyi. Sederet nomor yang tak kukenal berkedip-kedip di layarnya. Kudiamkan hingga mati sendiri. Aku bingung. Nomor siapa yang menelepon? Apakah Mira? Hanya istriku yang tahu nomor baruku. Sudah sebulan ini aku tidak menghubunginya. Aku malu karena belum bisa memberikan kabar gembira untuknya. Aku belum berhasil mengumpulkan uang seperti yang kujanjikan.

Beep beep beep

08112579xx

Calling

Lagi-lagi nomor itu mengubungiku. Aku cemas. Jangan-jangan orang suruhan bosku yang menelepon. Atau jangan-jangan telepon dari kepolisian gara-gara masalah utang itu. Setelah beberapa saat mengumpulkan nyali, kuterima panggilan itu.

“Redha..” orang di ujung telepon ini tahu namaku.

“Siapa ini?”

“Kamu tidak perlu tahu siapa aku! Kamu cukup mengikuti perintahku!” dia membentak.

“Siapa ini? Jangan main-main!” aku balas membentak.

“Aku tidak main-main! Aku tahu kamu sedang butuh uang. Aku bisa memberikan uang yang kau butuhkan. Enam puluh juta.”

“Dari mana kamu tahu?”

“Kamu tidak perlu tahu, yang penting aku bisa memberi uang itu, dengan satu syarat…”

Aku menunggu seseorang yang entah siapa ini meneruskan kalimatnya. Aku terdiam di antara kebingungan dan pengharapan. Mungkin seseorang yang tak kukenal ini memang bisa membantu menyelesaikan persoalanku.

“Kamu harus membunuh seseorang.”

“Gila! Kau pikir aku ini siapa? Pembunuh bayaran?” Kututup telepon. Kuhentikan percakapan bodoh dan gila ini.

Semalaman aku tidak bisa tidur karena memikirkan kejadian yang tadi kualami. Apakah hanya kerjaan orang iseng? Bagaimana orang itu bisa tahu tentang masalah pribadiku? Sedangkan orang yang tahu tentang uang enam puluh juta itu hanya Mira. Tidak mungkin istriku melakukan ini semua? Kalaupun tujuannya untuk bercanda, tetap saja susah diterima nalar. Terlalu kelewatan untuk sebuah lelucon.

***

Seperti malam sebelum-sebelumnya. Sesampainya di kamar aku hanya ingin segera terlelap. Seharian tadi sempat terpikirkan kejadian malam sebelumnya namun kerja berat yang kulakukan sehari ini membuatku tidak mau melakukan yang lain lagi selain tidur.

Beep beep beep

08112579xx

Calling

“Hentikan omong kosong ini!” Belum sempat dia bicara, aku sudah menghardiknya lebih dulu.

“Tenang Redha! Aku masih memberimu kesempatan. Kamu tinggal ikuti aturan mainnya, agar anak dan istrimu selamat..”

“Jangan ganggu keluargaku!” jantungku berdetak lebih cepat.

“Mereka aman, asal kamu mengikuti perintahku. Terima teleponku dan jangan coba-coba lapor polisi!” ancamnya.

“Tolong jangan ganggu..” belum sempat kuselesaikan kalimatku, telepon telah ditutupnya.

Ini bukan lelucon. Keluargaku dalam bahaya. Bodoh! Aku memang bodoh. Aku telah melibatkan keluargaku dalam masalah ini. Sekarang keselamatan anak dan istriku dalam bahaya. Apa yang harus aku lakukan? Lapor polisi? Ah, aku tidak mau ambil risiko. Nyawa istri dan anakku menjadi taruhannya. Mungkin aku hanya bisa menunggu orang tak dikenal itu menghubungiku lagi.

Aku menyesal. Aku gagal menjadi bapak yang baik. Aku gagal melindungi keluargaku. Aku telah mengecewakan mereka.

Apa Mira menyesal telah memilihku menjadi suaminya? Dia tak layak menanggung ini semua. Mungkin mertuaku benar, aku bukanlah laki-laki yang pantas untuk Mira. Dari awal mereka keberatan dengan pernikahan kami. Keputusan yang membuat Mira mengubur cita-citanya melanjutkan S2, dan impiannya menjadi jurnalis. Mira berasal dari keluarga berada, bisa saja orangtuanya membiayai kuliah S2. Keputusannya menikah denganku membuat terhentilah semua aliran dana dari keluarganya. Mira memilih konsekuensi itu.

Bagiku, tak ada seorang wanita pun yang bisa menandingi Mira. Dia sangat menghargaiku. Bahkan dalam permasalahan utang ini, tak sekalipun dia memaksaku untuk meminta bantuan pada orangtuanya. Dia tak mau harga diriku meluruh di depan ayah dan ibunya.

***

Berbeda dari dua malam sebelumnya, kali ini aku terjaga untuk menunggu telepon itu. Malam begitu hening. Sampai-sampai bisa kudengar tarikan napasku sendiri. Detak jam dinding menjadi nyaring terdengar. Berkali-kali kulihat telepon genggam. Berharap panggilan itu segera datang. Nyawa istri dan anakku bergantung pada panggilan dari nomer tak dikenal itu.

Beep beep beep

08112579xx

Calling

Akhirnya ada panggilan yang sudah sedari tadi kutunggu.

“Hallo..”

“Bagaimana? Kamu terima tawaranku?”

“Apa aku punya pilihan yang lain?”

Seseorang di ujung telepon tertawa sebelum kembali melanjutkan. “Kamu pintar Redha.”

“Bagaimana dengan keluargaku? Kau bisa jamin mereka selamat?”

“Tenang Redha. Dengar baik-baik..”

“Papaaa..” suara yang kukenal. Suara Irsyad, anakku.

“Irsyad, kamu baik-baik saja Nak? Kamu tidak apa-apa kan?” Jantungku berdetak lebih kencang. Aku tak bisa menahan emosiku.

“Keluargamu aman bersamaku, asal kauturuti perintahku.” Bukan suara Irsyad lagi yang kudengar.

“Baik..aku..akan..menuruti..permintaanmu..” sahutku terbata.

“Bagus, kuhubungi satu jam lagi. Akan kujelaskan prosedurnya.” Telepon dimatikan.

Satu jam yang dijanjikan adalah satu jam paling menggelisahkan dalam hidupku. Banyak hal yang tiba-tiba meminta ruang di kepala. Bayangan wajah anak dan istriku bergantian hadir. Apa reaksi mereka kalau tahu ayahnya sebentar lagi jadi pembunuh? Tidakkah mereka akan lebih kecewa padaku? Suara penelepon gelap yang tak kuketahui wujudnya pun terngiang di telingaku. Begitupun dengan bayangan samar seseorang yang entah siapa yang akan segera mati di tanganku juga hadir dalam pikiranku. Apa aku sanggup untuk membunuhnya? Bagaimana kalau dia melawan? Bagaimana kalau gagal?

Beep beep beep

08112579xx

Calling

Satu jam penantianku berakhir. Nomor tak dikenal itu memenuhi janjinya.

“Kamu tidak perlu cemas. Yang harus kamu bunuh adalah seorang wanita yang pantas untuk mati. Aku membencinya. Dia telah menyakiti kepercayaan orang yang kucintai. Wanita ini pelacur. Wanita jalang. Dunia pun tak akan kehilangan kalau sampai dia mati..” orang itu diam sejenak. Kudengar tarikan napas panjangnya sebelum akhirnya dia melanjutkan.

“Besok, pastikan kamu sudah berada di telepon umum Taman Selatan Batas Kota jam enam pagi.”

 

***

Setelah semalaman mencoba tidur dan tidak berhasil, pagi ini aku sudah berada di tempat yang diperintahkan. Kulirik jam tanganku. Tepat pukul enam. Sampai detik ini pun masih ada pertentangan di kepalaku. Sebisa mungkin kutepis keraguan ini. Keselamatan Mira dan Irsyad adalah prioritasku.

Beep beep beep

08112579xx

Calling

“Aku sudah melihatmu. Sekarang ambil bungkusan hitam yang ada di bawah telepon umum.” seseorang itu langsung memberi perintah begitu kuterima panggilannya. Suaranya kudengar melalui earphone di telingaku.

Kuedarkan pandangan ke sekeliling. Mencari tahu wujud seseorang yang sedang berbicara di telepon. Rencananya sempurna. Tak bisa kutemukan dia. Bahkan pemilihan taman ini pun tepat. Sepinya melebihi kuburan.

“Tunggu apa lagi? Ambil bungkusan itu dan ambil isinya!” Aku mengikuti semua perintahnya. Kubuka bungkusan itu. Pistol. Tanganku gemetar. Ini kali pertama aku menggenggam pistol. Kusembunyikan di balik jaketku.

“Sekarang berjalanlah ke arah barat sampai di pohon flamboyan. Kamu akan melihat wanita berbaju putih itu duduk di bangku taman. Tepat pukul tujuh, arahkan pistol itu tepat di kepalanya. Kamu tarik pelatuknya. Tepat pukul tujuh.” Kuikuti semua perintah yang kudengar.

Waktunya hampir tiba. Kupastikan lagi sekelilingku. Semuanya aman. Di depan sana, wanita berbaju putih itu duduk membelakangiku. Kuarahkan pistol ke kepalanya. Berat. Tanganku lemas. Pistol sekecil ini terasa seperti puluhan kilogram di tanganku. Aku berusaha mati-matian untuk membidik sasaranku. Tepat pukul tujuh.

Doorrrr

Wanita itu tersungkur. Aku berlari sekuat tenaga. Tanpa pernah menoleh ke belakang. Dengan napas yang menderu dan detak jantung yang kencang berdetak, kupacu sepeda motorku sejauh mungkin. Aku berhenti begitu sampai di tempat yang kurasa aman. Kuambil telepon genggam di saku. Aku akan menagih janji. Sebuah pesan diterima dari nomor tak dikenal itu, terikirim 06.59.

From: 08112579xx

Sent 06.59

Mas Redha, aku minta maaf. Aku terpaksa melayani napsu bejat bosmu agar utang kita lunas. Aku hina dan tak layak hidup. Jaga Irsyad baik-baik. Aku mencintaimu. MIRA

 

 

cerpen ini saya tulis sekitar 2009 (awal saya menekuni dunia menulis) untuk proyek iseng ebook SKETSA bersama teman-teman OOT Multiply